Kuta Bataguh (Tanjung Pematang Sawang)

 Artikel Dayak

Dayak People

Sejak kapan berdirinya negeri Tanjung  Pematang  Sawang yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kuta Bataguh, Kuta yang mempunyai pagar atau benteng tradisional dari kayu ulin bulat, tidak diketahui dengan pasti.

Setelah pertempuran besar itu para pahlawan suku Dayak lainnya pulang kembali ke desanya masing-masing, Tamanggung Sangalang dan isterinya Nyai Undang memimpin negerinya Kuta Bataguh itu dengan masih menaruh perasaan cemas terhadap serangan lagi.

 

Bukannya masalah tidak berani menghadapinya melainkan karena merasa segan sebab melibatkan dan  merepotkan sanak keluarga lainnya dari pada menyusahkan orang lain mereka lalu menggaibkan diri. Penduduk biasa warga Kuta Bataguh lalu cerai berai pula pindah ke berbagai negeri mencari ketenteraman.

 

Kuta Bataguh ditinggalkan dan hancur dengan sendirinya lapuk di makan masa. Letaknya kini  diperkirakan di desa Pulau Kupang Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas, antara Handel Alai dan handel  Bataguh, yang merupakan areal persawahan penduduk.

 

Sebagian orang memperkirakan bahwa Kuta Bataguh yang terletak pada daerah aliran Sungai Barito dan sungai kapuas serta dekat sungai Kahayan dengan banyak anjir (terusan, kanal) serta ramainya  pelayaran, menjadi lemah sebab tidak mempunyai armada laut yang kuat.

 

Selain itu gangguan keamanan yang melumpuhkan sendi perekonomian berupa serangan bajak laut,  serta mulai berdatangannya bangsa-bangsa Eropah dengan persenjataan lengkap yang berniaga  sekaligus mencari tanah jajahan seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggeris. Tak kurang pula  sebab runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berlaku sebagai pelindung selama ini, serta belum  terjalinnya suatu hubungan yang akrab dengan kerajaan Banjar sebagai tetangga yang berbeda dalam kepercayaan dan tidak ada lagi figur yang berwibawa besar seperti Maharaja Patih Simbar Laut.

 

Kuta Bataguh bagi yang mempercayai merupakan tempat berhajat, karena itu pada tahun 1953 telah di dirikan di tempat itu tujuh buah tiang bendera sebagai peringatan bagi mereka yang mengabaikan diri serta dua buah pasah parapah (pondok kecil tak berdinding untuk menaruh benda yang dikeramatkan) tempat berhajat.

 

Ketika pada bulan Desember 1986 ada yang menemukan benda berharga berupa potongan-potongan  emas, maka pengagalian liarpun ramailah. Mula-mula hanya dilakukan masyarakat sekitar lokasi,  namun tak dapat ditutupi. Akhirnya meluas melibatkan jumlah ribuan orang yang bekerja siang  malam, datang dari luar propinsi terutama Kalimatan Selatan.

 

Benda temuan berupa perhiasan-perhiasan dari emas berkadar antara 16 karat sampai 23 karat,  berbagai macam senjata, manik-manik, batu permata fragmen gerabah dan sisa tiang kuta ataupun  bangunan dari kayu ulin.

 

Karena tidak mempunyai manuskrip yang otentik maka sejarah Kuta Bataguh cukup sulit untuk diungkapkan, cerita yang ada hanya bersumber dari mulut ke mulut serta melalui konfirmasi kebatinan yang sulit untuk dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

 

(sumber: kapuaskab.go.id)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply