Tarian Kinyah Mandau

 Artikel Dayak

Ketika kinyah pertama kali dipertunjukan dalam perjanjian damai Tumbang Anoi. Sub suku dayak yang pertama kali meminjam gerakan ini adalah Dayak Bahau di sekitaran sungai Mahakam, yang kemudian menyebar ke sub Dayak Oot Tahawung di sekitar sungai Kahayan dan Katingan. Saat ini kinyah hanya digunakan untuk ritual tidak lagi sebagai persiapan perang memburu kepala.

 

Berbeda dengan jenis bela diri lain yang dikenal di seluruh dunia, Kinyah bukan dibuat untuk membela diri seperti “Kuntau Bangkui”. Tidak ada istilah menghindar, lari, mundur dsb. Kinyah memang didesign sebagai suatu gerakan aggressive untuk membunuh lawannya.

 

Kinyah biasanya diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya. Menurut tradisi Dayak zaman dahulu, anak laki-laki berusia 10 tahun harus bisa mempraktekan gerakan Kinyah ini sebagai persiapan menuju transisi kedewasaan. Biasanya anak-anak ini akan dihiasi muka dan badannya dengan arang dengan berbagai simbo untuk persiapan perang, salah satunya ialah “Lampak lampinak” / lambing penolak bala berbentuk salib dan tattoo “bulan” di betis kakinya.

 

Untuk mengawali ritual kinyah, biasanya seekor babi akan dikorbankan dan darahnya akan dipercikan pada “hampatung” / patung yang ditaru pada sebuah rumah kecil, perlambangan roh nenek moyang. Sambil diiringi dengan music “kecapi dayak”, gong dan “karundeng” / suling. Tidak ada gerakan membungkuk atau berjabat tangan antara dua penari kinyah, justru dengan gerakan mengancam sambil mebuka Mandau dari sarungnya. Para penari ini mencoba saling mendekat dengan posisi berjongkok sambil mengangkat Mandau dan kepala menghadap kebawah dan mulai saling mengitari satu sama lain. Dengan tiba-tiba salah satu lawan menyerang lawannya dengan mengangkat Mandau lebih tinggi dari kepala, bersiap untuk memenggal dengan satu tebasan, kemudian lawa akan mengambil posisi merunduk menghindari fatal contact.

 

Tidak seperti bela diri lain seperti Karate, pencak silat, tae kwon do yang memiliki metode pertahanan diri, Kinyah seperti tidak punya metode terencana untuk bertahan kecuali secepatnya pergi ketika Mandau tiba hendak menebas karena satu-satunya tujuan Kinyah adalah memenggal kepala musuhnya.

 

Saat ini Kinyah semakin punah dan pudar karena generasi muda mulai sudah tidak tertarik dengan kebudayaan leluhurnya, tidak ada lagi generasi yang memiliki tattoo di betis kakinya. Kinyah Mandau harus kita lestarikan, bukan lagi sebagai cara untuk memenggal kepala musuh tetapi sebagai bentuk “martial art” asli Dayak.

 

(sumber: folksofdayak.wordpress.com)

 

 

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply