Jejak Majapahit Di Tanah Dayak

 Artikel Dayak

relief-nanserunai-dicandi-borobudur

Kalimantan bagian tengah dan selatan atau biasa disebut Tanah Dayak atau Tanah Biaju (groote en kleine Dayak) awal mulanya adalah sebagai negeri merdeka, yang didiami oleh orang-orang Dayak Ngaju. Sebelum abad ke 14, daerah ini belum mengenal pendatang atau penjajahan atas wilayah tersebut. Barulah pasca tahun 1300 M, orang-orang Dayak mengenal kontak dengan bangsa asing dalam arti negeri orang Dayak  mulai  didatangi oleh orang-orang  dari luar secara berturut-turut.

 

Kabarnya orang Dayak sudah hidup di pesisir sebelum tahun 700 M. Bukti menunjukan, suku Dayak pernah mendirikan sebuah Kerajaan Nan Serunai dengan ibukota nya yang terkenal Kayu Tangi. Kemudian berdasarkan tetek tatum pula di wilayah Biaju kecil di muara sungai Kapuas Murung pernah berdiri juga negeri Tanjung Pematang Sawang dengan ibukotanya Kuta Bataguh.

 
Ch. F.H. Dumont sebagaimana dikutip oleh Tjilik Riwut menyebutkan bahwa orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati. Sejak dahulu mereka ini mendiami sentero pulau Kalimantan, mulai dari sepanjang daerah pesisir hingga  kesebelah darat  atau pedalaman. Akan tetapi tatkala orang-orang Melayu dari Sumatera  dan Tanah Semenanjung Malaka datang ke sini, terdesaklah orang-orang Dayak itu  lalu mundur, bertambah lama bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan. Selain dari pada orang Melayu, telah datang pula orang Bugis dan Makassar mendiami pantai timur dan pantai barat pulau Kalimantan. Demikian pula orang Jawa telah datang semasa kerajaan Majapahit. Dan orang asing yang datang di Kalimantan sebelah barat yaitu orang Tionghoa.

 

 

1. EKSPEDISI LAKSAMANA NALA DARI MAJAPAHIT

Tahun 1350, Laksamana Nala (masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk) mengadakan ekspedisi ke Nansarunai dengan menyamar sebagai nahkoda kapal dagang. Di Nansarunai ia memakai nama samaran Tuan Penayar dan bertemu dengan Raja Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, serta Ratu Dara Gangsa Tulen. Laksamana Nala sangat kagum melihat begitu banyak barang-barang terbuat dari emas murni, ketika ia dipersilahkan untuk melihat-lihat perlengkapan pesta adat di ruangan tempat bermusyawarah. Yang sangat dikagumi oleh Laksamana Nala, ialah sokoguru balai adat yang terbuat dari emas murni juga dimana dibagian atasnya bermotif patung manusia.

 
Setelah kembali ke Majapahit, Laksamana Nala berpendapat, untuk menundukkan Nansarunai, harus dicari kelemahan Raja Raden Anyan yang mempunyai kharisma kuat. Pada pelayaran berikutnya, Laksamana Nala membawa serta seorang panglima perangnya yang bernama Demang Wiraja dengan memakai nama samaran Tuan Andringau, serta beberapa prajurit dari suku Kalang. Hasil pengamatan Demang Wiraja dilaporkan kepada Laksamana Nala. Demikianlah pada awal tahun 1356, Laksamana Nala datang lagi ke Nansarunai dengan membawa serta istrinya bernama Damayanti. Sewaktu kembali ke Majapahit, sengaja Laksamana Nala membiarkankan isterinya tinggal di Nansarunai. Damayanti berwajah sangat cantik dan pribadinya menarik.

 
Pada tahun 1356 itu, terjadi kemarau panjang, sehingga Raja Raden Anyan secara kebetulan bertemu dengan Damayanti di sumur yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan. Pertemuan pertama berlanjut dengan kedua dan demikian seterusnya, sehingga Damayanti melahirkan seorang anak perempuan, lau diberi nama Sekar Mekar. Pada awal tahun 1358, Laksamana Nala datang ke Nansarunai dan menemukan isterinya sedang menimang seorang anak perempuan. Damayanti yang memakai nama samaran Samoni Batu, menerangkan bahwa anak yang ada dipangkuaanya itu adalah anak anak mereka berdua. Dan Laksamana Nala percaya saja akan apa yang telah dikatakan oleh isterinya itu. Ketika kembali ke Majapahit, Damayanti beserta anaknya dibawa serta,lalu tinggal dipangkalan aramada laut Majapahit di Tuban. Beberapa bulan kemudian, Laksamana Nala secara kebetulan mendengar isterinya bersenandung untuk menidurkan puterinya dimana syair-syairnya menyebutkan bahwa Sekar Mekar mempunyai ayah yang sebenarnya ialah Raja Raden Anyan.

 
Bulan April 1358, datanglah prajurit-prajurit Majapahit, dibawah pimpinan Laksamana Nala dan Demang Wiraja menyerang Nansarunai. Mereka membakar apa saja termasuk kapal-kapal yang ada di pelabuhan dan rumah-rumah penduduk. Serangan itu mendapat perlawanan gigih prajurit-prajurit Nansarunai walaupun mereka kurang terlatih.

 
Menurut cerita, Ratu Dara Gangsa Tulen bersembunyi dipelepah kelapa gading bersenjata pisau dari besi kuning, bernama Lading Lansar Kuning. Ia banyak menimbulkan korban pada pihak musuh sebelum ia sendiri gugur. Raja Raden Anyan dalam keadaan terdesak lalu disembunyikan oleh para Patih dan Uria kedalam sebuah sumur tua yang sudah tidak berair lagi. Diatas kepalanya ditutup dengan sembilan buah gong besar, kemudian dirapikan dengan tanah dan rerumputan, agar tidak mudah diketahui musuh.

 
Ketika keadaan sudah bisa dikuasai oleh pihak Majapahit, Laksamana Nala memerintahkan Demang Wiraja untuk mencari Raden Anyan hidup atau mati. Atas petunjuk prajurit-prajurit suku Kalang yang terkenal mempunyai indera yang tajam, tempat persembunyian Raja Raden Anyan akhirnya dapat ditemukan. Raja Raden Anyan tewas kena tumbak Laksamana Nala dengan lembing bertangkai panjang. Peristiwa hancurnya Nansarunai dalam perang tahun 1358 itu, terkenal dalam sejarah lisan suku Dayak Maanyan yang mereka sebut Nansarunai Usak Jawa.

 
Dalam perang itu telah gugur pula seorang nahkoda kapal dagang Nansarunai yang terkenal berani mengarungi lautan luas bernama Jumulaha. Ia banyak bergaul dan bersahabat dengan pelaut-pelaut asal Bugis dan Bajau. Untuk mengenang persahabatan itu, maka puterinya yang lahir ketika ditinggalkan sedang berlayar, diberi nama berbau Bugis yaitu La Isomena. Prajurit-prajurit Majapahit yang gugur dalam perang tahun 1358 itu, diperabukan berikut persenjattan yang mereka miliki, didekat sungai Tabalong yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Tambak-Wasi. Tambak arti kuburan dan Wasi artinya besi dalam bahasa Maanyan kuno. Sehingga Tambak-Wasi artinya adalah kuburan yang mengandung unsur besi.

 

 

2. EKSPEDISI AMPU JATMIKA DARI KELING MAJAPAHIT

Pada tahun  1387 masuklah beberapa buah kapal asal Keling melalui muara Barito yang diketuai oleh nahkoda Wiramarta, dengan membawa yang Dipertuannya Ampu Jatmika dan istrinya  Sira Manguntur beserta dua orang putranya Ampu Mandastana dan Lembu Mangkurat.  Yang pasukannya dipimpin oleh Hulubalang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatahjiwa. Berhentilah mereka disungai Bahan, ketika menggali tanah disana tanahnya panas laksana api dan tercium harum sebagai harum daun pudak.

 
Ampu Jatmika bukanlah keturunan bangsawan dan juga bukan keturunan raja-raja Kuripan, tetapi kemudian dia berhasil menggantikan kedudukan raja Kuripan sebagai penguasa Kerajaan Kuripan yang wilayahnya lebih luas tersebut, tetapi walau demikian Ampu Jatmika tidak menyebut dirinya sebagai raja, tetapi hanya sebagai Penjabat Raja (pemangku).

 
Setelah perpindahan ibukota kerajaan Negara Dipa dari Candi Laras (Margasari) ke Candi Agung (Amuntai), penggantinya Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) setelah bertapa di sungai Tabalong berhasil memperoleh Puteri Junjung Buih yang kemudian dijadikan Raja Putri di Negara Dipa. Raja Putri ini sengaja dipersiapkan sebagai jodoh bagi seorang Pangeran yang sengaja dijemput dari Majapahit yaitu Raden Putra yang kelak bergelar Raden Suryanata. Keturunan Lambung Mangkurat dan keturunan mereka berdua inilah yang kelak sebagai raja-raja di Negara Dipa.

 
Menurut Tutur Candi, Kerajaan Kahuripan (diperkirakan adalah Nanserunai baru) adalah kerajaan yang lebih dulu berdiri sebelum Kerajaan Negara Dipa. Karena raja Kerajaan Kahuripan menyayangi Ampu Jatmika sebagai anaknya sendiri maka setelah dia tua dan mangkat kemudian seluruh wilayah kerajaannya (Kahuripan) dinamakan sebagai Kerajaan Negara Dipa, yaitu nama daerah yang didiami oleh Empu Jatmika.

 
Kerajaan Negara Dipa semula beribukota di Candi Laras (Distrik Margasari) dekat hilir sungai Bahan tepatnya pada suatu anak sungai Bahan, kemudian ibukotanya pindah ke hulu sungai Bahan yaitu Candi Agung (Amuntai), kemudian Ampu Jatmika menggantikan kedudukan Raja Kuripan (negeri yang lebih tua) yang mangkat tanpa memiliki keturunan, sehingga nama Kerajaan Kuripan berubah menjadi Kerajaan Negara Dipa. Ibukota waktu itu berada di Candi Agung yang terletak di sekitar hulu sungai Bahan (sungai Negara) yang bercabang menjadi sungai Tabalong dan sungai Balangan dan sekitar sungai Pamintangan (sungai kecil anak sungai Negara). Era pemerintahan Kerajaan Negara Dipa adalah pada tahun 1387-1495 M.
(sumber: id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Negara_Dipa, rudiannoor.wordpress.com, majapahit-nusantara.blogspot.co.id)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

One Response

  1. SHOFWAN AL ARIS22/04/2017 at 19:32Reply

    ada beberapa sejarah Indonesia yang di palsukan (menulis peperangan antar suku dll.) ketika jaman Penjajahan Belanda (setelah Belanda rugi besar – besaran pada perang Diponegoro 1925)
    dengan politik Devide Et Impera (politik memecah belah antar suku dan kerajaan) tujuan ingin memperkeruh suasana keakraban dan persatuan bangsa.

Leave a Reply