Sejarah Dayak Kenyah Dari Dataran Apokayan

 Artikel Dayak

 

kenyah dance copy

 

Dalam perkembangannya, Klan ini terbagi menjadi 30 subsuku, yang memiliki nama tersendiri dan masing-masing memiliki kepala adat. Tak jelas, sejak kapan terjadi perpecahan dalam Klan besar ini. Namun, mengapa sampai terjadi perpecahan, itu hanya dapat diterangkan dengan “kata Sahibul Hikayat”.

 

Alkisah, Batang Laing salah seorang kepala suku menugaskan delapan warganya, empat lelaki dan empat wanita, untuk membuat Yunan (alat peras tebu). Yunan adalah syarat meminta restu kepada Dewa Peselong Loan. “Tum ta mita tan ya leka – Tolonglah kami mencari tanah subur.” Seorang dukun yang memimpin upacara kesurupan, sembari berkata, “A Untana ya suk tana Lurah Tana ya leka ya bileng – Ada tanah yang subur dan luas di lembah lurah yang jauh.”

 

Nah, petunjuk untuk menemukan “tanah perjanjian” itulah yang memunculkan perbedaan pendapa. Klan besar Kayak Kenyah mengalami pemencaran, sesuai dengan penafsiran masing-masing tentang letak tanah dimaksud, sampai kemudian membentuk kelompok menjadi 30 subsuku. Meski tempat tinggal antar – subsuku ini berpisah, tetap berada dilembah yang sama. Yaitu, membujur sepanjang Apo Kayan – Dataran Tinggi Kayan.

 

Masing-masing subsuku mempunyai “swing-awing” (keputusan adat tersendiri). Kecuali itu, setiap subsuku memiliki otonomi atas wilayah kerja tersendiri – misalnya atas daerah perburuan, ladang, sebagai hak ulayat masing-masing. Sebelum dataran Apo Kayan dimasuki misionaris, perbedaan antar-subsuku justru memunculkan pertentangan tajam yang berakibat buruk. Misalnya, hanya untuk mempertahankan ego subsuku, mereka tak segan-segan untuk mengayau (memenggal kepala) warga subsuku lain.

 

Seiring dengan masuknya misionaris, adat jelek itu mulai hilang. Selain itu, juga karena kejenuhan mereka sendiri atas tingkah laku peperangan yang sadis dan melelahkan. Adalah peserang, kepala subsuku Umaq Tau, yang memprakarsai pertemuan antar subsuku. Ketika itu, diharuskan mengangkat sumpah bersama, yaitu sumpah Petutung yang dipimpin langsung oleh Peserang. Upacara dilangsungkan pagi hari, sembari minum air taring harimau dan babi, semua kepala suku menyatakan tobat. Maksudnya, “Kalau ada yang melanggar, hati, mata dan isi perutnya, akan dimakan harimau dan babi, “ujar Pue Pare, kepala adat Long Temuyat.

 

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply