Menelusuri Jejak Sejarah Kuala Kapuas

 Artikel Dayak

Pemukiman Betang di Sungei Pasah, merupakan satu-satunya bukti sejarah di Kota Kuala Kapuas yang masih ada. Tahun 1806 dijadikan sebagai tonggak sejarah berdirinya Kota Kuala Kapuas. Pada bulan Oktober 1835, 29 tahun setelah pemukiman betang dibangun, Belanda datang menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di bumi Kapuas, dipimpin oleh Zacharias Hartman, seorang pegawai Binnenlandsch Bestuur (Pangrehpraja). Ia mulai melakukan perjalanan kerja dengan perahu dayung menjelajah Sungai Kapuas Murung dan Sungai Kapuas sampai Jangkang dengan ditemani penunjuk jalan.

 

 

Perang Banjarmasin yang terjadi pada 1859 – 1863 mengakibatkan hancurnya Palingkai yang dianggap oleh Belanda sebagai sarang pemberontak. Pada tanggal 16 Juni 1859 pasukan Belanda dibawah pimpinan Kapten Marinir Van Hasselt dengan menggunakan dua buah kapal perang menyerang dan membumihanguskan Palingkai. Perang Banjarmasin berakhir tahun 1863, Kerajaan Banjar dihapus dan digabungkan ke dalam Gubernemen Hindia Belanda. Perang berlanjut dengan Perang Barito (1865-1905), perlawanan bersenjata di sekitar Kuala Kapuas (1859-1860), Perang Tewah (1885-1886) yang meletus di kawasan Kahayan Hulu.

 

 

Dalam rangka mengawasi lalu lintas perairan di kawasan Kapuas, pada bulan Pebruari 1860 Belanda membangun benteng (fort) di Ujung Murung (sekitar rumah jabatan Bupati Kapuas sekarang), tempat tersebut dinamakan Kuala Kapuas. Nama Kuala Kapuas diambil dari bahasa Dayak Ngaju, bahasa yang digunakan penduduk setempat yang menyebut daerah itu sebagai Tumbang Kapuas. Belanda mengangkat seorang pejabat di daerah ini dalam pangkat Gezaghebber (Pemangku Kuasa) yang bernama Broers merangkap sebagai Komandan Benteng. Temanggung Nikodemus Ambu atau Temanggung Nikodemus Jayanegara dari sei Apui (Palingkau) ditunjuk sebagai Kepala Distrik. Bulan Maret 1863 Temanggung Nikodemus Jayanegara membangun Betang di Hampatung.

 

 

Sementara itu perkampungan di seberang, yakni di kampung Hampatung yang menjadi tempat kediaman kepala distrik, yang pada saat itu bertempat di sekitar Sungai Pasah, sejak terbukanya terusan Anjir (kanal) Serapat tahun 1861 berangsur-angsur berubah dari pemukiman rumah adat Betang menjadi perkampungan perumahan biasa. Selanjutnya bertambah lagi Stasi Zending di Barimba pada tahun 1868, disusul munculnya perkampungan orang Cina di antara kampung Hampatung dan Barimba serta terbentuknya perkampungan dengan nama kampung Mambulau di sekitar kampung Hampatung.

 

 

Kekuasaan Belanda di Kalimantan telah mantap pada tahun 1946. Daerah Kapuas dimekarkan membentuk Onderdistrik Kapuas Hilir beribukota Kuala Kapuas, Onderdistrik Kapuas Barat beribukota Mandomai, Onderdistrik Kapuas Tengah beribukota Pujon, Onderdistrik Kahayan Tengah beribukota Pahandut, Onderdistrik Kahayan Hilir beribukota Pulang Pisau dan Onderdistrik Kahayan Hulu beribukota Tewah.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply