Dayak Apokayan

 Rumpun Dayak

 

Sebenarnya daerah Apokayan ini adalah suatu daerah yang sangat indah dan alami, sehingga banyak turis mancanegara yang bertualang di daerah ini untuk menikmati keindahan alam serta ragam budaya yang dimiliki oleh masyarakat Dayak Suku Kenyah. Selain itu banyak pula dari kalangan budayawan asing melakukan penelitian  sejarah dan budaya  keberadaan Kenyah yang mereka anggap unik serta langka.

 

Keindahan alam Apokayan kini sudah dikenal oleh masyarakat mancanegara. Apalagi Apokayan juga memiliki hutan yang masih utuh penuh dengan flora dan fauna sehingga merupakan asset  jual yang bernilai tinggi.

 

Keindahan Apokayan adalah salah satu dari seribu keindahan  alam Kabupaten Bulungan, yang membentang dari ujung Apokayan hingga ke sisi pegunungan Kerayan, membujur kearah Lumbis, Malinau dan Mentarang; Kemudian dari Long Peso memanjang ke Long Pujungan, Sesayap, Sembakung, dan Nunukan, sampai ke pulau Sebatik.

 

Keadaan ini ketika Kabupaten Bulungan belum terbagi menjadi empat bagian yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten  Nunukan dan Kota Tarakan. Namun demikian hal tersebut adalah hanya persoalan pembagian administrasi dan untuk kepentingan percepatan pembanguan di wilayah utara Kalimantan Timur.

 

Walau demikian alamnya  serta seni budaya dan kondisi lingkungan tetap saja sama tak berubah. Keramahan penduduk Suku Kenyah ini sangat membuat siapapun akan terkesan selama hidupnya. Apalagi bagi  kalangan turis mancanegara. Ada diantara mereka yang jatuh cinta dengan Apokayan. Mereka rela tinggal dan mengawini gadis Apokayan yang kebanyakan cantik-cantik alami.

 

Pada umumnya mereka yang bertualang ke pedalaman dan desa desa di kawasan ini sudah merasa jenuh hidup di tengah tengah kota yang penuh bangunan bangunan beton. Apalagi dengan kebebasan dan cara hidup mereka juga sangat berbeda, walau agama kepercayaan mereka ada yang sama yaitu Kristen Protestan atau Katolik. Di lain itu disini mereka menemukan ketenangan dan kedamaian jiwa terlepas dengan segala tututan hidup yang selalu dalam persaingan.

 

(sumber: ceritadayak.com)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply