Sejarah Dayak Kenyah Dari Dataran Apokayan

 Artikel Dayak

 

Sejak itulah, warna kehidupan di Apo Kayan mulai bergeser. Peradaban mereka mulai jinak, dan mau diatur. Mereka mulai diliputi impian-impian akan perubahan gaya hidup. Tahun 1960-an, gelombang besar itu benar-benar terjadi. Sebagian penduduk keluar dari Dataran Apo kayan, menuju daerah baru yang relative dekat dan mudah dijangkau dari kota. “saya putuskan berpisah. Kita harus mencari kehidupan baru, “ujar Pelibut, kepala adat Kayak Kenyah Umaq, di Muara Wahau. Sepanjang sejarah eksodus suku Dayak Kenyah, adalah Pelibut yang banyak diikuti pengikut.

 

Upaya Pelibut dan teman-teman, sebenarnya, ditentang oleh kepala suku lain. Harapan mereka, Apo Kayan tak perlu ditinggalkan. Tetapi apa yang mesti dipertahankan?” Kehidupan sehari-hari di Apo Kayan susah. Garam saja sulit didapat.” kata Pelibut. Maka, ketika hari belum terang, rombongan Pelibut yang meliputi anak dan istri serta harta benda hijrah diam-diam, keluar dari Apo Kayan. Mereka menyusuri Sungai Boh, sambil bercocok tanam. Tak kurang dari setahun perjalanan menempuh hutan, sampai tiba di tempat tinggal sekarang Muara Wahau.

 

Agaknya, gelombang eksodus ini juga diikuti oleh sejumlah kelompok lain. Ada yang hijrah menyusuri Sungai Kayan sampai Sungai Oga Long Danum – kini Desa Metulang. Sampai disini, kelompok eksodus ini mengalami perpecahan lagi. Sebagian menuju Lalot Pubong (lumbung di tepi Sungai Nawang) sampai berakhir di Long Nawang.

 

Apo Kayan, seperti halnya daerah lain di dataran bumi ini, memang tak bisa menghindar dari perubahan. Berbagai bentuk kegiatan penyembahan, misalnya kepada patung, mulai terkikis-menyusul masuknya misionaris ke daerah itu. Sekolah-sekolah dibangun, kegiatan sosial pun muncul. Tak sedikit generasi baru Apo Kayan yang meneruskan sekolah di jenjang perguruan tinggi di Samarinda.

 

Tinggal kaum tua dan sebagian warga yang mencoba tetap bertahan di Apo Kayan, dengan segala atribut: adat, tradisi, dan agama. Mereka memilih setia pada Apo Kayan, meski bahan pokok sehari-hari relatif mahal ketimbang kota. Toh, akibat pengaruh kaum pendatang, mereka juga mulai mengenal budidaya tanaman keras seperti lada, vanili, kopi, sebagai usaha sampingan. “ Kesulitan kami adalah transportasi, sehingga bahan pokok mahal, “ujar Marcus, pemilik sebuah toko di Long Nawang.   Kecuali itu, pada merekalah, masih dapat dilihat tatto, anting-anting, kerajinan mandau, manik-manik, tarian burung Enggang, dan tarian Gong. Agaknya, memang, tak semuanya mesti berubah.

 

Lagu Kenyah – Leleng

[tube]http://www.youtube.com/watch?v=4_DF305WEwA&feature=related[/tube]

 

Lagu Kenyah – Pabat Pibui

[tube]http://www.youtube.com/watch?v=RqkST0XuqNA&feature=related[/tube]

 

=Lirik Lagu Pabat Pibui=

Tiyang, Mo’ pabat lan ni pibui, Tiyang, Mo’ pabat lan ni pibui,

Tiyang, Ca kolong lan ni ne tui, Tiyang, Mo’ payun lan mi peman,

Silun lundek, Tiyang, Mo’o tawai lok oyan mek

Tiyang, Mo’ pibui lan ni pabat, Tiyang, Mo’ pibui lan ni pabat,

Tiyang, Ca kolong lan ni koyat, Tiyang, Mo’ mecun lan ni da’an,

Silun lundek, Tiyang, Mo’o tawai lok oyan mek

Tiyang, Mo’ kembi lan ni kenak, Tiyang, Mo’ kembi lan ni kenak,

Tiyang, Ca kolong lan ni ne kak, Tiyang, Mo’ badak lan ni ngadan,

Silun lundek, Tiyang, Mo’o tawai lok oyan mek

(sumber: id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kenyah; pampangsuniaso.wordpress.com)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply