Dayak Apokayan

 Rumpun Dayak

dayak-kenyah-vivanews

Asal cerita orang orang Apokayan ini  berawal dari  daerah perkampungan “Lundaye“ warga yang berdiam di perbatasan Serawak dan Bulungan, yang bertujuan mencari daerah baru karena populasi mereka kian berkembang. Mereka secara berkelompok menyebar meninggalkan daerah Lundaye. Dari penyebaran tersebut salah satu kelompok terbesar mereka adalah orang orang yang disebut sebagai suku Kenyah sampai ke daerah Apau Da’a  Bulungan dan bermukim di tempat tersebut karena daerah ini subur dan kaya dengan hasil bumi yang mereka butuhkan.


Setelah cukup lama bermukim di Apau Da’a, populasi mereka kian pula bertambah, maka untuk lebih berkembang mereka membentuk 12 kelompok keluarga dan mengembara mencari wilayah baru untuk didiami.  12 kelompok tersebut terdiri dari 40 anak suku (Uma) atau keluarga menyusuri daratan dan sungai Kayan  hingga sampai kemana mana. Mereka yang keluar meninggalkan Apau Da’a, adalah Uma Bakung, Uma Lepu Tau, Uma Tukung, Uma Jalan, Uma Timai, Uma Baja, Uma Bem, Uma Badeng, Uma Ujok, Uma Pawa, Uma Awai, dan Uma Kayan Ma’ Leken.

 

Anak suku Kenyah ini amat ulet, berani, dan sangat menjaga kekerabatan serta adat budaya leluhur mereka sampai kemanapun. Pada setiap pemukiman mereka  selalu ada balai adat atau Lamin Pertemuan keluarga, selain untuk upacara dan penyambutan tamu.

 

Pada saat kini yang telah menetap seperti Uma Tau dan Uma Bakung mendiami Desa Sungai Barang, Desa Long Uro di Apokayan, sedang Uma Jalan menempati Desa Long Ampung, Long Nawang, dan Nawang Baru. Sedang anak suku lainnya menyebar dan menempati dibeberapa desa  wilayah adad Apokayan , seperti Desa Long Bata’oh,  Long Temuyat, Long Top,Long Lebusan, Long Anye, Lidung Payau, Long Payau, Mahak Baru, dan Dumu Mahak. Namun walau desa mereka berjauhan mereka tetap menjaga kekerabatan dan saling kunjung mengunjungi bila ada upacara  perkawinan, kematian, dan pesta panen tahunan.

 

Daerah Apokayan ditemukan oleh orang orang Kenyah asal Lundaye pada abad ke 16 dan menjadikan Apokayan sebagai basis  dan kawasan adat  Suku Dayak Kenyah, dimana setelah berkembang pesat dan berjalan selama dua abab maka pada abad ke 18 mereka mulai eksodus dan menyebar ke arah Kabupaten Kutai menyusuri  Sungai Mahakam, Sungai Kapuas Hulu, memasuki daerah kerajaan Berau, terus kehilir Sungai Kayan menuju Tanjung Peso, Tanjung Palas dan Tanjung Selor.

 

Perubahan adat kepercayaan terjadi pada awal abad 20 pada Suku Kenyah yang dibawa oleh Pemerintah kolonialis Belanda. Mereka mulai mengenal  peradaban baru  dan secara perlahan mengikis kepercayaan pada kepercayaan leluhur serta tradisi lain yang tak sejalan dengan hukum masyarakat modern, termasuk mereka mulai memeluk kepercayaan Kristen dan Islam, pendidikan serta sosial kemasyarakatan.

 

Yang mengenal perubahan ini adalah masyarakat yang telah meninggalkan  daerah Apokayan  dengan jumlah tak sedikit, yaitu sekitar 12 ribu jiwa sehingga di Apokayan sendiri tersisa sekitar 3.000 jiwa yang bertahan.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply