Penghuni Gaib Sungai dan Jembatan Kahayan (Bag. 1)

 Cerita Dayak

siluman buaya putih

Part 1:

“Ada Perkampungan Makhluk Gaib Dengan Istana Megah”

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, jika kawasan jembatan dan sungai kahayan yang membentang melintasi kota Palangkarya, penuh dengan aura mistik. Hal itu pula yang menjadi ketertarikan program misteri salah satu acara televisi swasta, untuk mengetahui lebih jelas soal kehidupan makhluk gaib didaerah itu. Berikut tulisan wartawan koran Palangka Ekspres, berdasarkan pengakuan paranormal Mbah Bedjo, saat shooting Mister Tukul, Jumat (1/2/13) malam.

Dengan suara serak dan tercium aroma kemenyan dan minyak wangi bermantra menyengat hidung. Paranormal Mbah Bedjo, menuturkan, bahwa lokasi didirikannya jembatan Kahayan terpanjang di Kalteng ini merupakan perkampungan makhluk gaib dengan istana megah.

Menurutnya kawasan tersebut mempunyai beberapa pimpinan dan panglima. Salah satunya Buaya Putih, sosok ini sendiri dapat merubah wujudnya dan dapat berubah-ubah wujud dan memiliki kekuatan dahsyat. Buaya Putih ini merupakan salah satu tetua di alam gaib dikawasan sungai Kahayan hingga sungai Rungan.

Dari hasil penerawangan mata batinnya, secara umum, sosok ini tidak mengganggu aktivitas manusia. Namun bila ada aktivitas tak pantas dan garis tangan manusia bertemu sosok Buaya Putih, maka secara gaib bisa dibawa ke istana dengan berpusaran deras. Namun istana gaib tersebut dihiasi berbagai macam perhiasan yang tentunya sangat indah.

“Sosok gaib ini akan muncul atau menampakan wujud dengan tanda adanya pusaran melingkar disalah satu titik tepat dibawah jembatan Kahayan,” kata Mbah Bedjo sambil terlihat matanya terpejam dan menunjuk ke arah tengah sungai Kahayan.

Dikatakan paranormal kelahiran provinsi Jawa Tengah ini, Buaya Putih ini bisa berubah wujud berbagai macam. Mulai dari bocah baik perempuan maupun laki-laki, hingga orang tua dengan menggunakan tongkat dan biasanya duduk diatas arus sungai. Bahkan terkadang bisa menjelma menjadi sejenis ikan namun berwujud Buaya. Tak hanya itu, jubah dari Buaya Putih ini pun terkadang bisa dilepas dan memiliki kesaktian yang tidak bisa diremehkan.

“Saat saya baru menginjak lokasi ini saja, aura Buaya Putih lebih besar dari makhluk lainnya. Namun sosok itu nampaknya ramah dan meminta tidak melakukan ritual yang membahayakan,” tutur Mbah Bedjo sambil berkomat-kamit membaca mantra dan doa.

Dikatakannya lagi, usia dari Buaya Putih ini lebih dari ribuan tahun bahkan telah memiliki keturunan. Dari keturunan ini pula, mempunyai kesaktian yang berbeda-beda tergantung kemauan Raja Buaya Putih. “Disini ada Raja dari segala Buaya Putih disungai Kahayan, saya melihat dia bijaksana dan memiliki wibawa yang besar,” kata Mbah Bedjo.

 

Part 2:

“Sosoknya Besar, Bertaring dan Bertanduk Menyala”

Dikawasan jembatan Kahayan ini terdapat perkampungan makhluk gaib dengan istana bertahtakan batu mutiara dan intan. Lokasi yang kerap kali menjadi tempat korban tewas tenggelam ini, ternyata memiliki penguasa gaib berumur jutaan tahun.

Mbah Bedjo menyebutkan bahwa sosok penguasa gaib itu dari jenis Jin, Genduruwo dan Setan. Tetapi dialiran sungai ini ada yang baik dan ada yang jahat.

Hal ini ditunjukan dengan aura negatif dan positif, yang ia terima semenjak kaki dilokasi tersebut. Sosoknya besar dengan taring panjang hingga satu meter dan tanduk berwarna merah menyala. Sementara sosok satunya nampak samar-samar walaupun mempunyai rupa.

“Saya lihat memang seperti itu, kekuatannya memang dahsyat. Tapi bila dibandingkan dengan pulau Jawa, kekuatannya hampir serupa namun lebih tua di kawasan Jawa,” ungkap Mbah Bedjo.

Dijelaskannya sosok penguasa tersebut memiliki prajurit dengan berbagai bentuk dan rupa. Mulai dari wajah rupawan hingga penuh belatung dan sangat menakutkan. Bahkan terkadang dikawasan ini mereka bisa menampakan diri, itu dipohon besar disebelah kiri dan disamping tiang jembatan,” tunjuk Mbah Bedjo terlihat menatap tajam di dua lokasi tersebut.

Dikatakannya secara umum kawasan dibawah jembatan dan aliran sungai Kahayan tergolong banyak misteri yang belum terungkap. Namun yang dirinya lihat ini hanya sedikit saja, tetapi bila didalami lebih jauh lagi akan memberikan sesuatu hal yang berbeda, memang berbeda antara Kalimantan dan Jawa,” ucap Mbah Bedjo.

(sumber: Palangka Ekspres)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply