Perjanjian Dayak Tumbang Anoi 1894

 Artikel Dayak

COLLECTIE TROPENMUSEUM - Kepala Suku Dayak Toembanganoi

Satu-satunya Kepala Suku yang mengajukan diri untuk menjadi Tuan Rumah Pertemuan Akbar itu adalah Damang Batu, yaitu Kepala Suku Dayak Ot Danum di Tumbang Anoi.  Terpilihnya Damang Batu karena semua yang hadir, juga tahu bahwa Damang Batu memiliki wawasan yang luas tentang adat-istiadat Suku Dayak di Kalimantan pada waktu itu Damang Batu juga Menyanggupi untuk menjadi Tuan Rumah sekaligus Menanggung Biaya Pertemuan yang direncanakan kurang lebih selama 3 bulan.  Ketika itu Damang Batu sudah berumur 73 tahun tapi masih kelihatan sehat, Perawakan Tinggi dan agak Kurus.

Untuk mempersatukan wilayah borneo, maka pada tahun 1894, atas prakarsa Damang Batu, dari desa Tumbang Anoi di Kalimantan Tengah mengumpulkan semua orang yang memiliki gelar tamanggung, damang, dambung, dohong se-Borneo, dalam perjanjian Tumbang Anoi. Perjanjian Tumbang Anoi sendiri dimulai dengan pertemuan pendahulu yang disebut dengan Pertemuan Kuala Kapuas, pada tanggal 14 Juni 1893.

Dalam pertemuan tersebut membahas beberapa hal sebagai persiapan untuk melakukan pertemuan yang lebih besar, diantaranya adalah :

1.  Memilih siapa yang berani dan sanggup menjadi ketua dan sekaligus sebagai tuan rumah untuk menghentikan 3 H (Hakayau=Saling mengayau, Hopunu=saling membunuh, dan Hatetek=Saling memotong kepala musuhnya).

2.  Merencanakan di mana tempat perdamaian itu.

3.  Kapan pelaksanaan perdamaian itu.

4.  Berapa lama sidang damai itu bisa dilaksanakan.

 

Damang Batu saat itu menyanggupi untuk menjadi tuan rumah sekaligus menanggung biaya pertemuan yang direncanakan berlangsung selama 3 bulan tersebut. Karena semua yang hadir juga tahu bahwa Damang Batu memiliki wawasan yang luas tentang adat-istiadat yang ada di Kalimantan pada waktu itu, maka akhirnya semua yang hadir setuju.

Lalu disepakati bahwa:

1. Pertemuan damai akan dilaksanakan di Lewu (kampung) Tumbang Anoi, yaitu di Betang tempat tinggalnya Damang Batu.

2. Diberikan waktu 6 bulan bagi Damang Batu untuk mempersiapkan acara.

3. Pertemuan itu akan berlangsung selama tiga bulan lamanya.

4. Undangan disampaikan melalui tokoh/kepala suku masing-masing daerah secara lisan sejak bubarnya rapat di Tumbang Kapuas.

5. Utusan yang akan menghadiri pertemuan damai itu haruslah tokoh atau kepala suku yang betul-betul menguasai adat-istiadat di daerahnya masing-masing.

6. Pertemuan Damai itu akan di mulai tepat pada tanggal 1 Januari 1894 dan akan berakhir pada tanggal 30 Maret 1894.

betang damang batu   COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Groepsportret_in_Toembanganoi

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply