Mansana Bandar

 Artikel Dayak

Dayak People

Dalam karungut, tetek tatum, nama Bandar sering disebut-sebut. Untuk menghindari terputusnya  pemahaman akan suatu masa, yaitu zaman Bandar, maka di sini salah satu  judul Mansana Bandar dikutip dengan lengkap, disamping untuk menguatkan pemahaman, diharapkan  Mansana ini mampu memberikan gambaran kepada pembaca situasi dan kehidupan masyarakat di zaman masa itu.

Penjelasan Singkat
Ada  pendapat yang mengatakan bahwa suku bangsa Dayak telah mengalami beberapa zaman yaitu :
1.    Masa penciptaan dengan segala prosesnya.
2.    Zaman Tambun Bungai.
3.    Zaman Dambung Mangkurap – sejaman dengan kekuatan kerajaan Banjar.
4.    Zaman Bandar Tamanggung—Mengenai zaman Bandar, ada dua pendapat: pertama, pada zaman Lewu Uju, dan kedua, pada zaman datangnya Portugis – Belanda ke Bumi Nusantara.
5.    Zaman Rapat Raksasa Tumbang Anoy tahun 1896.
6.    Dan seterusnya.

 

SYAIR PERMULAAN KATA

Bismillah itu permulaan kata
Lalu diambil kertas dan pena
Maksud mengarang satu cerita
Buat penglipur gundah gulana.

Maksud syair saya karangkan
Bukan pandai kutunjukkan
Cerita lama yang memaksakan
Salah dan kurang minta maafkan.

Saya bermaksud akan mengarang
Ilmu di dada sangatlah kurang
Hidup melarat di desa orang
Lagi miskin bukan kepalang.

Cerita ini berasal mula
Dayak Ngaju umpamanya cerita
Kali Kahayan tempat bermula
Hikayat Tamanggung sekali nyata.

Sesungguhnya cerita jika dirasa
Banyak yang ganjil kalau diduga
Akal sehat dapat membayangnya
Teladan yang baik dapat diharga.

Adapun akan cerita ini
Seluruh Dayak tak asing lagi
Cerita banyak corak dan ragi
Kesimpulan juga Tamanggung asli.

Ada karang saya paparkan
Kepada saudara pembaca sekalian
Tempatnya nyata di hulu Kahayan
Bukit Batu terang kelihatan.

Batu Suli nama yang asli
Gunung tinggi hendak menutupi
Sungai Kahayan tegak berdiri
Di situ tempat putera berhenti.

Di puncak bukit nyata kelihatan
Kata yang pernah menaikkan
Di situ ada tempat melihatkan
Akan nasib sial atau bukan.

Adalah lubang di tanah datar
Lubang kecil serta bundar
Dimasukkan kepala biarpun besar
Tiadalah melekat boleh keluar.

Tetapi bagi yang tak berezeki
Biarpun dimasuk berkali-kali
Tiada lulus kepala lagi
Orang hina kalau diarti.

Di atas puncak ada kuburan
Kerabat dari putera cekatan
Waktu sekarang ada kenyataan
Itulah juga sekedar keterangan.

Adapun akan bekasnya negeri
Tidak ada rupanya lagi
Belum diketahui dengan pasti
Sukar didapat tanda-tanda asli.

Bertambah lagi kata cerita
Negeri gaib hilang di mata
Entahlah itu belum tiada
Sebenarnya belum didapat tanda.

Dialih lagi haluan kata
Akan susunan mula cerita
Kuterangkan sebagai yang pertama
Asal dan mula orang kata.

Sampai di sini keterangan di atas
Keterangan itu dianggap jelas
Dengan cerita diganti lekas
Itulah sebagai maksud ikhlas.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply