Asal Usul Desa Tumbang Laku

 Cerita Dayak

kuntilanak

Sejak dahulu kala kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah bergantung pada alam dengan memungut hasil hutan. Di sebuah desa hiduplah satu keluarga dengan enam orang anaknya yang kesemuanya laki-laki. Sejak kecil keenam bersaudara ini selalu bersama-sama bermain dan sebagainya. Adalah si bungsu yang agak pendiam serta sering ditinggalkan kelima orang kakaknya di rumah untuk membantu orang tua mereka menyelesaikan pekerjaan di rumah. Ia juga selalu diremehkan kakak-kakaknya dan menjadi bahan ejekan mereka.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, seiring dengan waktu, keenam bersaudara ini tumbuh dewasa namun belum ada seorang pun yang menikah. Suatu ketika desa itu ramai didatangi para pedagang untuk membeli hasil hutan berupa damar, karena hutan belantara di sekitar desa mereka itu banyak damarnya dan kualitasnya cukup bagus.

Orang tua mereka sudah berumur dan tidak mampu lagi untuk keluar masuk hutan mencari damar. Melihat kondisi tersebut dan anak-anak itu merasa sudah besar serta kuat, sudah saatnya merekalah yang mengambil alih pekerjaan tersebut, terlebih harganya cukup menjanji-kan. Rencana tersebut mereka utarakan kepada kedua orang tuanya, bahwa mereka akan bersama pergi mencari damar sekaligus meminta izin membawa serta si bungsu. Orang tua mereka tidak bisa menghalangi rencana mereka itu, namun meminta agar si bungsu tidak diajak karena ia membantu bekerja di ladang dan pekerjaan di rumah sehari-hari.

Karena memaksa dengan berbagai alasan, maka disetujuilah si bungsu ikut. Ayah mereka berkata : “Jagalah adikmu baik-baik. Apabila sudah menemukan cukup banyak damar, segeralah pulang. Selama di hutan jangan berucap atau berbuat hal yang aneh-aneh karena banyak penunggunya”. Mereka pun berjanji mematuhi petuah ayahnya.

Tibalah hari keberangkatan mereka, pagi-pagi dengan membawa bekal secukupnya serta diantar oleh kedua orang tua mereka, menuju ke tepi sungai dan berangkat mengayuh perahu ke arah hulu. Cukup lama dan jauh mereka berkayuh sambil melihat ciri-ciri alam yang menun-jukkan bahwa di tempat tersebut banyak damar.

Ketika menemukannya maka berhentilah di situ dan ditambatkan-lah perahu serta mereka naik ke darat. Kemudian mereka membuat pondok yang cukup besar tidak jauh dari tepi sungai.

Malam harinya mereka bersenda-gurau sambil mengatur rencana kerja esok hari, sementara adik mereka si bungsu sibuk mempersiapkan makan malam dan peralatan untuk besok.

Malam pun larut, setelah puas bercanda tertidur lelaplah mereka itu semuanya. Menjelang pagi si bungsu bangun terlebih dahulu menyediakan makan pagi seadanya. Setelah semua selesai sarapan berangkatlah mereka masuk hutan belantara yang belum pernah dijamah manusia untuk mengumpulkan damar.

Ketika hari menjelang senja, si bungsu mereka suruh pulang duluan ke pondok untuk mempersiapkan makanan. Kelima kakaknya menyusul pulang dengan membawa damar. Sesampainya di pondok sebagian ada yang mandi dan sebagian lagi beristirahat.

Sesudah makan, sambil bercanda kelima kakaknya membual. Seorang diantaranya berkata : “Seandainya ada wanita yang menemani kita sekaligus menyiapkan makanan dan menemani tidur di malam hari, maka tidak terasa lelah yang kita rasakan seharian bekerja. Tapi sayang jika ada wanitanya hanya lima orang. Jadi kau bungsu tidak kebagian”.

Ucapan ini disambut dengan gelak tawa dari yang lainnya. Sementara adiknya si bungsu hanya berdiam diri, meskipun jadi bahan tertawaan kakak-kakaknya. Namun ia tidak marah kepada mereka itu.

Singkat cerita keenam bersaudara ini telah memasuki hari ketiga berada di hutan itu. Mengingat sudah banyak damar yang terkumpul, mereka berencana akan pulang pada hari berikutnya. Seperti biasanya mereka berangkat pagi-pagi, namun sebelumnya si bungsu sudah bangun terlebih dahulu menyiapkan makan pagi dan bekal mereka.

Berangkatlah keenam bersaudara tersebut masuk hutan, semakin ke dalam mereka masuk semakin banyak damar yang ditemukan, hingga tidak terasa hari telah menjelang senja. Dipanggil si sulunglah adik-adiknya seraya katanya : “Kupikir kita cepat pulang saja hari ini. Selain telah banyak yang kita peroleh, ditambah yang sudah terkumpul di pondok, maka kurasa cukup sudah usaha kita untuk kali ini. Baik kita beristirahat karena besok kita pulang”.

Bergegas mereka pulang dengan menyuruh si bungsu terlebih dahulu untuk mempersiapkan makanan. Matahari mulai tenggelam, si bungsu telah mendekati pondok, tetapi ia terperanjat karena mencium bau harum masakan dan ketika semakin dekat mendengar suara hiruk pikuk gaduh memasak diseling canda tawa. Si bungsu memperjelas pendengarannya seraya mengendap-endap mengintip ke dalam pondok. Sungguh terkejut ia melihat, ternyata ada enam orang wanita cantik sedang sibuk memasak di dapur sambil tertawa cekikikan.

Si bungsu segera berlari kembali mendapatkan kakak-kakaknya dan berkata : “Kak, jangan masuk ke pondok dulu. Kulihat ada beberapa orang wanita di dalamnya”. Saudara-saudaranya penasaran atas laporan si bungsu. Dari jauh mereka telah mencium bau harum masakan.

Segera mereka mendekat dan meletakkan karung damar di luar pondok, seraya membuka pintu. Terlihat nyating (lampu dari damar) telah menyala dan di lantai beralaskan tikar sudah tersaji makanan, dengan wanita cantik yang ramah mempersilahkan mereka makan. Sementara itu si bungsu tetap berada di luar dan pura-pura sibuk menyusun damar yang mereka bawa.

Tanpa pikir panjang langsung kelima saudaranya menyerbu makanan karena sudah lapar. Salah seorang berkata : “Seperti inilah maksudku, jika kita pulang telah tersedia makanan. Pakaian telah bersih dicucikan dan terlipat rapi”.

“Meskipun selamanya tinggal di tempat ini aku bersedia, karena ada wanita-wanita cantik yang melayani”, timpal yang lainnya.

Canda tersebut disambut dengan gelak tawa semua yang ada dalam pondok, kemudian kakak-kakaknya memanggil si bungsu agar segera masuk. Tetapi dijawab si bungsu tunggu sebentar karena ia ingin menimba perahu dahulu yang hampir karam penuh air.

Mereka pun makan dengan lahap, sementara para wanita cantik itu mulai berbaring di kasur, sambil menggoda mereka agar segera setelah makan ikut berbaring. Bertambah semangatlah mereka makan, sesudah merasa kenyang satu persatu segera mendatangi wanita-wanita cantik itu. Terdengar oleh si bungsu dari tepi sungai, suara tawa canda dan rayuan serta tertawa genit yang melengking. Segera setelah selesai menimba, naiklah si bungsu kembali ke atas diam-diam dan masuk ke bawah pondok.

Menjelang tengah malam suara saudara-saudaranya dalam pondok berkurang namun pondok bergoyang dan berderit, diselingi desah napas dan tawa genit mereka. Kemudian lama-kelamaan suara di dalam pondok berubah menjadi suara rintihan kesakitan dan teriakan panjang saudara-saudaranya. Tatkala si bungsu menengok ke atas lewat lubang lantai, bersamaan dengan itu tepat di wajahnya mengucur sesuatu yang basah. Si bungsu meraba cairan tersebut dan mengenalinya, itulah darah dan berbau anyir.

Si bungsu tahu ada yang tidak beres dan para wanita tersebut adalah nyaring (hantu rimba, sejenis kuntilanak). Ia lalu berlari ke arah perahu yang ada di tepi sungai, sementara dari dalam pondok masih terdengar suara erangan kesakitan dan lengkingan tawa para nyaring itu.

Karena nyaring yang bungsu tidak ada pasangan dan terlalu lama menunggu si bungsu, walau dipanggil kakak-kakaknya tidak menyahut, melesatlah nyaring itu terbang mengejar ke arah sungai. Si bungsu sudah memotong tali tambatan perahu dan mengayuh sekuat-kuatnya ke hilir menjauhi tempat itu. Tidak begitu jauh, di tengah sungai si bungsu mendengar suara lengkingan dan cekikikan nyaring yang mengejarnya, si bungsu mengayuh perahu sekuat tenaga.

Begitu nyaring sudah dekat dan tepat berada di atasnya serta bersiap hendak menerkam, maka dengan gerak cepat pula si bungsu menceburkan dirinya ke air. Kemudian ia membalikkan perahunya hingga bagian bawah perahu menjadi ke atas dan si bungsu berada di dalam perahu yang tertelungkup itu jadinya, dengan sedikit ruang untuk menempatkan kepalanya serta bernapas.

Dari dalam air si bungsu mendengar suara perahunya seperti dicakar-cakar dari atas, rupanya nyaring itu penasaran karena belum dapat memangsanya. Lama si bungsu berada di dalam air, sementara itu suara cakaran tetap kuat meskipun kayu bahan perahu itu cukup tebal dan dari kayu ulin. Sejenak si bungsu mendengar suara ayam berkokok, ia berharap agar hari cepat siang.

Sesaat kemudian dasar perahu di atas kepalanya berlubang sedikit, lalu tembuslah lima jari nyaring itu dengan kukunya yang runcing dan tajam hampir mengenai muka si bungsu. Tanpa pikir panjang dipatahkannya kuku itu satu persatu dan terdengar jeritan nyaring itu kesakitan. Tak lama kemudian tembus lagi lima jari sebelah tangan nyaring itu yang lainnya juga dengan kukunya yang panjang. Tanpa membuang waktu pula kembali dengan cepat si bungsu mematahkan kelima kuku yang lengket tersebut disertai jeritan kesakitan si nyaring.

Sesudah itu tidak ada lagi suara cakaran pada kayu perahu, si bungsu mendengar suara ayam bersahut-sahutan tanda dekat kampung dan dari lubang terlihat langit mulai terang. Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang pilu dari luar.

Lalu terdengar suara perempuan memanggil si bungsu dari atas diselingi isak tangis dengan suara memelas dan menghiba: “Wahai bungsu keluarlah, jangan takut, karena aku sudah berubah menjadi manusia”.

Si bungsu tidak mudah percaya begitu saja, terlebih mengingat peristiwa yang telah terjadi tadi malam terhadap saudara-saudaranya. Beberapa saat sesudah itu masuklah sinar matahari ke dalam perahu dan suara kokok ayam sangat jelas pertanda kampung sangat dekat.

Si bungsu pun berani mengambil resiko membalikkan kembali perahunya seperti keadaan semula, dengan pertimbangan apabila nyaring itu berbohong, ia akan mengadakan perlawanan sambil berteriak karena orang-orang pasti sudah ada yang turun ke sungai untuk mandi atau membawa serta nyaring tersebut ke dalam air.

Karena si bungsu berpikir, apabila nyaring itu bisa masuk air tentu tadi malam ia sudah dimangsanya. Sementara di atas pun masih terdengar suara tangisan kecil. Kemudian si bungsu mengumpulkan tenaganya dan pada hitungan ketiga dibalikkannya perahu itu seperti keadaan semula, lalu naik ke atasnya.

Di tengah perahu seorang wanita menghadapinya sambil menunduk menimba air dalam perahu yang bocor. Si bungsu menatapnya dengan hati-hati dan selalu waspada apabila terjadi sesuatu.

Sesaat kemudian dengan perlahan wanita di depannya meng-angkat kepalanya hingga terlihat jelas raut wajahnya.

Si bungsu memperhatikan dengan seksama dan ia terkesima, ternyata wanita di depannya yang tadi malam adalah nyaring memiliki paras yang sangat cantik, kulitnya putih dan kemerah-merahan terkena sinar matahari. Ketika kedua bola mata mereka bertatapan, wanita tadi tersenyum seraya menyapu sisa air matanya yang membasahi pipinya. Wanita itu pun terlebih dahulu membuka percakapan bahwa si bungsu tidak perlu takut karena sekarang ia sudah menjadi manusia.

Kemudian si bungsu merapatkan perahunya ke tepi dan mengikatkannya di lanting, orang-orang yang ada di lanting keheranan melihat si bungsu pulang tanpa bersama-sama saudaranya dan justru membawa seorang wanita muda yang cantik. Si bungsu tidak menghiraukan kebingungan dan pertanyaan orang-orang tersebut. Dengan sedikit canggung si bungsu mempersilahkan wanita tersebut turun dan membawanya naik ke rumah.

Lebih terkejut lagi kedua orang tua si bungsu yang sudah tua melihat kedatangannya bersama wanita tersebut, sementara kelima kakaknya tidak bersamanya. Setelah menceriterakan panjang lebar kejadian yang menimpa mereka dan keberadaan wanita yang ikut bersamanya, tanpa terasa meneteslah air mata kedua orang tuanya.

Para tetuha desa dan kerabat mereka turut bersedih bercampur haru mendengar cerita si bungsu sambil sekali-sekali menatap wajah wanita jelmaan dari nyaring yang menjadi manusia itu. Dalam hati mereka dan sebagian berbisik, pantas saja si bungsu membawanya pulang sebab nyaring itu sangat cantik dan rupawan.

Gemparlah seluruh penghuni desa, tanpa banyak komentar orang tua si bungsu sepakat mengambil jenazah anak-anaknya dengan ditemani beberapa tetuha dan para pemuda desa. Beberapa perahu beramai-ramai berangkat mengambil jenazah yang ada di dalam hutan sebelah hulu sungai. Sementara yang lainnya berangkat, sebagian kerabat si bungsu beserta para penduduk desa bersiap-siap menyambut kedatangan mereka.

Di rumah si bungsu masih berkumpul para tokoh adat dan agama untuk melaksanakan acara mamalas (membersihkan diri) si bungsu dan terutama wanita itu agar dapat diterima di dunia dan menjadi warga desa itu.

Sore harinya datanglah rombongan para tetuha dan pemuda yang membawa mayat kelima bersaudara tersebut. Ramailah desa itu karena orang-orang berdatangan dari beberapa desa terdekat. Malam harinya lebih ramai lagi karena berbagai acara adat, banyak yang tidak tidur serta sebagian para pemuda dan pemudi berkumpul mengelompok bercerita. Ada yang ngeri, terharu serta sebagian lagi salut kepada si bungsu, terlebih ketika melihat wajah wanita jelmaan nyaring itu yang berubah menjadi manusia biasa yang sangat cantik dengan kulit yang halus mulus.

Walau rumahnya sangat ramai terlihat si bungsu duduk sendiri di pojok, sambil menatap sedih kelima jenazah kakaknya. Dari jauh wanita jelmaan nyaring itu melihat si bungsu yang menyendiri, maka pamitlah ia dengan para ibu-ibu dan pemudi di dekatnya untuk kemudian mendekati si bungsu.

Dihiburnya si bungsu sambil meminta maaf atas peristiwa yang telah terjadi dan wanita itu membisikkan ke telinga si bungsu, apabila berkenan dan mau menerimanya maka ia bersedia dipersunting menjadi isteri si bungsu.

Mendengar kata-kata nyaring itu si bungsu tidak bergeming, hanya diraihnya tangan wanita disampingnya itu lalu menggenggam- nya erat-erat dengan perasaan antara sedih, haru dan bahagia. Entah berapa lama keduanya terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing dan lalu tertidur di situ karena kelelahan.

Tak terasa pagi pun tiba, si bungsu dan wanita itu terbangun dari tidur di dekat jenazah kelima saudaranya, sementara kerabat dan sanak saudara yang tidak tidur semalaman, sedang sibuk mempersiapkan acara pemakaman kelima saudaranya. Sebagian lagi membuat lima buah sapundu (patung kayu) dan menancapkan di depan rumah.

Setelah siang hari seluruh keluarga dan warga desa memakamkan jenazah tersebut di seberang desa. Setelah tiba di rumah pihak keluarga dan kerabat yang masih ada kembali bermufakat untuk melanjutkan rangkaian acara kematian, kemudian membicarakan rencana pernikahan si bungsu dengan wanita yang dibawanya pulang itu. Hari dan waktunya pun ditentukan yaitu lima hari sesudah acara mamalas dari keluarga yang ditinggalkan.

Tibalah hari pernikahan si bungsu, seluruh warga desa bersukacita karena telah habis masa berkabung. Undangan yang datang sangat banyak karena berdatangan dari beberapa desa tetangga, sebagian hanya ingin melihat acara tersebut. Di pelaminan duduklah kedua mempelai di atas dua buah garantung (gong) dan setelah upacara adat selesai baru mereka berdua menerima dan menyalami para tamu.

Terlihat keduanya sangat serasi, si bungsu sebagai pengantin pria duduk dengan gagah serta tampannya, sedang sang mempelai wanita sangat anggun, cantik dan mempesona, membuat yang melihat berdecak kagum serta iri. Tidak sedikit pula ada beberapa gadis desa yang berbisik syirik, ah meskipun begitu tetap saja bekas nyaring. Namun kerumunan para pemuda desa dan teman sebaya si bungsu menggodanya, mengatakan si bungsu beruntung mendapatkan bidadari.

Pasangan muda ini hidup normal seperti lainnya, lalu hamillah isteri si bungsu dan memiliki banyak anak. Sampai sekarang keturunan mereka (cucu bahkan cicitnya) masih ada yang menetap di desa itu dan sebagian lagi di daerah lain, bersekolah tinggi dan menjadi pegawai di pemerintahan. Adapun cici-ciri fisiknya berkulit putih bersih, terutama para wanitanya cantik dan menawan.

Ketika melihat kehidupan manusia yang penuh dengan kasih sayang serta terbersit perasaan untuk menebus kesalahan saudara-saudaranya karena telah membunuh kakak-kakak si bungsu, muncul keinginan nyaring yang juga kebetulan bungsu ini menjadi manusia.

Ia pun balaku (bahasa Dayak Ngaju artinya meminta) kepada Yang Maha Kuasa agar dapat menjadi manusia seutuhnya dalam arti hilang semua karakteristiknya sebagai iblis. Dan ia juga balaku pada si bungsu agar diambil sebagai isteri. Dusun itu terletak dekat sebuah sungai kecil yang lalu dinamakan sungai Balaku. Sekarang dusun itu telah menjadi sebuah desa yang lalu dinamai Tumbang Laku (lebih mudah dan praktis penyebutannya daripada Balaku), termasuk wilayah kecamatan Seruyan Hulu kabupaten Seruyan.

(sumber: TuaGila kaskus Reg. Leader Kal Teng)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply