Upacara Kematian Dalam Suku Dayak Ngaju

 Artikel Dayak

Cara Merawat Jenazah Menjelang Penguburan

Arah meletakkan jenazah untuk laki-laki dan perempuan berbeda. Jenazah seorang laki-laki, kepala diletakkan arah selatan, untuk perempuan, kepala diletakkan arah utara.
Setelah dimandikan oleh petugas yang telah ditentukan, lalu dikenakan pakaian. Setelah itu dibungkus dengan tujuh lapis kain, pada tangan kiri diletakan telur atau daun sawang, dan tangan kanan pinang muda atau pinang tua. Pada bagian mata, ditutupi tujuh lembar potongan kain, dan di atas potongan kain pada lapis teratas, diletakan batu atau uang putih. Pada lubang telinga dan lubang hidung, diberi penutup, lalu pada bagian ulu hati diletakan sasari atau mangkuk kecil. Kemudian dengan lawai atau benang lembut, jenazah diikat dari kepala hingga kaki. Ujung benang pengikat kaki, pada satu kaki  diikatkan  sepotong perak atau besi, dan kaki satunya lagi diikatkan sirih pinang dan rokok. Disamping kepala dan kaki diletakan mangkuk dan piring kecil.

Setelah semuanya siap, seorang perempuan yang telah ditentukan akan duduk di samping jenazah dan tangannya memegang daun sawang. Maksudnya menjaga jangan sampai jenazah dihinggapi lalat. Larangan yang harus ditaati oleh perempuan yang bertugas duduk disebelah jenazah, adalah pantang makan nasi. Ia hanya boleh makan sayur mayur selama menunggui jenazah.

Jenis peti mati ditentukan oleh ahli waris dan dibuat bersama-sama, gotong royong warga kampung. Setelah peti mati selesai dibuat, diletakan di sebelah jenazah menunggu sampai saatnya  jenazah dimasukan ke dalam peti mati. Barang-barang yang dimilikinya selama hidup, diletakan di kiri kanannya. Barang-barang yang diletakan di sebelah kiri, yang antara lain pakaian, mandau, tombak, besei atau pengayuh, diletakan disebelah kiri, karena nantinya akan dibawa ke liang kubur untuk kemudian dibawa lagi ke Lewu Liau atau surga apabila upacara Tiwah telah dilaksanakan. Barang-barang yang diletakan di sebelah kanan, tidak dibawa ke liang kubur karena akan ditinggalkan sebagai warisan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sebelum jenazah dimasukan ke dalam peti jenazah, terlebih dahulu ahli waris menyediakan :
1).    Beras satu mangkuk.
2).    Garam satu mangkuk
3).    patung dua buah. Yang sebuah terbuat dari batang pisang dan yang sebuah lagi terbuat dari bambu telang.

Apabila jenazah telah diletakkan di dalam peti mati dan ditaburi beras dan garam yang telah disediakan, kemudian seorang pisur atau petugas pelaksana upacara adat, melaksanakan tugasnya memanggil hambaruan atau semangat yang dimiliki oleh siapapun yang hadir dalam rumah duka. Lalu semua yang hadir meludahi kedua patung yang telah disediakan agar segala sial dan niat jahat siapapun yang hadir tidak terbawa oleh si mati, demikian pula segala sial dan malapetaka dari si mati jangan mengganggu yang masih hidup. Segala sial  dan malapetaka, hanya akan dibawa dan ditanggung oleh kedua patung tersebut. Setelah upacara meludahi patung selesai, barulah barang-barang yang akan dibawa ke liang kubur, dimasukan ke dalam peti mati, baru kemudian peti mati dipasak atau dipaku.

Ketika jenazah telah dikebumikan, pada hari itu juga, di rumah duka disediakan dua buah ancak atau palangka atau tempat sesajen  yang telah dilengkapi dengan sajen  berupa makanan- makanan tertentu, lalu ancak tersebut  digantungkan.  Kedua sajen tersebut ditujukan kepada :
1).    Roh baik yang telah mengusahakan segala sesuatunya hingga berjalan lancar tanpa halangan, maksudnya sebagai ungkapan terima kasih.
2).    Ditujukan kepada Roh jahat agar tidak mengacaukan suasana dan jangan mengganggu ahli waris dan keluarga yang sedang dalam keadaan berduka.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply