Dayak Apokayan

 Rumpun Dayak

Namun demikian walau tersisa sudah tak banyak, mereka yang tinggal tetap teguh dengan segala kepercayaan dan adat yang mereka percayai semenjak leluhur mereka. Pada setiap waktu mereka selalu melaksanakan upacara sakral yang mereka yakini. Mereka juga tidak perduli dengan keadaan di luar kawasan adat mereka.

Tetapi orang orang Kenyah ini adalah orang yang selalu menjaga kekerabatan secara utuh. Pada kenyataannya walau mereka pergi jauh dan terpencar kemana mana, namun tetap saja mereka pada waktu waktu tertentu kembali ke Apokayan untuk bertemu dengan warga dan tetuha adat yang masih ada.

 

Selain mereka kembali ke Apokayan dalam urusan adat dan keluarga, pada waktu waktu tertentu, mereka juga tak melupakan asal usul mereka yaitu daerah pertama yang disebut desa orang-orang Lundaye dan desa desa asal usul pertama di pedalaman perbatasan Bulungan Serawak.

 

Dasar utama mereka meninggalkan Apokayan adalah berkaitan pada masalah ekonomi. Karena lahan di Apokayan kian sempit terjadilah perpindahan mereka ke berbagai daerah di samping menghindari persaingan dan perebutan sesuatu wilayah subur yang bisa terjadi antara anak suku (Uma ) Kenyah.  Perginya penduduk ke daerah daerah subur yang ditemukan atau diberitakan oleh keluarga dan kerabat yang telah lebih dahulu pergi membuat Apokayan bertambah sepi.

 

Dalam upaya mengembalikan kehidupan Apokayan untuk menjadi sentral seni budaya dan adat Suku Kenyah, serta mengupayakan agar orang-orang Kenyah yang tadinya pergi bisa kembali ke Apokayan dan membangun Apokayan sebagai pusat keberadaan Suku Kenyah, pada tahun 1994 lalu di Apokayan  dilaksanakan pertemuan adat seluruh anak suku (Uma ) Kenyah  disertai pesta penen dan pagelaran budaya yang mereka sebut “Bangen Jenai Lale.”

 

Atau dengan arti Bangen adalah Pesta, Jernai adalah Makanan dan Beras, Lale adalah  Adat. Yang diambil dari kebiasaan sakral Suku Kenyah.

Sejak itulah kebanggaan sebagai Suku Kenyah ditampakkan ke berbagai wilayah. Semua orang yang berasal dari Suku Kenyah memiliki  atau memakai tanda kalau mereka adalah orang orang Dayak Kenyah  yang terbesar dan tersebar di seluruh pelosok Kalimantan.

 

Apokayan yang termasuk di dalam wilayah Bulungan ini memang tak berkaitan budaya atau darah dengan masyarakat atau bangsawan Bulungan. Orang Dayak Kenyah  tak memiliki raja atau kerajaan, namun mereka memiliki Kepala Suku dan Kepala Adat yang kedudukannya hampir sama dengan seorang raja. Apa kata Kepala Suku atau Kepala Adat, itulah yang  menjadi putusan hukum bagi masyarakat Kenyah.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply