Upacara Tiwah Dayak Ngaju (Bag. 1)

 Artikel Dayak

2.    Jenis dan Nama Peti Mati :
a.    Runi  yaitu jenis peti mati yang terbuat dari batang kayu bulat, bagian tengahnya dibuat berongga/diberi lubang dan ukuran lubang tengah  disesuaikan dengan ukuran salumpuk bereng yang akan diletakkan  di situ.
b.    Raung yaitu peti mati terbuat dari kayu bulat, seperti peti mati pada umumnya, ada tutup peti  pada bagian atas.
c.    Kakurung, yaitu jenis peti mati pada umumnya terbuat dari papan persegi empat panjang, dengan tutup dibagian atas.
d.    Kakiring, peti mati berbentuk dulang tempat makanan babi,  kakinya berbentuk tiang panjang ukuran satu depa.
e.    Sandung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan  empat tiang.
f.    Sandung Raung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan enam tiang.
g.    Sandung Tulang, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan satu tiang.
h.    Sandung Rahung, umumnya digunakan oleh mereka yang mati terbunuh. Sandung Rahung juga disebut Balai Telun karena Rawing Tempun Telun akan memberikan balasan kepada si pembunuh.
i.    Tambak, di kubur di dalam tanah bentuknya persegi empat.
j.    Pambak, juga dikubur dalam tanah, namun bentuknya sedikit berbeda dengan Tambak.
k.    Jiwab,  bentuknya menyerupai sandung namun tanpa tiang.
l.    Sandung Dulang, tempat menyimpan abu jenazah.
m.    Sandung Naung, tempat menyimpan tulang belulang.
n.    Ambatan, patung-patung yang terbuat dari kayu dan diletakan disekitar sandung.
o.    Sapundu, patung terbuat dari kayu berukuran besar dan diletakan di depan rumah.
p.    Sandaran Sangkalan Tabalien yaitu patung besar jalan ke langit.
q.    Pantar Tabalien yaitu Pantar kayu jalan ke lewu liau.
r.    Sandung Balanga, yaitu belanga tempat menyimpan abu jenazah.

Upacara Tiwah adalah upacara sakral terbesar yang beresiko tinggi, maka pelaksanaan dan persiapan segala sesuatunya harus dilakukan dengan benar-benar cermat, karena kalau terjadi kekeliruan atau pelaksanaan tidak sempurna, para ahli waris yang ditinggalkan akan menanggung beban berat, diantaranya :

1).    Pali akan pambelum itah harian .
2).    Tau pamparesen itah limbah gawie toh .
3).    Indu kakicas, pambelum itah harian andau .

Banyak persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya  harus tersedia hewan korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, bahkan di masa yang telah lalu persyaratan yang tersedia masih dilengkapi lagi dengan kepala manusia. Makna  persembahan  kepala manusia ialah ungkapan rasa hormat dan bakti para ahli waris kepada salumpuk liau yang siap diantar ke Lewu Liau. Mereka  yakin bahwa kelak di kemudian hari apabila salumpuk liau telah mencapai tempat yang dituju yaitu Lewu Liau, maka sejumlah kepala yang dipersembahkan, sejumlah itu pula pelayan yang dimilikinya kelak.  Mereka yang terpilih dan kepala mereka yang telah dipersembahkan dalam upacara sakral tersebut,  secara otomatis Salumpuk liau-nya akan masuk Lewu Liau tanpa harus di-tiwah-kan walau keberadaan mereka di Lewu Liau hanya sebagai pelayan. Namun di masa kini  hal tersebut telah tidak berlaku lagi. Kepala manusia digantikan oleh kepala kerbau atau kepala sapi.

(Source: buku Maneser Panatau Tatu Hiang)


Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply