Susunan Dan Tingkatan Masyarakat Dayak Pada Masa Lampau

 Artikel Dayak

Dayak People

Keberagaman subsuku, bahasa dan strata sosial masyarakat Dayak di Kalimantan cukup terkenal bagi kalangan peneliti/pengamat. Pengetahuan yang diturunkan oleh leluhur mengajarkan bahwa secara umum, stratifikasi masyarakat tradisional Dayak terbagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan merdeka dan budak. Pembedaan keduanya didasarkan pada asal mula keturunan.

 

Menurut pengetahuan yang diturunkan dari leluhur, semua golongan masyarakat Dayak sebenarnya adalah kaum merdeka. Munculnya golongan budak disebabkan oleh prilaku kepala suku sendiri yang seakan membedakan strata sosial. Namun diakhir abad ke 19 ketika pengaruh Belanda masuk semakin luas ke pedalaman Kalimantan, kaum budak secara resmi telah dihapuskan. (melayuonline)

 

Pada masa lampau masyarakat Dayak Ngaju memiliki susunan dan tingkatan strata sosial dalam masyarakatnya yaitu:

  1. Kepala Kampung, yang dimasa kolonial tugasnya hanya melaksanakan perintah pegawai kolonial, dengan tugas utama menarik pajak dan mendayung perahu bagi para pegawai kolonial, apabila mengunjungi kampung lain, mengakibatkan terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Ada kaum bangsawan dan ada orang-orang pantan.
  2. Orang-orang Pantan, adalah penduduk asli yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari diusahakan sendiri. Kewajiban mereka mematuhi perintah pimpinan, serta wajib menyediakan tenaga sukarela apabila dibutuhkan pimpinan. Disini jelas nasib mereka banyak tergantung kepada kepribadian pimpinan mereka.
  3. Orang-orang Merdeka adalah keluarga jauh para Kepala Kampung. Mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun tetap harus menyediakan tenaga secara sukarela apabila dibutuhkan oleh pimpinan demi kepentingan umum.
  4. Orang-orang Jipen, adalah golongan budak. Para Jipen sama sekali tidak memiliki harta benda, seluruh kebutuhan hidupnya disediakan oleh majikannya. Para Kepala Kampung, orang-orang merdeka, orang-orang pantan diizinkan mempunyai jipen. Jipen berasal dari orang-orang yang kalah perang dan tak sanggup melunasi hutang-hutangnya. Apabila para jipen telah sanggup melunasi utangnya, maka kemerdekaan akan mereka peroleh. Akan tetapi bila hingga akhir hayat utang belum mampu mereka lunasi, maka anak keturunannya akan tetap menjadi jipen, yang biasa disebut “utus jipen”, sampai utang yang ada dilunasi.
  5. Orang-orang Abdi adalah orang-orang yang dibeli.
  6. Orang-orang Tangkapan atau Tawanan.
  7. Orang-orang Tamuei atau Orang Asing, mereka bukan penduduk asli.

 

Dalam masyarakat Dayak Kayaan, ada tiga tingkatan strata sosial. Hipi, bangsawan atau setingkat raja. Panyin, orang bisa. Dan, Diivan atau budak. Strata sosial ini, punya kemiripan dengan Dayak Taman, Lau’, dan Tamambalo. Namun, dalam perkembangannya, strata Diivan, sudah ditiadakan. (muhlissuhaeri.blogspot.com)

 

Sebagaimana lazim terdapat pada masyarakat adat, demikian juga pada masyarakat Dayak terdapat pula stratifikasi sosial yang juga mengungkap adanya sistem politik, ekonomi dan budaya. Lazimnya stratifikasi sosial itu terdiri dari tiga lapisan, pada suku Dayak Benuaq disebut Mantiq-Merentikaq dan Ripatn, sedangkan pada suku Dayak Bahau disebut Hipui-Panyin dan Dipan. Menurut penelitian Victor T. King, stratifikasi sosial itu juga mengungkap tentang penguasaan sumber daya pada masyarakat Dayak, seperti hak atas tanah dan kekayaan bendawi serta kekuasaan. (sosbud.kompasiana.com)

(sumber: buku maneser panatau tatu hiang)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

One Response

Leave a Reply