Kutukan Di Dusun Dahian Undang

 Cerita Dayak

tropenmuseum - dayak head hunter central borneo

Lebih dari tiga ratus tahun yang lalu di tepi sungai Katingan terletaklah dusun Dahian Undang. Suatu ketika kemarau panjang melanda sungai Katingan ini, sungai-sungai kecil dan bendar-bendar yang terletak di antara pepohonan sudah mengering. Di beberapa tempat di perairan sungai Katingan gosong bermunculan dan sungai dapat diseberangi hanya dengan berjalan kaki, sebab airnya hanya tenggelam setengah betis saja.

Di suatu senja hari penduduk Dahian Undang seluruhnya meluruk menonton suatu keadaan di seberang sungai atau tempat kediaman mereka itu. Sekitar lebih dari tiga puluh ekor orang hutan berada di tepi sungai, nampaknya mereka ingin minum. Hal seperti ini biasa selalu terjadi di mana kawanan satwa berbondong-bondong ke tepi sungai mencari air, apalagi dalam musim kering seperti ini.

Tetapi kali ini setelah minum sepuas-puasnya, orang hutan-orang hutan itu tidak segera kembali ke dalam rimba. Mereka bermain perang-perangan dengan saling melontarkan tombak dari batang tumbuhan bamban (sejenis tumbuhan rawa yang berba-tang lurus, kulitnya luarnya licin; biasa kulit luar yang licin ini diambil, dikeringkan dan dianyam menjadi bakul untuk mencuci beras), layaknya seperti yang dilakukan manusia dalam upacara laluhan (perahu yang mengantarkan bantuan bahan makanan dan sebagainya dari suatu desa untuk upacara tiwah di sebuah desa; desa yang dibantu menyambut kedatangan bantuan dengan acara menombaki perahu itu dan saling berbalasan). Perbuatan mereka itu sangat lucu karena gerakannya sangat menggelikan, hingga anak-anak senang melihatnya.

Memang di seberang dusun itu banyak tumbuh batang bamban. Biasanya warga memotongnya dahulu kemudian menjemurnya di atas pasir gosong sungai, lalu beberapa hari kemudian mengambilnya setelah agak kering.

Bamban yang sudah terpotong inilah yang digunakan orang hutan itu sebagai tombak. Esok harinya kembali orang hutan-orang hutan itu datang ke tepi sungai untuk minum dan bermain-main. Orang banyak sedusun, di tepi sungai seberang sini, tua muda besar kecil lelaki maupun perempuan, berkerumun untuk menyaksikan perbuatan orang hutan-orang hutan tersebut. Setelah semuanya minum, nampaknya mereka mau bermain-main lagi seperti kemarin. Tombak batang bamban mulai meluncur saling berbalas.

Namun mendadak terjadi perubahan. Jerit kegembiraan mereka berubah menjadi kegusaran, yang dilanjutkan dengan saling gigit dan terkam di antara mereka. Terjadilah perkelahian antara dua kelompok yang berlangsung semakin seru.

Sebagian mulai berjatuhan tewas akibat gigitan dan rangkulan yang meremukkan tulang. Akhirnya tinggal dua ekor yang terbesar saling berhadapan, yang kesudahannya sama-sama rebah terkapar berlumuran darah. Mayat mereka bergelimpangan di atas gosong tepi sungai. Penduduk Dahian Undang yang menonton, sempat ternganga melihat kejadian itu. Selanjutnya mereka lalu beramai-ramai menyeberang untuk mengetahui apa penyebabnya.

Ternyata semua yang tewas itu berkelamin jantan, tidak terdapat betina dan anak-anak. Dan ketika diteliti ternyata di antara tombak-tombak batang bamban itu terdapat beberapa batang yang benar-benar tombak, dengan ujungnya dari besi yang tajam dan mematikan. Seorang di antara para pemuda penduduk dusun Dahian Undang itu mengaku bahwa dia telah meletakkan beberapa batang tombak yang benar di antara rumpun-rumpun bamban tersebut sebelumnya.

“Sengaja kuletakkan beberapa batang tombak milik kami di tempat mereka mengambil batang bamban. Maksudku hanyalah agar pertempuran pura-pura itu menjadi lebih seru. Lagi pula mata tombak kami ujungnya dapat tercuci dengan darah sebab mulai karatan”, ujar Parek mengaku. Orang banyak tertegun mendengar penjelasannya.

Malam harinya pemuda usil itu bermimpi. Ia dijumpai seorang lelaki tua gundul, yang mendekatinya lalu berkata : “Kami tidak pernah mengganggu kehidupan kalian di dusun seberang. Perbuatan kami hanya untuk bersenang-senang melupakan kesulitan hidup menghadapi kemarau panjang ini. Sampai hatimu menyelipkan tombak yang benar di antara batang bamban itu, hingga kami terluka dan berkelahi sesama kami. Seluruh orang hutan dewasa di kelompok kami telah mati ulah perbuatanmu. Kalian kelak akan mengalami hal yang sama seperti yang kami alami siang tadi !”

Sehabis ucapan orang tua itu Parek terbangun karena suara guntur yang menggemuruh disertai tiupan angin kencang. Parek duduk termenung memikirkan mimpinya itu hingga malam menjelang siang.

Pagi harinya Parek menceriterakan mimpinya itu pada teman-temannya. Beberapa orang tua yang kebetulan hadir tertarik mendengarnya dan ingin merundingkannya lebih lanjut guna membahas cara menghadapi kutukan itu.

Tetapi ayah Parek, pemuda usilan itu, malah menghardik anaknya dan nampak tak mau bertanggung jawab. Ia lalu berkata : “Engkau keterlaluan, sudah kau kacaukan permainan orang hutan menjadi ajang kematian mereka. Sekarang kau ingin mengajak orang sedusun untuk berpesta menolak bala. Hai sekalian warga jangan pedulikan ocehannya !”

Musim kemarau telah berlalu, peristiwa itu terlupakan dengan tidak terlihatnya tanda-tanda adanya kesulitan. Panen menjadi (berhasil) dilanjutkan dengan musim durian yang lebat. Warga dusun Dahian Undang itu bersatu kata bulat mufakat untuk melaksanakan hajat mengadakan pesta syukur kepada Sangiang – Jata (nama penguasa alam atas dan alam bawah) yang telah memberkahi mereka dengan hasil panen yang melimpah. Upacara balian sahur dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, tujuh tetuha memukul gendang sambil melantunkan nyanyian hikmat mengenai perjalanan para dewa.

Selesai upacara dilanjutkan dengan minum-minum baram (sejenis tuak) tanpa pandang bulu dan jenis kelamin. Sulang menyulang antara lelaki dan wanita dengan kapasitas paling tidak seorang menghabiskan isi sepasang tanduk kerbau.

Sedangkan bocah-bocah berusia di bawah belasan tahun lain pula ulahnya. Ada yang bermain gasing, balogo (kepingan tempurung kelapa) dan mengadu jangkerik.

Mendadak di kelompok anak-anak yang mengadu jangkerik gempar. Seorang bocah keluar dari kerumunan seraya menangis tersedu-sedu dengan jari telunjuknya berdarah.

“Jari telunjuk Tengang digigit jangkeriknya Buhis”, kata seorang anak menjelaskan kepada kelompok yang berdatangan ingin tahu.

Namun ada lagi yang menambahkan dengan tujuan agar lebih ramai saja yakni : “Buhis menggigit jari telunjuk Tengang hingga hampir putus”.

Tengang masih saja menangis dan malah semakin keras. Di antara anak-anak itu ada yang usil mendengarnya, sebab itu ia lalu berteriak berkali-kali dengan kata-kata yang berlebihan : “Buhis menggigit telunjuk Tengang sampai putus !”

Saat itu kebetulan ayah Tengang keluar dari betang hendak buang air kecil. Terdengar olehnya, yang dalam keadaan mabuk itu, suara teriakan-teriakan itu. Dikiranya hal ini benar-benar terjadi. Setelah melaksanakan hajatnya segera ia mendekati kelompok anak-anak itu. Di waktu yang bersamaan ia berpapasan dengan Buhis yang keluar dari kelompok itu ingin menjauh.

Tanpa ba bu lagi Buhis lalu ditamparnya dan ditendangnya berkali-kali tanpa kasihan. Buhis menjerit kesakitan dan akhirnya jatuh pingsan.

Ayah Buhis yang juga mabuk, keluar dan sempat melihat kejadian itu. Ia mendekati ayah Tengang seraya berkata : “Apa sebabnya kau menyakiti anakku ?”

“Anakmu sudah menggigit putus jari anakku !” jawab ayah Tengang ketus.

“Keterlaluan kau pahari (saudara), beraninya hanya dengan anak kecil. Kalau sampai anakku mencederai anakmu, masih ada penyelesaiannya dengan baik”, kata ayah Buhis lagi.

Seorang adik ayah Buhis dengan garang berkata : “Jangan banyak bicara lagi. Labrak saja ! Anakmu sudah pingsan dibuatnya”.

Akhirnya keluarga masing-masing kedua ayah anak itu saling berhadapan dan berkelahi dengan serunya. Keadaan menjadi semakin ramai karena teman-teman setiap keluarga turut membantu dan jadilah perkelahian ini menjadi perkelahian antara dua kelompok. Beberapa orang yang datang dengan niat untuk melerai perkelahian itu, menjadi terlibat dalam perkelahian, karena disangka datang untuk membantu salah satu pihak.

Perkelahian tangan kosong akhirnya meningkat menjadi perkelahian bersenjata. Badik, mandau, duhung, tombak sampai serapang penusuk ikan sungai dan alu penumbuk padi dimainkan kedua belah pihak. Jeritan anak-anak dan kaum wanita bercampur dengan pekik kemarahan dan kesakitan dari mereka-mereka yang sedang mengamuk. Mereka berkelahi bagaikan kesetanan, saling kejar dan jika terjatuh pasti dicencang lumat.

Beberapa jam kemudian perkelahian berhenti dengan sendirinya, tidak ada lagi yang sanggup meneruskannya. Semua lelaki sudah bergelimpangan di sana sini dalam keadaan tidak bernyawa, sedang sekarat atau terluka parah.

Tangisan kehilangan bergema di udara senja dari wanita kematian suami, ibu kematian anak dan gadis kematian kekasihnya. Suara gandang (gendang) dan garantung (gong) beberapa hari sebelumnya, yang mengiringi suasana kegembiraan, berubah menjadi irama yang mengiringi penjemputan oleh sakaratul maut dan kepergian roh-roh.

Penduduk desa yang berdekatan lalu berdatangan untuk menyatakan bela sungkawa dan membantu merawat yang terluka parah serta menguburkan yang tiada bernyawa. Awan duka menyelimuti dusun itu.

Sejak itu dusun Dahian Undang ditinggalkan penghuninya yang masih hidup, terutama wanita dan anak-anak, menyebar ke desa-desa sekitarnya serta kampung-kampung lain yang terikat hubungan keluarga. Diperkirakan dusun ini dahulu tidak jauh letaknya dari desa Dahian Tunggal sekarang, termasuk dalam wilayah kecamatan Pulau Malan.

Nama Dahian Undang sendiri berasal dari kata Dahian yang artinya durian (buah duren), sedangkan Undang adalah nama jenis buah durian yang sangat enak, tebal daging buahnya serta manis.

(sumber: TuaGila kaskus Reg. Leader Kal Teng)

 

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply