Mengenai Gelar Adat / Jabatan / Bangsawan Dayak Di Kalimantan

 Artikel Dayak

Tomonggong Ambu Nikodemus

Gelar atau titel ditanah Dayak bukannya tiruan atau ciptaan baru, melainkan dari dahulu kala sudah ada. Dengan adanya beberapa titel seperti Tamanggung, Mangku, Ngabe, Singa, Jaga, Kanduran, Patih, Dambung dan lain-lain adalah berhubungan dengan sejarah adat dan keturunan suku Dayak. Titel atau gelar tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali dikalangan suku Dayak pada zaman dahulu. Didalam sejarah asal usul suku Dayak ada keterangannya mengenal gelar adat atau titel tersebut. Pada zaman dulu gelar hanya diberikan kepada seseorang tokoh Dayak yang mempunyai keberanian, pengaruh, pengetahuan dan kesaktian, yang disegani lawan maupun kawan.(Tjilik Riwut.1979)

 

DEMANG/DAMANG/DAMUNG/DAMBUNG

Gelar Demang/Damang/Damung/Dambung memiliki arti kepala distrik / wedana pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda. Demang sebagai Kepala Adat adalah seseorang yang disegani/ditokohkan/panutan dalam masyarakat juga memiliki peranan yang penting dalam melestarikan adat budaya Suku Dayak, khususnya dalam menerapkan/menegakkan aturan adat di lingkungan masyarakat.

 

TEMENGGUNG/TUMENGGUNG/TAMANGGONG

Tumenggung adalah gelar bagi Kepala Daerah (Distrik) di Jawa dan Kalimantan. Gelar tersebut merupakan gelar yang cukup tinggi (Kepala Adat Besar). Seorang Tumenggung seringkali juga merupakan seorang Kepala Suku (kepala Adat Besar) di wilayahnya yang biasanya merupakan suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdiri kepala adat besar di hilir sungai dan Kepala Adat Besar di hulu sungai.

 

PATIH

Patih adalah jabatan Perdana Menteri pada kerajaan Nusantara kuno. Selanjutnya istilah tersebut menyebar ke beberapa daerah Nusantara.

Di Kerajaan Banjar digunakan pada abad ke-15 berarti Mangkubumi. Beberapa contoh penggunaan gelar Patih di Kalimantan sbb:

  1. Patih Gumantar
  2. Patih Rumbih
  3. Patih Dadar

 

URIA

Uria adalah gelar bangsawan di suku Dayak Maanyan. Contohnya:

  1. Uria Gadung (Putera Raden Panji) 1370-1405
  2. Uria Jannah 1405-1435
  3. Uria Inneh 1435-1480
  4. Uria Lading 1480-1515
  5. Uria Gamarak 1514-1550

 

Tambahan:

Pada era sekarang pemberian gelar adat Dayak itu tidak boleh sembarang gelar diberikan, karena gelar itu ada yang namanya gelar kehormatan dan adanya gelar tersebut sangat sakral. Untuk gelar kehormatan diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa dan lain-lain. Tidak gampang memberikan gelar adat kepada seseorang, sebelum memberikan gelar ke seseorang harus melihat apa kontribusi, kepentingan dan loyalitasnya bagi masyarakat Adat Dayak dan apakah asal-usulnya orang Dayak? Setelah itu baru di pertimbangkan untuk memberikan gelar adat/kehormatan. Jangan sampai gelar adat diberikan kepada pihak-pihak luar yang dinilai tidak memberikan kontribusi apapun kepada masyarakat adat Dayak (Areq Lung: Pemberian Gelar Adat Dayak Disoal).

Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah, Sabran Achmad meminta semua pihak terkait agar menegakkan Perda No.16 Tahun 2008 tentang Lembaga Adat Dayak. Menurut ketentuan Perda No.16 Tahun 2008, yang memberi gelar kepada tokoh-tokoh tertentu adalah Damang Kepala Adat yang ada disetiap ibukota kecamatan. Dalam hal ini Damang memberi gelar kepada seseorang atas persetujuan dan penilaian dari Dewan Adat Dayak. Yang bisa diberi gelar adat adalah orang yang berjasa membangun daerah, bukan orang yang baru datang dan tidak punya jasa di daerah, dia harus benar-benar menjunjung tinggi masyarakat adat Dayak itu dan membangun sesuai ketentuan yang berlaku (Sabran Achmad: Dewan Adat Dayak Minta Lembaga Adat Ditegakkan).


Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply