Menelusuri Jejak Sejarah Kuala Kapuas

 Artikel Dayak
Raden Kerta Sari kepala suku Nanga Sasak di Benteng Koela Kapoeas 1898

Raden Kerta Sari kepala suku Nanga Sasak di Benteng Koela Kapoeas 1898

Kota Kuala Kapuas dibangun jauh sebelum adanya Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah (Palangka Raya). Kabupaten Kapuas adalah salah satu dari kabupaten otonom eks daerah Dayak Besar dan Swapraja Kotawaringin yang termasuk dalam wilayah Karesidenan Kalimantan Selatan. Suku Dayak Ngaju merupakan penduduk asli Kabupaten Kapuas.

 

Menurut penuturan pusaka “Tetek Tatum”, nenek moyang suku Dayak Ngaju pada mulanya bermukim di sekitar Pegunungan Schwaner di Sentral Kalimantan. Barulah pada perkembangan berikutnya suku Dayak Ngaju bermukim dan menyebar di sepanjang tepi Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan.

 

Pada abad ke-16 dalam naskah Negarakertagama yang ditulis oleh pujangga Empu Prapanca dari Majapahit, menyebutkan adanya pemukiman. Daerah Biaju (Ngaju) pernah dikendalikan oleh suatu pemerintahan di daerah delta Sungai Kahayan dan Kapuas yaitu pemerintahan Kuta Bataguh yang dipimpin oleh Nyai Undang. Berdasarkan temuan dari sekitar penggalian Kuta Batagoh itu sendiri terletak di dekat muara Sungai Murong. Serta pengamatan Schwaner dari daerah terusan padat penduduk (terjepit di antara Kahayan dan Sungai Murong) menunjukkan daerah barat sungai Barito rendah dihuni oleh populasi Dayak Ngaju. Politis dan budaya orang Ngaju bersaing dengan orang Banjar. Sebuah perubahan mendasar dalam keseimbangan kekuasaan komersial dan politik untuk kepentingan Banjar terjadi hanya setelah pembentukan intervensi kolonial Belanda di sekitar pertengahan abad 19.

 

Setelah berakhirnya pemerintahan Kuta Bataguh, kemudian dalam naskah hikayat Banjar, berita Tionghoa pada masa Dinasti Ming dan piagam-piagam perjanjian antara Sultan Banjarmasin dengan pemerintah Belanda pada babat ke-19 memuat berita adanya pemukiman sepanjang Sungai Kapuas Murung yang disebut pemukiman Lewu Juking. Kepala suku yang terkenal dari Lewu Juking bernama Raden Labih. Pada tahun 1800an banyak penduduk pindah tempat tinggal dari Lewu Juking mencari tempat yang jauh lebih aman dari berbagai gangguan serangan dari laut.

 

Akibat perpindahan penduduk Lewu Juking dan sekitarnya, maka sepanjang arah Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung bermunculan pemukiman-pemukiman baru, seperti di tepi Sungai Kapuas Murung muncul pemukiman Palingkau yang dipimpin oleh Dambung Tuan, pemukiman Sungai Handiwung dipimpin oleh Dambung Dayu, pemukiman Sungai Apui (seberang Palingkau) dipimpin oleh Raden Labih yang kemudian digantikan oleh putranya Tamanggung Ambu. Sedangkan ditepi Sungai Kapuas terdapat pemukiman baru, seperti Sungai Basarang dipimpin oleh Panglima Tengko, Sungai Bapalas oleh Panglima Uyek dan Sungai Kanamit dipimpin oleh Petinggi sutil.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply