Ampit dan Ampat

 Cerita Dayak

pipit

Pada jaman dahulu kala, di pedalaman hutan Kalimantan Tengah khususnya di hutan Murung Raya, hidup berbagai macam jenis binatang. Tapi uniknya, binatang-binatang ini bisa berbicara layaknya manusia biasa.


Seperti yang dikatakan di atas, hiduplah burung pipit yang bernama Ampit. Burung pipit ini berjenis kelamin perempuan dan pada masa itu sudah beranjak dewasa. Kehidupan burung pipit ini sangat memprihatinkan, dimana burung ini hidup seorang diri, mencari makan sendiri bahkan membuat sarangpun sendirian saja. Burung pipit ini sangat tertutup sekali, diaman dia jauh dari kampung binatang-binatang yang ada di hutan tersebut. Burung pipit ini sebenarnya ingin sekali hidup di tengah-tengah masyarakat hutan, tapi sayangnya dia tidak berani karena bulunya sangat jelek tanpa corak sedikitpun.
Pada suatu waktu, pada saat burung pipit ini menanam benih padi di ladangnya, datanglah seekor burung pipit yang lain, diaman bulunya sangat elok sekali. Burung pipit ini adalah seorang pengelana, yang tujuan utamanya adalah mencari jodoh. Burung pipit jantan ini bernama Ampat. Saat pertama bertemu, Ampit merasakan ada sesuatu yang lain dihatinya, begitu juga si Ampat tidak jauh berbeda dengan si Ampit. Beberapa saat kedua burung ini saling terpaku, tanpa kata dan suara, hening . . . !!
Dengan penuh senyum dan keramahan, si Ampat menyapa si Ampit dengan tutur kata yang lemah lembut. Ampat menjelaskan kepada si Ampit bahwa dia sudah lapar karena sudah 2 hari tidak makan. Maka, Ampitpun membawa si Ampat ke sarangnya untuk menyiapkan makanan dan minuman. Pada malam harinya, si Ampat bertanya kepada si Ampit tentang kehidupannya, dan juga tentang kesehariannya. Mungkin karena merasa cocok, pada pagi harinya burung pipit berdua ini mendatangi “Damang” yang ada di hutan itu. Pada waktu itu, jabatan Damang di pegang oleh kancil. Setelah dilakukan musyawarah oleh seluruh warga hutan, maka ditentukanlah hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan Ampit dan Ampat ini.
Sampailah pada hari yang ditentukan, seluruh warga hutanpun berdatangan ke rumah si Kancil untuk merayakan perkimpoian Ampit dan Ampat. Pada saat jamuan makan, semua para undanganpun duduk dengan rapi. Saat Beruang ingin mengambil makanan tersebut, semuanya memarahi Beruang. Karena tangan dan kuku beruang hitam dan panjang, maka si Beruang ini pun disuruh untuk mencuci tangannya di belakang. Setelah selesai mencuci tangannya, Beruangpun datang untuk mengambil makanan. Tapi lagi-lagi tangannya di pegang oleh kera, dan disuruh lagi mencuci tangannya ke belakang. Begitu terus terjadi, sampai-sampai makanan dan minuman habis tak ada sisanya. Beruang pun sangat sedih dan berlari ke dalam hutan sambil menangis, Beruang sangat dendam kepada semua penghuni hutan karena Beruang menganggap semuanya pelit dan tidak senang dengan dirinya.
Supaya permasalahan ini tidak berlanjut lagi, maka datanglah Damang ke sarang Beruang beserta seluruh penghuni hutan untuk meminta ma’af dan juga menjelaskan duduk permasalahannya. Damang dengan penuh kharisma dan juga berwibawa menjelaskan kepada Beruang, bahwa anggapan yang ditujukan kepada mereka semua itu tidak benar. Init permasalahannya adalah bahwa kuku dan tangan Beruang itu tidak bisa putih, sedangkan mereka semua tidak tahu bahwa tangan dan kuku Beruang itu tidak bisa menjadi putih. Karena memang dari sananya Beruang itu berwarna hitam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ini semua adalah kesalahpahaman, antara Beruang dan warga hutan. Setelah mendengar itu semuanya, Beruang pun sadar dan tidak sakit hati lagi. Dengan penuh senyum, Beruang pun menjabat tangan semua warga hutan dan juga memaafkan semuanya.
Kita kembali kepada Ampit dan Ampat. Setelah perkimpoian itu, pulanglah mereka berdua ke sarangnya. Keseharian mereka berdua adalah bercocok tanam dan juga membuka lahan baru. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan berdua, pasangan burung pipit ini pun merindukan anak yang manis dan imut. Maka, pamitlah Ampat kepada istrinya untuk bertapa ke gunung Bondang. Istrinya tidak bisa menahan si Ampat, karena tekat suaminya sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat lagi. Dengan berurai air mata, Ampit pun melepaskan kepergian suaminya dengan hati yang berat.

Beberapa tahun berselang, bertelurlah si Ampit ini. Tapi anehnya, telur yang keluar itu hanya sebuah saja. Dengan penuh kasih sayang, si Ampit menjaga telur ini dengan kesabaran dan juga penuh dengan kelembutan. Karena dia hanya seorang diri, tidaklah mungkin dia akan terus menjaga telur itu terus menerus. Apalagi di lumbung tempat penyimpanan padi sudah menipis, maka dengan berat hati si Ampit ini berangkat ke ladang untuk menanam padi. Pada sore harinya, Ampit pulang ke sarang untuk menyiapkan kebutuhan telurnya ini. Tapi Ampit terkejut, karena di dalam sarangnya itu sudah tidak ada telurnya. Dengan hati yang sedih dan remuk redam, terbanglah Ampit ke rumah Damang untuk menceritakan kejadian ini. Setelah Damang mendengarkan semua cerita Ampit, maka dikumpulnya semua penghuni hutan.
Alangkah herannya Damang ini, setelah di teliti lebih lanjut hanya ular saja yang tidak datang. Maka Damang dengan seluruh warga hutan pun segera berangkat ke sarang ular, sesampainya di sana Damang lalu bertanya kepada si Ular kenapa tidak datang ke rumah si Damang. Jawaban ular sangat singkat sekali, bahwa dia letih san kekenyangan sehingga tidak sanggup untuk berjalan ke rumah Damang. Damang dan warga lain menjadi curiga karena di sekitar ular itu tidak ada bekas darah, ataupun bulu dan tulang mangsanya. Maka Damang langsung bertanya kepada si Ular ini, apakah betul dia yang menelan telur burung pipit ? Ularpun langsung marah dan menyangkal ini semua, dihamburkannya bisa kepada Damang dan warga hutan. Karena mereka terancam, maka larilah semuanya keluar dari sarang Ular tersebut.
Melihat semua kejadian itu, menangislah burung pipit ini. Saat setelah air matanya jatuh, maka jadilah air setelah sampai permukaan tanah. Saat air matanya jatuh lagi, air di permukaan tanah tadi menjadi empat jengkal tingginya. Begitu seterusnya, sampai ular tersebut pun tenggelam dan mati. Setelah air surut, Ular tersebut sudah hancur, hanya tertinggal telur burung pipit yang tertinggal di perutnya. Dengan hati yang riang gembira, Ampit pun dengan sigap mengambil telurnya dan membawanya ke sarang. Mulai saat itu, Ampit selalu menjaga telurnya itu dengan penuh waspada. Karena dia tidak ingin kejadian yang serupa akan terulang kembali, cukuplah ini semua menjadi pengalaman yang berharga. Supaya lebih menyayangi dan lebih mendalam lagi arti dari hangatnya kasih sayang yang sebenarnya.
Beberapa bulan kemudian, menetaslah telur tersebut. Maka pecahlah tangis anak Ampit tersebut oleh karena lapar, terbanglah si Ampit ke lumbung padi untuk mengambil beras. Tapi sayangnya, semua sudah habis tak ada sisanya. Maka Ampitpun membujuk anaknya untuk diam, dan pergilah si Ampit ini ke ladang untuk memanen padi. Tidak lama kemudian, menangislah anak Ampit ini sambil berkata “plit-plit inai, aku bo jeer kuman ongku” yang artinya adalah aku ingin makan beras. “Sabar nak, sabar” jawab si Ampit ini. Tidak lama kemudian, pulanglah si Ampit ini ke sarangnya dengan membawa beras. Sesampainya di sarang, dengan penuh kasih sayang di berikannya beras tersebut kepada anaknya. Karena terlalu banyak anaknya memakan beras tersebut, maka bengkaklah perut anak Ampit ini. Tiap hari tiap malam selalu menangis, karena perutnya sakit sekali. Oleh karena itu, maka berangkatlah si Ampit ini ke rumah Damang untuk meminta tolong menyembuhkan penyakit anaknya.
Setelah ditentukan harinya, maka berangkatlah Damang beserta warga hutan lainnya ke sarang Ampit. Maka dilakukanlah Balian dengan Wasirnya adalah kancil, tidak lama kemudian sembuhlah anak Ampit ini. Setelah Balian tersebut selesai, maka kumpulah semuanya untuk makan. Saat semua sedang makan, datanglah seekor Anjing ke rumah si Ampit. Maksud hati ingin melihat Balian, tapi sayang sudah terlambat. Saat Anjing naik ke sarang Ampit, seluruh binatang yang ada di dalam tertawa terbahak-bahak. Anjing menjadi bingung dan heran, dan Anjingpun ikut-ikutan tertawa walaupun dia tidak tau apa yang sebenarnya ditertawakan teman-temannya. Karena merasa kasihan kepada si Anjing ini, maka berbisiklah Kancil bahwa yang mereka tertawakan adalah dirinya sendiri karena dirinya telanjang dan semua alat kemaluannya kelihatan. Mendengar semua itu, maka marahlah Anjing tersebut. Dikejarnya semua binatang dan diobrak-abriknyalah semua sarang binatang hutan yang lain. Sa’at Anjing itu mengejar Kancil, maka di sumpahinyalah Anjing tersebut. Setiap yang namanya Anjing pada sa’at mengejar kancil pasti akan mati, karena anjing tidak tau yang namanya balas budi dan berterima kasih.
Beberapa tahun kemudian, pulanglah si Ampat dari gunung Bondang habis bertapa. Betapa senang hatinya sa’at bertemu istri tercintanya dan juga bertemu anak kesayangannya walaupun baru pertama kali dilihatnya. Merekapun hidup bahagia sampai akhir hayatnya.

(sumber: ceritarakyatnusantara.com)

 

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply