Kerajaan Kutai Martadipura

 Artikel Dayak

yupa kutai martadipura

Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.


Menurut tulisan dalam prasasti Yupa, pendiri Kerajaan Kutai adalah Maharaja Kudungga yang bergelar Anumerta Dewawarman. Nama Kudungga diduga sebagai nama asli Indonesia. Nama ini belum terpengaruh unsur nama dari kebudayaan luar. Artinya, Maharaja Kudungga saat itu belum memeluk agama Hindu, yang merupakan agama impor pertama yang datang ke Nusantara.

Tak banyak kisah yang diketahui dari kehidupan Kerajaan Kutai di masa Maharaja Kudungga. Ada yang menduga, Maharaja Kudungga saat itu hanya seorang pemimpin komunitas Kutai, bukan raja. Oleh karena itu, sistem pemerintahannya belum terbentuk secara sistematis.

Setelah Kudungga memerintah sampai 375, kendali kerajaan dipegang oleh anaknya bernama Aswawarman. Aswawarman yang memerintah pada 375 sampai dengan 400 disebut-sebut sebagai pembentuk keluarga (wamsakerta). Aswawarman lalu digantikan oleh Mulawarman yang memerintah pada 400-446.

 

Prasasti Kerajaan Kutai
Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para brahman atas kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama hindu sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat islam.

Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana. Dapat diketahui bahwa menurut Buku Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno yang ditulis oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto yang diterbitkan oleh Balai Pustaka halaman 36, transliterasi prasasti diatas adalah sebagai berikut:
“ śrīmatah śrī-narendrasya; kuṇḍuṅgasya mahātmanaḥ; putro śvavarmmo vikhyātah; vaṅśakarttā yathāṅśumān; tasya putrā mahātmānaḥ; trayas traya ivāgnayaḥ; teṣān trayāṇām pravaraḥ; tapo-bala-damānvitaḥ; śrī mūlavarmmā rājendro; yaṣṭvā bahusuvarṇnakam; tasya yajñasya yūpo ‘yam; dvijendrais samprakalpitaḥ.”
Artinya:
“ Sang Mahārāja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aśwawarmman namanya, yang seperti Angśuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aśwawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mūlawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mūlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.”

 

Aswawarman
Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.
Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

 

Mulawarman
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

Prasasti Yupa menulis:
“Sang Raja Sri Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka telah memberikan sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada Brahmana, sedekah itu ditempatkan dalam varakecvare sebagai peringatan atas kebaikan sang raja Sri Mulawarman dibuatlah tugu tiang pemujaan.”
“Sang Raja Mulawarman menaklukan raja-raja di medan perang, mereka harus membayar upeti sebagaimana yang dilakukan oleh raja Yudhisthira di waprwkecwara, ia mendarmakan empat puluh ribu……kemudian tiga puluh ribu. Mulawarman seorang raja saleh meyelengarakan Jiwandana yang berbeda-beda dan penerangan di kotanya……oleh seorang yang alim. Yupa sudah didirikan oleh Brahmana-Brahmana yang datang ke sini dari berbagai daerah.”
“Menyambut raja yang kuat, Mulawarman seorang raja agung dan termashur telah mendarmakan peristiwa ini telah dicatat di tempat yang suci. Mulawarman telah memberikan kepada Brahmana-brahmana hadiah air, minyak, sapi yang berwarna kekuning-kuningan dan biji wijen dan juga sebelas ekor sapi jantan.”
“Karena Bhageratha dilahirkan oleh Raja Segara…….Mulawarman……”
“Dengarkanlah oleh kaum sekalian. Brahmana yang terkemuka dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubung dengan semua kebaikan itulah tugu ini didirikan oleh para brahmana (buat peringatan).”
“Tugu ini ditulis buat (peringatan) dua perkara yang telah disedekahkan oleh sang raja Mulawarman, yakni gunung minyak (kental) dengan lampu serta malai bunga.”

Dari tulisan prasasti itu, dijelaskan bagaimana Mulawarman sangat kuat dan membuat rakyat Kerajaan Kutai Martadipura sejahtera. Minyak disebut-sebut beberapa kali dalam prasasti. Bisa jadi, minyak sudah menjadi komoditi utama yang banyak menghasilkan pemasukan kerajaan saat itu. Konon, minyak tersebut sudah diperjualbelikan dan dikirim ke luar kerajaan. Selain itu, banyak kerajaan takluk di tangan Mulawarman.
Pada masa Mulawarman, banyak sekali upacara agama Hindu yang dijalankan, seperti kurban agatsya (upacara dinasti Hindu), kurban bahuwarnakam (upacara pemberian emas), kurban jivandana (upacara kurban hewan berupa sapi), kurban waprakeswaea (upacara pembangunan candi dan kuil), kurban kalpa (upacara penyerahan tanah dan penanaman pohon), dan kurban bhagrtha (upacara kemakmuran).
Dalam Prasasti Yupa dijelaskan, pada saat Mulawarman memerintah, ada pola hubungan interaksi yang menguntungkan antara raja dan rakyat. Raja, setiap tahun mengadakan upacara sedekah yang dilakukan di tanah lapang. Lalu, raja membagi hadiah berupa emas, tanah, dan hewan ternak untuk brahmana (kaum agama). Sebaliknya, rakyat mengadakan selamatan untuk raja. Mereka mendirikan tugu yang menuliskan kebesaran raja. Ini dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada raja.
Pada masa Mulawarman, rakyat tertib dan teratur. Rakyat mampu beradaptasi dengan budaya luar, dalam hal ini India, namun tetap melestarikan kebudayaan sendiri. Letak Kerajaan Kutai Martadipura yang strategis, menjadikan kerajaan ini salah satu tempat singgah untuk berdagang.Tak banyak diketahui kehidupan raja-raja setelah Mulawarman meninggal dunia.

 

Akhir Pemerintahan
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute).
Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

 

Nama-Nama Raja Kutai Martadipura:

  1.     Maharaja Kudungga, gelar Anumerta Dewawarman (pendiri)
  2.     Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
  3.     Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
  4.     Maharaja Marawijaya Warman
  5.     Maharaja Gajayana Warman
  6.     Maharaja Tungga Warman
  7.     Maharaja Jayanaga Warman
  8.     Maharaja Nalasinga Warman
  9.     Maharaja Nala Parana Tungga
  10.     Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11.     Maharaja Indra Warman Dewa
  12.     Maharaja Sangga Warman Dewa
  13.     Maharaja Candrawarman
  14.     Maharaja Sri Langka Dewa
  15.     Maharaja Guna Parana Dewa
  16.     Maharaja Wijaya Warman
  17.     Maharaja Sri Aji Dewa
  18.     Maharaja Mulia Putera
  19.     Maharaja Nala Pandita
  20.     Maharaja Indra Paruta Dewa
  21.     Maharaja Dharma Setia

 

Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sanskerta. Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.
(sumber: id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply