Mengenal Lebih Jauh Suku Dayak Segandu Indramayu

 Kabar

suku dayak segandu

Perkampungan Dayak tersebar merata di Kalimantan. Tapi siapa sangka, di Indramayu juga ada perkampungan Dayak atau lebih dikenal dengan sebutan Suku Dayak Hindu Budha Segandu Losarang. Apa bedanya mereka dengan etnis Dayak di Kalimantan, ayo kita cari tahu!

 

Perkampungan Dayak Sugandu bukanlah suku asli Kalimantan, melainkan sebuah perkampungan yang berada di kawasan Losarang, Indramayu. Mereka adalah sekumpulan orang yang memiliki ajaran dan gaya hidup yang berbeda dengan suku di Indonesia pada umumnya. Bahkan tidak diatur dalam kehidupan oleh pemerintah. Dayak Sugandu sendiri berarti mengayak pribadi. Mereka tidak berhubungan dengan suku Dayak dari Kalimantan.

 

Ajaran dan suku ini sendiri mulai terbentuk pada tahun 1970. Ta’mad (Eran Takmad Diningrat Gusti Alam), sang pendiri menemukan titik jenuh akan aturan pemerintah. Melihat keadaan sekitar yang tidak berubah, Ta’mad mulai instropeksi diri dan menyadari bahwa cara tersebut adalah paling baik bagi manusia. Selain itu, filosofi kehidupan mereka adalah alam. Bagaimana cara terbaik untuk mendekatkan diri dengan alam. Mereka percaya bahwa inti ajaran dalam hidup adalah alam.

 

Maka, nilai-nilai alamiah harus dihargai dan dijunjung tinggi. Seperti menghargai perempuan dan anak. Bahkan para kaum pria rela untuk mencari nafkah sekaligus mengurusi pekerjaan rumah tangga seperti memasak. Bagi mereka, kaum perempuan memiliki martabat tinggi karena dari perempuanlah lahirlah individu-individu baru. Hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh pria siapapun dan dimanapun.

 

Begitu pun dengan anak yang lugu dan dianggap selalu benar. Oleh karena itu, pria Suku Dayak Sugandu berpatokan untuk mengabdi kepada perempuan terutama ibu, istri serta anak mereka. Selain itu, semua aspek kehidupan mereka berdasarkan alam. Seperti penggunaan warna hitam dan putih sebagai penanda adanya siang dan malam. Mereka tidak menggunakan baju atasan terutama kaum pria. Mereka juga tidak makan daging untuk menghormati sesama mahluk hidup yang bernyawa.

 

Mereka biasanya melakukan ritual rendeman atau biasa disebut kumkum yang berfungsi untuk melatih kesabaran. Kumkum ini dilakukan selama 4 bulan dalam setahun. Prosesi Kumkum dimulai dengan melakukan kidung di malam hari sekitar pukul 23.00 WIB. Usai kidung, mereka beranjak ke sungai kecil di dekat perkampungan mereka. Kemudian merendamkan diri hingga esok pagi.

 

Mereka tetap dengan tidak menggunakan baju atasan. Selama 8 jam mereka harus menahan dingin dan juga gigitan ikan-ikan kecil yang usil di dalam sungai kecil tersebut. Ya, memang sangat melatih kesabaran. Tidak semua orang bisa melakukan dalam sekejap. Butuh latihan perlahan-lahan untuk membiasakan diri dengan suhu air dan udara malam. Usai berendam semalam, ritual belum berhenti sampai di situ. Mereka melanjutkan dengan mepe alias berjemur.

 

Mereka berjemur hingga celana mereka kering. Memang fungsi mepe untuk mengeringkan badan sekaligus mendekatkan diri dengan alam dan tanah. Hasil dari ritual ini, mereka merasa menjadi orang yang baru. Kemudian kembali mencari nafkah cukup selama 8 bulan untuk hidup bersama anak dan istri. Kalau ada rezeki lebih, biasanya diberikan kepada yang membutuhkan. 4 bulan sisanya digunakan untuk melakukan ritual.

 

Mereka adalah suku tanpa memiliki kartu identitas. Bukan berarti mereka menentang negara Indonesia. Meskipun berbeda paham dan agama mereka tetap bagian dari Indonesia. Bagi mereka kartu idetitas hanyalah sebuah kartu yang merepotkan. Identitas utama mereka adalah diri mereka yang kasat mata dan dibawa kemanapun mereka pergi. Meski sempat mengalami kesulitan karena tidak punya KTP saat berpergian ataupun mengurus surat-surat penting lain.

 

Asal Mula Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu

Menurut Panglima Perang Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu,Tarxim Bin kalsim, bahwa Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Suku Dayak yang ada di Kalimantan.

“Hindu di sini bukan agama, karena kami hanya memiliki keyakinan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak dibungkus dengan baju yang namannya Agama,” jelas Tarxim Bin Kalsim.

Menurut Tarxim, Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu sendiri memiliki arti, Suku yang berarti Kaki, Dayak yang berarti Ramai, Hindu yang berarti di dalam rahim atau kandungan, Bumi yang berarti wujud, Segandu yang berarti seluruh badan, Indramayu berarti inti yang paling dalam Darma terhadap orang tua dan Ayu yang berarti  wanita.

“Bila diartikan secara menyeluruh Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu, kaki melangkah berdasarkan kepercayaan yang sudah dibawa sejak dalam kandungan untuk berbakti kepada alam, orang tua dan wanita,” paparnya.

Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu memiliki pengikut cukup banyak dan terbagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama, dikenal dengan nama Dayak alami, yaitu anggota Suku Dayak tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana pendek sebanyak 100 orang. Dan dalam kehidupan sehari-hari, selain menggunakan pernak-pernik suku mereka, seperti gelang tangan, kalung,ikat celana dari ayaman bambu, di leher mereka lambang Pancasila selalu dikenakan.

“Selain melambangkan negara, Pancasila juga melambangkan persatuan kita semua. Meskipun kita berbeda-beda, namun kita dipersatukan dengan lambang Pancasila. Dan ini wajib kita kenakan,” terang Tarxim.

Kelompok kedua, biasa dikenal dengan nama Dayak Preman. Untuk kelompok kedua ini yaitu komunitas suku Dayak yang menggunakan pakaian lengkap dan berwarna-warni, jumlahnya cukup banyak, yaitu 7000 orang dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia.

Sedangkan kelompok ketiga yaitu Dayak Ibu, hanya beranggotakan perempuan, baik dewasa maupun anak-anak dan jumlahnya cukup banyak hingga mencapai 10 ribu anggota.

Menurut Tarxim, awal berdiri Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu berawal dari perkumpulan perguruan pencak silat yang didirikan kepala suku mereka, Eran Takmad Diningrat Gusti Alam. Keputusan untuk meninggalkan hiruk-pikuk duniawi dan menyebarkan kebaikan dan kesabaran diperoleh Eran setelah menjalani ritual topo bisu dan topo pepe yang hingga kini menjadi ritual wajib yang harus dijalani anggota kelompok ini.

Awalnya, hanya sang istri dan anak Eran Takmad Diningrat Gusti Alam yang menjadi pengikutnya. Namun, lambat laun ajaran yang mengadopsi salah satu tokoh pewayangan Semar ini mampu menarik perhatian masyarakat luas.

“Sebenarnya kami tidak pernah memaksa keluarga kami untuk menjadi masuk dalam kelompok kami. Mereka masuk karena mereka merasakan apa yang kami ajarkan bukan kekerasan, melainkan kedamaian abadi,” terang Tarxim yang mengaku dua putrinya ini menolak masuk mengikuti jejaknya.

Menurut Tarxim, untuk ritual topo bisu dan topo pepe yang ritual awal biasa digelar pada minggu pertama bulan pertama atau setiap malam Jumat kliwon,selama 4 bulan lima hari ini, hanya diikuti Dayak Alami yang beranggotakan 100 orang.

“Kenapa dimulai setiap malam jumat kliwon, karena alam menyampaikan pesannya setiap malam itu dan secara terus menerus hingga 4 bulan 5 hari. Intinya melatih kesabaran kita semua manusia,” ujarnya lagi.

(sumber: travel.detik.com/read/2013/07/31/080800/2078510/1025/di-indramayu-ternyata-ada-perkampungan-dayak?991104topnews & jogja.okezone.com/read/2012/03/07/511/588813/suku-dayak-hindu-budha-terasing-di-tempat-yang-asing)
, ,

 

 

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply