Seni Tutang (Tattoo) Orang Biaju

 Artikel Dayak

orang-biaju-bertutang

Orang Dayak Ngaju juga mengenal seni tutang (tattoo, rajah, cacah) dalam kehidupan mereka. Pada jaman dahulu tradisi bertato/tutang/rajah/cacah, orang Dayak Ngaju begitu terkenal dengan seni tutang nya baik itu dari segi motif desain nya. Baik kaum laki-laki maupun perempuan, kebanyakan mentutang bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut atau leher. Bahkan terdapat orang yang mentutang seluruh tubuhnya (biasanya seorang kepala suku/pangkalima).

 

Tutang seperti dikisahkan oleh para tetua-tetua yang memiliki tutang yang masih hidup masa kini, bahwa tidak banyak peninggalan jenis motif tutang Suku Dayak Ngaju yang didokumentasikan, dan para tetua yang memilikinya juga sangat sedikit sehingga makna dan tata cara tutang ini tidak banyak terungkapkan. Meskipun demikian makna tutang setidaknya tidak jauh berbeda antara Dayak Ngaju dengan kelompok suku Dayak lainnya.

tutang-biaju-3

 

Tutang selain sebagai simbol status juga merupakan ciri identitas dan memberi arti yang spesifik kepada orang Dayak Ngaju dengan maksud dan tujuan yaitu:

– Bertutang didasari oleh kayakinan bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tutang itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas, sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka nanti di surga.

– Sebagai keturunan Antang Bajela Bulau, orang Dayak harus mempunyai tutang, sebagai bukti turunan nenek moyangnya.

– Di jaman dahulu pria suku Dayak yang memiliki tutang dianggap sebagai lambang kejantanan, dan disukai para gadis-gadis dikampungnya.

– Para pemuda yang lulus ujian beladiri/seni berperang (kinyah,kuntau,bangkui) atau yang sudah pernah ikut berperang/mengayau juga diberi tutang sebagai tanda keberanian atau kepahlawanannya.

 

Dalam adat-istiadat dan tradisi, Suku Dayak Ngaju tidak mengenal adanya telinga panjang sebagaimana sebutan kebanyakan orang dalam mengenal Suku Dayak pada umumnya. Orang Dayak Ngaju mengenal yang namanya “babunus” atau “Pesek” atau bertindik.

tutang-biaju-2

 

Dalam ethnology Kapuas Murung, Barito, Kahayan & Katingan masih diperlukan lebih banyak penelitian mengenai tutang, sebab sejak peniliti Carl Schawner menerbitkan buku yang pertama kali meneliti daerah Kalimantan Tengah ini tidak begitu banyak informasi yang di terbitkan, salah satunya mengenai budaya tutang, kita hanya mengetahu sedikit sekali tentang jenis motif desain nya.

 

  1. DAS Kapuas Murung.

Didalam buku ini dikatakan bahwa pria Biaju di Pulau Petak, daerah di sebelah kanan cabang Sungai Barito dan Banjarmasin, memiliki tutang di bagian atas tubuhnya, lengan dan betisnya dihiasi dengan desain yang indah dan bergulung-gulung. Di dalam buku ini juga dikatakan orang-orang dari Sungai Murung lah yang memiliki desain tutang yang paling indah baik pria dan wanitanya. Menurut Schwaner, tidak semua laki-laki ditutang tetapi budaya tutang dalam lingkup Dayak Biaju masih ada di tahun 1850an, diantaranya jika seorang pria memiliki tutang dua garis spiral yang saling bertemu dengan gambar bintang di kedua bahu menandakan ia telah memotong beberapa kepala, ada juga motif dua garis yang saling bertemu dengan sudut akut dibalik jari kuku menunjukan pria tersebut mahir mengukir kayu.

  1. DAS Barito

Sebagian rumpun biaju terutama yang di sepanjang DAS Barito mentutang wajahnya terutama dibagian kening, pipi dan diatas bibir. Pernah diceritakan dari sebuah blog bahwa Dayak Benuaq yang masih satu rumpun dengan suku-suku Dayak di Kalimantan Tengah, terutama Maanyan, Lawangan, dan Dusun. Dahulu katanya orang Benuaq pun punya tutang di bagian pipi ini dua buah garis.

  1. DAS Kahayan

Untuk orang disekitar DAS Kahayan tidak banyak juga informasi kecuali didalam buku Dr. Nieuwenhuis. Motif tutangnya dicirikan dengan pola kotak-kotak seperti papan catur di bagian torso, perut, dan lengan. Dalam salah satu literature yang ditulis oleh Charles Hose and R. Shelford dijelaskan tutang Dayak Ngaju / Biaju hampir menutupi seluruh badan termasuk BAGIAN WAJAH. Tutang Dayak Ngaju disebutkan memliki design geometris yang rumit dan bergulung-gulung. Beberapa memiliki design seperti papan catur, kebanyakan yang ditutang adalah laki-laki untuk wanitanya desain tutangnya cukup sederhana mirip dengan tutang Dayak Kayan.

  1. Ot Danum dan Siang

Sedangkan orang-orang Ot Danum dan Ot Siang telah mengenal pewarna dalam pembuatan tutang nya, umumnya warna yang digunakan ialah biru dan merah. Ini juga sesuai dengan tulisan Kapten Beeckman yang pernah ke daerah Kalimantan Tengah diabad ke-17, ia mengatakan suku disana mewarnai tubuhnya dengan warna biru.

 

Yang paling umum pada prianya adalah tutang bulat di betis kaki dan juga tutang di lutut, lengan, torso, dan tenggorokan, sedangkan wanitanya hanya di tutang di tangan, lutut dan bagian tulang kering. Salah satu motif tutang wanita di bagian tulang kering sampai bagian pergelangan kaki adalah dua garis pararel yang dihubungkan oleh beberap garis silang dan bagian pangkal paha ada tutang yang disebut motif “SURU” (artinya lalu) adalah gabungan dari motif leher.

tutang-kahayan-hulu

 

Motif bulat di bagian betis disebut motif “BUNTER” atau kadang disebut “BULAN”, dan dari bagian bulat itu ada garis zigzag sampai ke tumit disebut “IKUH BAJAN” (Ekor biawak), ada juga motif dibagian kaki kanan dinamakan BARAREK dan dibagian kaki kiri “DANDU CACAH”. Untuk para kesatrianya dibagian sendi siku akan di tutang dengan motif DANDU CACAH dan seperti salib disebut “SARAPANG MATAN ANDAU” (Senjata Matahari).

 

Dalam mentutang peralatan yang harus disediakan:

  1. Sale damar, sale nyatting (arang damar), yaitu damar mata kucing atau damar batu, kalau damar lain menurut adat tidak diperbolehkan, karena katanya jika menggunakan damar jenis lain akan mengakibatkan infeksi.
  2. Upih pinang
  3. Lawas humbang buluh (seruas bambu buluh)
  4. Humbang basila due (bambu terbelah dua)
  5. Sanaman lapis isin tutang kahain tunjuk (besi gepeng untuk mats tutang sebesar telunjuk)
  6. Tabalien bulat kahain tunjuk (kayu ulin bulat sebesar jari)

Cara membuatnya:

Damar dibakar sampai menyala dan upih pinang dibengkokan diatas asapnya, agar arang dikumpulkan dan disimpan di lumbung buluh dan dicampur dengan sedikit air dan diletakan didalam bambu yang telah dibelah dua. Setelah itu kulit digaris/dicacah dengan mata tutang dan dipukul dengan kayu ulin bulat sebesar jari sampai keluar darah dan dimasukan sale damar, boleh juga dicampur dengan emas / tembaga. Seminggu sampai sebulan barulah bekas luka yang ada dapat sembuh betul. Bila seluruh badan yang akan ditutang, memakan waktu sampai 2 tahun karena tidak dapat dilakukan sekaligus, karena sakitnya proses pembuatan tutang.

 

Perbedaan tutang orang biasa dan para bangsawannya. Jika untuk para bangsawan, tutangnya sangat rumit sehingga peneliti Jerman/Belanda dimasa lalu tidak dapat memberikan deskripsi yang tepat mengenai desainnya. Sedangkan untuk orang biasa, tutang nya cukup sederhana. Prianya di tutang di bagian dada dan perut denan dua garis lengkung, sedangkan di luar pangkal paha di tutang dengan motif LINSAT (Sejenis Tupai), dan dibagian belakang betis di tutang dengan motif “KALUNG BAWUI” (Rantai Babi).

(sumber: In Centraal Borneo (1900) Vol 1 & 2 by AW Nieuwenhuis, Borneo 1843-1847 C.A.L.M. Schwaner, The Natives of Sarawak 1896 by H.Ling Roth, kaskus.co.id/show_post/52f4ed89becb1732118b4845/5/-)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply