Penghuni Gaib Sungai dan Jembatan Kahayan (Bag. 2)

 Cerita Dayak

siluman buaya putih

Part 3:

“Banyak Kuyang Cari Mangsa, Minum Darah Untuk Jaga Kesaktian.”

Saat pagi hingga sore hari, kawasan bawah jembatan ini cukup ramai. Banyak penjual makanan, kawasan ini kerap dijadikan wadah untuk bersantai. Namun berdasarkan penerawangan Mbah Bedjo, saat syuting bersama Tukul dan kawan-kawan belum lama ini, kawasan itu tak hanya dihuni sosok bertaring dan bertanduk menyala, namun juga dihuni oleh makhluk halus lainnya.

Orang Dayak menyebutnya Hantimang atau Hantuen. Namun lebih populernya disebut Kuyang. Sosoknya perempuan manis dan cantik, tapi bisa terbang diudara dengan kondisi organ terburai, memiliki rambut panjang dan tanpa busana.

 

Sosok ini nampaknya mendominasi penghuni gaib dikawasan Jembatan Kahayan. Bahkan sering berterbangan untuk mencari mangsa. Ini membuktikan bahwa makhluk gaib ini banyak dan mencari mangsa disaat-saat tertentu. Makhluk ini mencari mangsa ibu hamil dan baru melahirkan. Caranya dengan menghisap darah hingga habis khususnya dibagian ari-ari atau plasenta. Menurutnya aura terhadap sosok Kuyang ini tidak ada yang positif, melainkan seluruhnya negatif.

 

Tak hanya itu, sosok ini memiliki keharusan untuk mencari darah dan meminumnya. Ini dimaksudkan untuk menjaga kesaktian dan paras wajah ayu saat sosok ini berubah wujud menjadi manusia. Jangan salah, Kuyang bila siang berkehidupan biasa, sama seperti kita manusia. Tetapi memiliki kelebihan dalam ilmu kebatinan, biasanya dia menjauh dan tidak hendak mendekat. Umur Kuyang ini cukup tua, makhluk yang digolongkan kedalam roh jahat dan dari golongan manusia namun memiliki ilmu kesaktian. Dan untuk mencegah kedatangan Kuyang ini Mbah Bedjo menyarankan untuk lebih bertaqwa kepada Tuhan, baca kitab suci dan berdoa.

 

Part 4:

“Ada Buaya Jadi-jadian, Ganggu Warga Lewat Bisikan Yang Menghasut.”

Sebelum jembatan berdiri kokoh membentangi Sungai Kahayan, kawasan tersebut lebih angker dibandingkan saat ini. Bukan hanya dihuni Kuyang, Jin, dan makhluk gaib lainnya, namun juga buaya jadi-jadian.

 

Dahulu kekuatan disekitar kawasan ini jauh lebih dahsyat dari sekarang ini. Ini karena sebagian besar penghuni gaib secara suka rela berpindah ke lokasi lain. Tetapi sebagian menolak dengan alasan lokasi ini memang memberikan kenyamanan. Makhluk gaib yang masih bertahan hampir seluruhnya memiliki aura negatif. Bahkan terkadang bisa mengganggu maupun menjahili manusia. Salah satunya hasutan untuk terjun dari atas jembatan. Berpindahnya sebagian penghuni gaib, setelah melakukan ritual seperti memberikan sesajen atau semacam persembahan bagi mereka. Isinya seperti biasa darah hewan, kembang tujuh rupa dan sesajen yang diberikan bagi penguasa gaib. Sebagian penghuni tersebut bersedia pindah ke lokasi lain. Namun tidak jauh dari aliran sungai terpanjang di Bumi Tambun Bungai ini.

 

Part 5:

“Arwah Korban Tenggelam Dijadikan Penghuni Istana.”

Sudah banyak nyawa yang melayang akibat tenggelam tertelan arus di Sungai Kahayan. Ada yang berhasil ditemukan, ada pula yang tidak ditemukan. Baik itu tercebur secara tidak sengaja, tidak bisa berenang hingga diduga melakukan bunuh diri.

 

Berdasarkan penerawangan Mbah Bedjo, bahwa arwah korban tenggelam ada didalam istana. Penghuni gaib menjadikan mereka, baik itu sebagai anak kesayangan, menjadi teman hingga dijadikan sebagai pembantu dilingkungan istana bertahtakan batu permata.

 

Para korban tersebut memiliki tugas masing-masing. Bahkan nampak ada beberapa yang dijadikan pelayan seperti seorang pembantu. Namun beberapa lainnya nampak senang dan bahagia didalam istana itu. Menurutnya perlakuan penghuni gaib di Jembatan Kahayan terkait korban tenggelam, berbeda-beda tergantung perangai saat yang bersangkutan masih hidup dan ada didunia nyata. Bila perbuatan mereka serin g buruk maka perlakuan pun jelas diterima buruk. Namun bila sebaliknya, maka kehidupan yang sangat indah akan diterima arwah tersebut.

 

Part 6:

“Jangan Mengganggu, Isyarat Minta Izin Bisa Membunyikan Klakson.”

Aura alam gaib di kawasan Jembatan Kahayan negatif alias hitam. Satu hal yang nampaknya harus dilakukan saat memasuki Jembatan Kahayan dari arah Palangkaraya maupun sebaliknya, yaitu membunyikan klakson sebanyak 3 kali.

 

Hal ini dilakukan sebagai isyarat untuk meminta izin melewati kawasan tersebut. Baik itu menggunakan sepeda motor  maupun mobil. Menurutnya hal ini menggambarkan maupun memberi isyarat atau kata lainnya mengetuk pintu baik-baik, agar tidak terjadi apa-apa saat melewati Jembatan Kahayan ini. Disini kan terdapat istana dan ratusan penghuni gaib, bila kita membunyikan klakson ya semacam meminta iizin atau numpang lewat dilokasi ini,” ucap Mbah Bedjo.

 

Namun hal tersebut kata Mbah Bedjo, jangan sampai membuat manusia menjadi ketakutan dan berani menantang maupun mencoba mengolok. Tetapi dengan bijaksana Mbah Bedjo menyebutkan bahwa berserah diri dan yakin terhadap Tuhan Yang Maha Esa jauh lebih dahsyat dari kekuatan penghuni gaib disekitar kawasan tersebut. “Intinya kita jangan sampai mengganggu, dan semua Insya Allah akan berjalan lancar,” pesannya.

 

(sumber: Palangka Ekspres)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply