Pertempuran Di Kuta Bataguh Tanjung Pematang Sawang

 Cerita Dayak

Cerita Dayak Perang Kupang

Bataguh adalah nama sebuah kecamatan di kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah, letak wilayahnya berada di muara sungai Kapuas Murung. Alkisah Sempung sudah mengambil Nyai Nunyang menjadi istrinya dan di anugerahi seorang putri yang diberi nama Nyai Undang yang kelak menjadi Ratu dari negeri Tanjung Pematang Sawang, seorang putri yang sangat cantik parasnya, seperti dewi turun dari kayangan. Maka Sempung bermaksud akan mengambil Sangalang cucu dari Karangkang menjadi menantunya.

Banyak yang datang melamar, sedangkan Nyai Undang sudah bertunangan dengan saudara sepupunya Sangalang (anak Lintung cucu Karangkang ).

 

Suatu ketika mampirlah dinegeri Tanjung Pematang sawang  tiga buah Pecalang (perahu layar kecil bertiang satu). Karena memperkenalkan diri sebagai orang Bangsawan, mereka disambut dengan ramah oleh penduduk Tanjung Pematang Sawang secara adat. Pesta yang diiringi dengan minum-minum tuak dan Manasai (menari untuk menghormati tamu) mengelilingi sangakai Lunuk ( Sangkaraya yang terbuat dari Beringin) dilakukan, ditingkah pukulan gandang (gendang) dan Garantung (gong).

 

Ialah Nawang, orang bangsawan pemimpin tiga pecalang itu adalah adik seorang Raja dari negeri Solok (Sulu), di kepulauan Mindanao. Ia ditemani dua orang pengawalnya yang perkasa Daeng Dong dan Dayoh Boloang. Dalam kesempatan pertemuan itu Nawang sempat melihat Nyai Undang, dan hatinya pun langsung terpaut. Walaupun telah pula didengarnya bisik-bisik tentang  semua lamaran  yang  banyak ditolak  karena Nyai Undang  telah mempunyai tunangan, Nawang tak perduli.

 

Beberapa hari  kemudian, Nawang diundang  menghadap ke betang istana Nyai Undang. Nawang  datang  bersama  kedua pembantu  setianya. Setelah  sama  minum seteguk tuak dari tanduk  kerbau  berukir  terbungkus  anyaman  manik-manik, Nyai Undang  menanyakan  maksud  kedatangan  Nawang.  Sambil mengangsurkan sebuah  nampan kencana bertutupkan  kain tenun yang  halus bagaikan sutera,  Nawang  membukanya dan  terlihatlah  seperangkat bahan  pakaian bersulam  dan perhiasan  yang  bertatah kan  permata  serta mutiara.

 

Nyai  Undang  dengan tenang  mendorong  kembali  nampan  itu seraya berucap “Hormat kami  pada  kakak  sangatlah  tinggi. Sayang  permintaan  ini sudah  terlambat, kami tak dapat  melanggar  janji  pada sanak  keluarga yang  sudah  mengikat  kami. Jika berkenan anggaplah  kami  sebagai  adik sendiri “.

 

Menghadapi  hal  yang  sulit dipecahkan  terutama dalam  pertentangan  kehendak, pengakuan  saling  angkat  saudara  sebenarnya dapat  menengahi  permasalahan. Tapi  mabuk kepayang  yang  sudah  menimpa Nawang  telah  menutup hati  nuraninya  yang  kini  penuh terbungkus  nafsu. “ Nyai, aku  sudah  menaruh  tekad  pantang  untuk  berbalik  pulang  sebelun  niatku tercapai”, ucap  Nawang  lagi  menegaskan.

 

Nyai  Undang  berdiri berbalik badan dan  melangkah  masuk ke ruang  dalam tanpa berkata-kata lagi.  Nawang  yang  sudah  gelap mata  karena cintanya,  tanpa  mengindahkan orang  banyak  yang  hadir  di ruangan  itu, serta  adat  yang  berlaku  lalu  berdiri  menyusul Nyai  Undang  masuk dan  meraih  tangan  Nyai  itu  yang  berada di balik tirai.

 

Nyai  Undang  merasa  lelaki  ini sudah  keterlaluan  dan  hal ini  sudah  membuat malu dirinya. Dengan  cepat ia menghunus  duhung  (senjata tradisional  pemimpin Suku Dayak, matanya  berbentuk  tombak),  Raca Hulang  Jela  terbuat dari  sanaman  matikei yang  tergantung  di  dinding  lalu dengan  cepatnya  menikam Nawang  yang  tak  menyangka  akan  serangan  mendadak tersebut.

 

Melihat  Nawang  yang  roboh  bermandikan  darah,  Daeng  Dong  dan Dayoh Bolang serta seluruh awak  pencalang  lalu  mengamuk  menuntut bela.  Namun  Nyai  Undang  yang sudah  sawuh (mata gelap)  serta warga Tanjung  Pamatang  Sawang  yang  jumlahnya  lebih bayak,  lalu dengan  lugas  pula. Banyak pasukan Nawang dibantai  tanpa  kenal ampun, namun ada juga yang marup menyerah dijadikan tawanan, dan ada sebagian kecil yang sempat melarikan diri.

 

Berita kematian Nawang dibawa pulang sisa balatentaranya yang sempat melarikan diri ke negerinya. Kakaknya raja Sawang berniat membalas dendam atas kematian adiknya itu. Puluhan pencalang (sejenis perahu layar) dengan sepuluh ribu orang pasukannya lalu disiapkan untuk menyerang negeri Tanjung Pematang Sawang.

 

Akibat peristiwa ini membuat Nyai Nunyang jatuh sakit hingga ia meninggal dunia. Terpaksa Nyai Undang mengganti almarhum ibunya memimpin negeri Tanjung Pamatang Sawang. Menyadari akibat perbuatannya dengan segera pula Nyai Undang lalu mengirimkan totok bakaka (pesan dengan bahasa isyarat) berupa lunju bunu (tombak pembunuh) kepada seluruh keluarganya sepanjang sungai Kapuas dan sungai Kahayan, meminta bantuan karena desanya dan seluruh suku bakal diserang musuh.

 

Dari pasukan Nawang ada beberapa orang yang masih dapat melarikan diri dan membawa kabar tentang jalannya pertempuran. Setelah mendengar kabar inilah maka seluruh rakyat Raja Sawang berjanji akan menuntut balas untuk kematian Nawang. Semua sisa-sisa balatentara Nawang yang menjadi tawanan tadi akhirnya bercampur baur kawin dengan suku dayak, sehingga mereka dikemudian hari kelak menjadi satu turunan yang besar yang akhirnya juga menjadi nenek moyang dari suku bakumpai ialah Tamanggung Pandung Tandjung Kumpai Dohong, dan dari suku barangas ialah Suan Ngantung Rangas Tingang, serta dari suku alalak ialah Imat Andjir Serapat.

 

Rambang dan Ringkai segera pergi menuju ke Tanjung Pamatang Sawang untuk mengatur strategi. Setelah semuanya berkumpul diputuskan bahwa negeri Tanjung Pamatang Sawang harus dibuatkan kuta (benteng tradisional dari kayu ulin bulat, batang kelapa, batang  pinang, bambu dan jenis palma lain).

 

Randan dari Mantangai memimpin pencarian kayu ulin di sungai  Mangkutup anak sungai Kapuas. Kayu ulin bulat dengan sengkang (diameter) satu setengah jengkal itu diramu, dibawa milir sampai ke Tanjung Pamatang Sawang dengan Lanting Panjang Garing Langit (dibuatkan rakitnya) selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya selama lima hari lima malam seluruh negeri Tanjung Pamatang Sawang telah dikelilingi dengan kuta dari kayu ulin bulat yang dipasang tegak dengan rapat setinggi enam meter pada areal berukuran panjang seribu meter dan lebar seribu meter, hingga dinamakan Kuta Bataguh (kota yang diperkuat).

 

Sedangkan Bungai dan Tambun sementara itu tetap di Tumbang Pajangei, mengajar berkelahi (berperang) suatu pasukan yang orangnya terdiri dari para pemuda keluarga mereka dahulu itu, yang berdiam sepanjang sungai Kahayan di desa Tumbang Miri di hulunya sampai desa Tumbang Rungan di hilirnya.

 

Setiap orang dari keluarga keturunan Lambung, Lanting dan Karangkang yang dikumpulkan menjadi seperti sebuah balatentara dibawah pimpinan Bungai, akhirnya pasukan itupun tiba dan sudah berada di Kuta Bataguh. Beberapa hari kemudian terlihatlah puluhan pencalang-pencalang raja Sawang mendekati Kuta Bataguh.

 

Beberapa nama-nama para kepala suku (panglima) yang turut serta dalam membela negeri Tanjung Pematang Sawang diantaranya adalah:
-Njaring anak Ingoi dari Hulu Miri
-Bungai anak Ramping dari Tumbang Miri
-Temanggung Kandeng keponakan Piak Batu Nocoi Riang Naroi
-Isoh dari Batu Nyiwuh
-Etak dari kampong Tewah
-Temanggaung Handjungan dari Sare Rangan
-Temanggung Basi Atang dari Penda Pilang
-Temanggung Sekaranukan dari Tumbang Manyangen
-Temanggung Renda dari Baseha
-Temanggung Rangka dari Tumbang Rio
-Temanggung Kiting dari Tanjung Riu
-Temanggung Lapas dari kampung Baras Tumbang Miwan
-Temanggung Basir Rumbun dari teluk Haan
-Temanggung Hariwung dari Tumbang Danau
-Temanggung Dahiang bapa Buadang dari Sepang Simin
-Temanggung Ringkai dan Tombong dari Tangkahen
-Temanggung Uhen dari kampung Manen
-Temanggung Kaliti dari Rawi
-Rakau Kenan dari Tumbang Rungan
-Temanggung Kandang Henda Pulang dari Sugihan (Guhong)
-Temanggung Andin dari Pulau Kantan.
Menurut tetek tatum jumlah semua para panglima (kepala suku) itu dengan para pengikutnya diperkirakan berjumlah sekitar lima ribu orang.

 

Semua Panglima Perang dari sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan, Seruyan telah berkumpul didalam kota itu. Semua menjadi satu dengan tekad dan satu dasar ialah kerjasama yang erat. Sebelum peperangan dimulai maka Rambang dan Ringkai menenung sambil menyanyi. Maka dengan tiba-tiba datanglah burung Elang dan memberi tanda menang.

 

Dari luar benteng, Panglima Latang, wakil raja Sawang mengatakan bahwa kedatangan mereka ke situ untuk menghukum penduduk Kuta Bataguh, menyerah tanpa syarat. Rambang, secara damai mengajak untuk berunding serta terlebih dahulu ingin menjelaskan duduk perkaranya, namun ditolak dan mereka lalu kembali ke pencalangnya.

 

Puluhan pencalang mendekat ke tepi dan berlompatanlah ribuan orang bersenjatakan tombak, pedang dengan perisai tembaga, lalu menaiki dinding benteng. Tetapi sampai di atas mereka disambut oleh tebasan mandau, yang bagai menebas ilalang saja. Ada pula yang jatuh tanpa sempat berteriak lagi terkena anak sumpitan beracun. Beratus-ratus orang memikul sepotong kayu bulat sebesar drum menumbuk pintu benteng berdentung bunyinya, namun tidak dapat mereka hancurkan karena pintu benteng itu dibuat dari kayu ulin dua jengkal tebalnya.

 

Dengan tidak takut akan maut, mereka melawan dan menyerang musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari mereka. Dengan alat-alat senjata yang ada dan segala pusaka dari nenek moyang suku Dayak pertempuran berlangsung dengan seramnya. Darah mengalir dari tubuh balatentara musuh yang mati, membasahi tanah dan menjadikan air sungai berubah menjadi merah warnanya.

 

Nyai Undang berdampingan dengan tunangannya Sangalang turut berperang dan mereka berdua memang sengaja mencari raja Sawang saja. Dengan rambut terurai akhirnya Nyai Undang bertemu juga dengan raja Sawang, ia dapat membunuh raja itu dan membayar sumpahnya ingin berkeramas dengan darah raja Sawang yang dianggapnya penyebab kematian ibunya. Dapat dibayangkan betapa keadaan pertempuran itu, karena hanya dengan kekuatan lebih kecil dapat mengalahkan sepuluh ribu orang. Tetapi Panglima-Panglima suku Dayak semuanya tidak ada satu orang pun yang luka atau mati terbunuh oleh senjata musuh, karena mereka memakai pusaka dari Ranying.

 

Setelah perang itu usai serta mayat-mayat dikuburkan baik-baik, dilaksanakan upacara membersihkan tanah air mendinginkan negeri, maksudnya agar bumi kembali sejuk dan tetumbuhan kebun ladang memberikan hasil lagi sebab telah tertumpah darah panas akibat perang itu. Sekaligus dilaksanakan pula upacara meneguhkan hati para pemimpin pertempuran dan seluruh mereka yang telah berperang, tujuannya meminta ampun kepada Tuhan terhadap perbuatan membunuh manusia dalam perang itu. Selagi mengadakan pesta itu semua utusan suku Dayak dari seluruh Kalimantan di undang.

 

Sesudah kedua upacara itu dilaksanakan, Rambang lalu mengusulkan mengapa tidak dilangsungkan saja perkawinan Sangalang dan Nyai Undang, mumpung semua keluarga masih berkumpul serta agar tidak ada lagi lamaran orang yang membuat permasalahan. Pendapat Rambang disetujui orang banyak dan malah bukan hanya satu pasangan saja melainkan empat pasangan lagi yakni Bungai dengan Karing, Tambun dengan Burou, Ringkai dengan Timpung serta Rambang sendiri dengan Lamiang. Seluruh keluarga Lambung (Raja Bunu), Lanting (Raja Sangen) dan Karangkang (Raja Sangiang) berkumpul ke Kuta Bataguh, untuk menyelenggarakan perkawinan lima pasangan itu, selama empat puluh hari empat puluh malam. Dan selain itu Mangku Djangkan membikin pesta besar di Pulau Kantan mengawinkan Njaring anak Ingoi dengan Manjang anak Mangku Djangkan, pesta itu tujuh hari tujuh malam lamanya.

 

Sedikit catatan tentang Kuta Bataguh negeri Tanjung Pematang Sawang. Kota ini turun temurun berganti-ganti orangnya yang menjadi Raja disitu. Dan kotanya juga mengalami banyak perubahan dan pergantian seiring waktu.. Hanya dalam tetek tatum tidak diceritakan tentang perubahan kota itu secara detil. Konon kabarnya di tempat itu pernah ditemukan meriam dan bekas peninggalan-peninggalan dari masa kejayaan Kuta Bataguh. Ditempat itu juga sudah diadakan parit yang di namai Terusan Bataguh. Hingga sekarang sering disebutkan bahwa di kota Bataguh masih terdapat sisa sisa peninggalan kayu-kayu ulin yang menjadi tiang atau tembok kota itu, yang luas temboknya konon tidak kurang dari 5 kilometer persegi.

(sumber: Tjilik Riwut. 1979. Kalimantan Membangun, porabudparkapuas.wordpress.com)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply