Tarian Kinyah Mandau

 Artikel Dayak

Terlepas dari berbagai macam alasan setiap sub suku memburu kepala manusia, setiap laki-laki Dayak pada zaman dahulu haru menguasai teknik yang akan digunakan didalam perburuannya. Teknik ini yang disebut Kinyah. Tidak diketahui asal muasal kinyah ini, mungkin sama tuanya dengan keberadaan suku Dayak sendiri. Kinyah zaman dahulu jarang ditunjukan kepada orang luar, karena pada zaman dahulu gerakan kinyah ini dijaga dan merupakan jurus rahasia setiap sub suku dayak, makanya setiap kampong / sub suku dayak akan memiliki variasi dalam gerakan kinyahnya. Mengjarkan kinyah kepada suku lain akan dianggap penghiantan dan akan diberi hukuman mati.

 

Ketika terjadi perjanjian damai Tumbang Anoi, dimana setiap pemimpin sub suku dayak bertemu dan melakukan perdamaian, maka mereka membawa setiap senjata pusaka mereka dan menunjukan gerakan kinyahnya masig-masing dan pusaka/senjata mereka ini dletakan pada sebuah meja agar setiap sub suku dayak yang hadir dapat melihatnya- sejak saat itu sekat rahasia, curiga antara sub suku dayak diruntuhkan. Ketika perjanjian damai ini, Sub suku Oot Danum yang membawakan gerakan kinyahnyah. Karena Sub suku Oot Danum yang terkenal akan gerakan dan teknik berbahaya untuk membunuh musuh-musuhnya.

 

Senjata yang digunakan untuk kinyah yang pertama adalah “sipet” / sumpit yang dilengkapi dengan “damek” / anak sumpit yang telah diberi “ipu” / racun. Tetapi pilihan yang sering digunakan ialah senjata parang yang dikenal dengan Mandau.

 

Mandau-mandau yang digunakan seringkali adalah Mandau yang sudah berusia ratusan tahun dan telah diturunkan dari generasi ke generasi dan dianggap sebagai suatu benda yang sacral. Para pengayau zaman dahulu percaya bahwa “kekuatan” mereka terletak pada Mandau itu sendiri, karena sering Mandau ini deberi “isian” atau “gana” dalam bahasa dayak ngajunya. Untuk membuat Mandau yang ada isiannya ini tentu ada ritual khusus biasanya harus dilengkapi dengan darah dan beras. Dipercaya juga jika Mandau itu pernah membunuh orang maka kekuatan pada Mandau itu akan semakin kuat. Kadang juga pada rumpun dayak Ngaju / Oot danum, pada Mandau biasanya akan digantungkan “onggoh” atau “penyang” semacam jimat-jimat yang terdiri dari tulang, taring, cangkang, kayu-kayuan dan beberapa minyak. Yang saya ketahui adalah minyak “Taguh” / minyak kebal dan minyak “garak” / minyak untuk membuat gerakan mandaunya semakin gesit.

 

Pada beberapa sarung Mandau akan diberi hiasan koin tua belanda yang menunjukan jumlah kepala yang sudah dipotongnya. Beberapa juga menandai dengan hilangnya jumlah tatahan kuningan bulat pada bilah Mandau, ada juga yang menandai dengan garis pada bilah dekat hulu Mandau.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply