Beberapa Makna Dalam Ritual Adat Dayak Ngaju

 Artikel Dayak

tumbang anoi ritual potong kerbau - tropenmuseum

Bagi suku Dayak Ngaju antara ritual dan gejala-gejala alam disekitar memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Hal ini terlihat jelas sekali, apabila terjadi ketidakseimbangan alam, maka oleh suku Dayak Ngaju akan dilaksanakan ritual. Masyarakat Dayak Ngaju khususnya yang beragama Hindu Kaharingan sangat kaya dengan upacara-upacara dan ritual-ritual adat yang terus dipelihara turun temurun  dari generasi ke generasi. Berikut adalah beberapa makna istilah yang sering dipakai dalam ritual adat Dayak Ngaju.

  • Agama Helo: Agama jaman dulu, agama kepercayaan nenek moyang Dayak Ngaju sebelum agama Hindu Kaharingan.
  • Amun: jika; kalau
  • Andau:hari
  • Angkat Pahari: menjadikan saudara
  • Atei: hati
  • Baduruh dahae: mengalami keguguran
  • Bahalai: kain panjang
  • Bahasa sangen: bahasa yang digunakan penduduk Dayak Ngaju sebelum menggunakan bahasa Dayak Ngaju
  • Balanga atau tajau: guci
  • Basir: Orang yang memimpin ritual keagamaan dalam agama Kaharingan. Dalam upacara tiwah mereka berfungsi sebagai mediator/pengantara
  • Batuah: beruntung
  • Batu kaja: komponen hukum adat perkawinan; pemberian barang oleh mertua kepada menantu perempuan saat pakaja manantu
  • Belep: padam
  • Belom Bahadat; hidup sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat Dayak Ngaju
  • Behas Hambaruan: beras
  • Bisik kurik: bisikan kecil
  • Bulau Ngandung/Panginan Jandau: biaya pesta untuk jamuan makan dalam acara perkawinan
  • Banama Bulau Pahalendang Tanjung Anjung Rabia Pahalingei Lunuk (bahasa sangiang): sebuah peti mati
  • Bunu habunu: bunuh membunuh.
  • Bukit lampayung Nyahu (Sandon): tempat tulang
  • Bukit Tampung Karuhei: sebuah tempat kumpulan rejeki dan kekayaan
  • Damang: Kepala Adat Dayak
  • Duit kumbang: uang yang diberikan sebagai tanda kesungguhan
  • Duit turus: uang saksi
  • Dulang bawui: tempat makan babi
  • Dumah:datang
  • Entang: kain panjang untuk menggendong bayi.
  • Garantung Kolok Pelek: gong kuningan
  • Haguet: berangkat
  • Hamputan Hila Hatue: keluarga pihak laki-laki.
  • Hamputan Hila Bawi: keluarga pihak perempuan.
  • Handak: mau; ingin
  • Handep: bergotong-royong
  • Hanjenan: sepupu dua kali
  • Hantuen: sejenis drakula, yang menghisap darah manusia yang sakit dan melahirkan, leak (Bali)
  • Hakumbang auh: pembahasan keliling
  • Hakambelom sampai hentang tulang: Hidup bersama sampai maut memisahkan
  • Hetoh: sini
  • Huma: rumah
  • Ikei: kami
  • Jalan hadat: persyaratan adat; ketentuan-ketentuan adat yang harus dipenuhi oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak perempuan
  • Jangkut Amak: separangkat peralatan tidur
  • Jipen: budak
  • Kaharingan: hidup dengan sendirinya secara alami, tanpa dibibit, tanpa ditanam.
  • Kalunen: manusia Kawin suntu:perkawinan yang dijadikan contoh atau teladan.
  • Kawin Hatamput: kawin lari Kawin hisek: perkawinan yang sesuai dengan tatanan adat Dayak Ngaju
  • Kawin Manyakei: kawin menaiki; seorang laki-laki atau wanita datang ke tempat kekasihnya agar bisa dinikahkan.
  • Kayau Mangayau: kebiasaan berburu kepala manusia
  • Keton:kalian
  • Laladang: tenda
  • Lamiang: gelang terbuat dari batu lamiang berwarna merah
  • Lapik Ruji: uang perak sebagai alas kehidupan
  • Lawang Sakepeng: pintu gerbang yang dibuat dari pelepah kelapa yang dihiasi dengan benang bersusun tiga yang diberi bunga.
  • Let Perdamaian Adat: wadah; tempat; forum gabungan para mantir adat baik yang ada di Kecamatan maupun di desa/kelurahan, dalam persidangan-persidangan adat, guna menegakan menyelesaikan suatu perkara.
  • Lewu Tatau: dunia yang penuh dengan kesenangan, kekayaan dan kemakmuran.
  • Luang: juru bicara, kurir
  • Maja misek: bertamu dan menanyakan
  • Mamanggul: meminang
  • Mampendeng: mendirikan
  • Mandai balai sumbang: perkawinan sumbang; perkawinan tulah
  • Mangarangka pambelom: merencanakan kehidupan; mendirikan rumah tangga sendiri.
  • Manggau: mencari
  • Manggetem parei: memetik; menuai padi
  • Mantir Adat: pelaksana hukum adat tingkat Desa/Kelurahan
  • Manugal: menanam padi
  • Manukie: pekikan
  • Manyaki/mamalas: mengoleskan/memercik
  • Mimbul: menanam
  • Ngaju: hulu sungai
  • Pahinje arep: menyatukan diri
  • Pakaian sinde mendeng: satu stel pakaian lengkap
  • Pakaja manantu: upacara menjamu menantu oleh orang tua pihak laki-laki
  • Palaku:permintaan, sehakekat dengan mas kawin, simbol harkat dan martabat wanita.
  • Pambelep: arah matahari terbenam
  • Panganten: pengantin; mempelai
  • Petak: sebidang tanah
  • Pinggan Pananan Pahinjean Kuman: seperangkat alat makan
  • Rahian: belakangan
  • Raja Uju Hakanduang: raja tujuh bersaudara
  • Ramun paisek: barang-barang pertunangan
  • Rapin Tuak:hasil fermentasi beras ketan yang diberi ragi
  • Rewar: budak yang dianggap tidak memiliki nilai sama sekali
  • Sala hurui: salah silsilah; sumbang
  • Sandong: bangunan tempat menyimpan tulang
  • Saput:bingkisan kehormatan untuk saudara laki-laki dari calon mempelai wanita.
  • Singer: denda adat
  • Singer tekap bau mate: denda penutup muka dan mata; penutup malu
  • Tampung Tawar: memercikan air yang diisi bunga segar dan harum, atau bisa juga air diberi bunga dan parfum
  • Tanda Panggul: tanda bahwa wanita itu sudah ada yang meminang;
  • Tapih: kain kurung
  • Tege kikeh: ada rasa takut
  • Timbuk Tangga: timbun tangga, dalam arti bentuk penghargaan atas kerjasama dalam acara perkawinan, diberikan dalam bentuk sebuah piring yang diisi
  • Tiwah: ritual kematian untuk mengantar arwah yang telah meninggal ke Lewu Tataw
  • Turus:tonggak
  • Tutup uwan: tutup uban, berupa kain hitam
  • Utus randah: golongan rendah
  • Uwei: rotan
  • Rabayang: sejenis trisula
  • Barintih : Tanda pada beras hambaruan yang biasanya berupa tanda putih mencolok pada bagian beras hambaruan. Apabila ada tanda tersebut pada behas hambaruan, maka suatu ritual dapat dikatakan berhasil
  • Basir/ Pisur : Imam agama Kaharingan.
  • Behas hambaruan : Terdiri dari tujuh butir beras; sebagai tanda keberhasilan bagi suatu ritual dalam kehidupan suku.
  • Dayak Ngaju; bisa juga sebagai media bagi roh orang yang sakit untuk pulang.
  • Banama Panjang Pahelempei Laut : Kapal berukuran besar.
  • Basuhun Bulau Sarambai Rabia : Sungai emas, pengaliran segala kekayaan. Bisa juga dikatakan alam bawah bagi suku Dayak Ngaju.
  • Batu Nindan Tarung : Tempat tinggal dari Raja Sangen dan sekaligus tempat yang menjadi sumber dari segala kisah kepahlawan.
  • Bukit Pasahan Raung : Tempat peristirahatan sementara, sebelum dilaksanakan ritual Tiwah.
  • Duit singah : Uang penukar didalam pelaksanaan ritual, apabila terdapat kekurangan-kekurangan syarat dalam pelaksanaan ritual. Ketika ritual itu telah berjalan.
  • Danum Kaharingan : Air keluhuran hidup; air yang menghidupkan.
  • Belum Hampatung sadiri : Patung yang digunakan dalam pelaksanaan ritual Nyadiri.
  • Hampatung henda : Patung manusia yang dibuat dari kunyit; dalam pelaksanaan ritual Nyadiri, maka hampatung henda sebagai ganti diri dari orang yang sakit.
  • Hampatung punduk apui : Patung yang dibuat dari sisa pembakaran kayu bakar yang sekaligus menjadi penerang/penuntun untuk sampai ke dunia orang mati.
  • Hariten : Tanda pada beras hambaruan yang biasanya menunjukan tanda cacat. Apabila ada tanda tersebut, maka suatu ritual dapat dinyatakan berhasil.
  • Indang : Panggilan untuk ibu dalam bahasa Dayak Ngaju.
  • Jata/ Bawin Jata Balawang Bulau : Wanita Jata berpintukan permata; ilah perempuan bagi suku Dayak Ngaju yang memiliki sifat feminin dan mendiami alam bawah.
  • Kaharingan : Berasal dari akar kata “haring” yang berarti ada dengan sendirinya. Istilah ini juga dipakai sebagai nama untuk agama asli suku Dayak Ngaju.
  • Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun : Manusia perempuan pertama dalam mitologi penciptaan suku Dayak Ngaju.
  • Kumpang Dohong : Sarung tombak
  • Kutak Itah : Bahasa daerah suku Dayak Ngaju.
  • Layau hambarua : Orang yang tersesat rohnya, karena dibawa oleh roh orang mati atau roh yang lain. Sehingga orang tersebut menjadi sakit.
  • Lewu Tatau Habaras Bulau Habusung Intan Hakaragan Lamiang : Negeri kaya berpasir emas, berhalaman intan, berkerikil batu ahad. Bisa juga dikatakan surga bagi suku Dayak Ngaju.
  • Lasang kilat panangkaje andau : Kendaraan yang kecepatannya seperti kecepatan kilat.
  • Lilis lamiang : Berupa merjan yang biasanya diikatkan pergelangan tangan orang yang melaksanakan ritual; biasanya dikenakan juga pada subjek ritual. Fungsinya untuk menahan roh orang yang melaksanakan ritual dan juga si subjek ritual.
  • Manyemei Tunggul Garing Janjahunan Laut, Sahawung Tangkuran Hariran : Manusia laki-laki pertama.
  • Nyadiri : Ritual ganti diri bagi orang yang sakit atau orang yang kehilangan semangat/rohnya.
  • Nyiru : Alat penampi beras.
  • Palangka Bulau Lembayung Nyahu : Tempat sesajen atau persembahan yang terbuat dari emas. Sebagai sarana bagi Ranying Hatalla untuk menurunkan manusia ke dunia.
  • Pantai Danum : Dunia yang ditempati oleh manusia.
  • Kalunen Pantai Danum Sangiang : Tempat kediaman Raja Sangiang dan turunannya. Dan sekaligus menjadi perantara manusia dengan Tuhan.
  • Papat pamang : Doa dalam pelaksanaan ritual.
  • Patahu : Leluhur suku Dayak Ngaju yang memiliki kesaktian dan kekuasaan dari Ranying Hatalla.
  • Peteng tekang hambaruan : Pengikat bagi roh orang yang melaksanakan ritual; bisa juga dikenakan kepada orang yang menjadi subjek dalam pelaksanaan ritual. Biasanya berupa lilis-lamiang, uang, dan bisa juga emas.
  • Ranying Hatalla Langit, Raja Tuntung Matanandau, Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan : Tuhan bagi suku Dayak Ngaju.
  • Raja Buno : Anak dari manusia laki-laki dan perempuan pertama dalam mitologi suku Dayak Ngaju. Dan sekaligus menjadi nenek moyang manusia suku Dayak Ngaju yang tinggal di alam manusia.
  • Raja Hantuen : Disebut juga “Raja Haramaung Batulang Buno, Balikur Talawang” (Raja Harimau Bertulang Tombak, Bertulang Belakang perisai). Ia dilihat sebagai sumber kerusuhan yang mengganggu dan merusak manusia. Ia menganggu manusia dengan cara menghisap darah manusia.
  • Raja Pali : Roh yang menguasai tata tertib alam semesta, sehingga setiap kali ada pelanggaran adat leluhur yang dilakukan oleh manusia akan dibalas atau dihukum oleh Raja Pali.
  • Raja Peres : Sumber segala macam penyakit.
  • Raja Sangen : Anak dari manusia laki-laki dan perempuan pertama dalam mitologi suku Dayak Ngaju, yang tinggal di Batu Nindan Tarung.
  • Raja Sangiang : Anak dari manusia laki-laki dan perempuan pertama dalam mitologi suku Dayak Ngaju, yang tinggal di Pantai Danum Sangiang.
  • Raja Sial : Disebut juga “Tamang Tarai Bulan, Tambon Panton Garantung” (Tambon, si pemukul bulan tembaga dan pemain gong). Mendatangkan kengerian dan kekejaman, kecelakaan, kerugian dan juga mendatangkan kematian.
  • Raja Untung : Disebut juga “Raja Mandurut Bulau, Kanaruhan Batuang Hintan, Raja Balawang Bulau Kanaruhan” (Raja Pembuat Emas dan Pagar Intan, Pangeran Pencipta Intan, Raja Berpintukan Emas, Berpagarkan Intan). Sumber rejeki, kekayaan dan kemakmuran.
  • Tampung tawar : Penetralisir atau sebagai media penyucian supaya terlepas dari pengaruh-pengaruh jahat.
  • Tanteluh manuk darung Tingang : Nama dalam bahasa sangiang bagi telur ayam. Biasanya berupa telur ayam kampung (non padaging).
  • Tasik Tabenteram Bulau Laut Babandan Intan : Danau kemilau emas, laut berjembatankan intan. Dapat juga dikatakan sebagai alam atas bagi suku Dayak Ngaju.
  • Tatu Kalaya Henda : Penjaga bukit pasahan raung.
  • Tawur/Behas tawur : Beras yang ditaburkan, ketika pelaksanaan ritual dalam kehidupan suku Dayak Ngaju. Serta dipercaya dapat menjadi tujuh perempuan.
  • Tiwah : Ritual dalam kehidupan suku Dayak Ngaju untuk roh orang yang mati sampai menuju surga.

(sumber: repository.library.uksw.edu, Lery Bungas – Makna Ritual “Nyadiri” Bagi Kehidupan Suku Dayak Ngaju, Karolina – Makna Perjanjian Perkawinan Adat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah)


Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply