Dayak Kanayatn

 Rumpun Dayak

Dayak_Kanayatn_id.wikipedia.org

Dayak Kanayatn adalah salah satu dari sekian ratus sub suku bangsa Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, tepatnya di daerah kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak, Serta Kabupaten Bengkayang, sebagian kecil di kabupaten Ketapang serta kabupaten Sanggau.

ETIMOLOGIS

Dayak Kanayatn dikelompokkan ke dalam salah satu suku kecil Dayak Ot Danum, yang ditulis dengan istilah “Kendayan”, nama ini kemudian dipakai JU Lontaan untuk menunjuk suku Dayak yang berbahasa “ahe” atau banana’ di sekitar Ambawang yang berasal dari daerah Mempawah Hulu.

Penelitian yang kemudian, menunjukkan bahwa pengelompokan yang telah disusun CH Duman tersebut di atas, ternyata kurang tepat, sebab antara Dayak Kanayatn dan Ot Danum tidak menunjukkan hubungan yang dimaksud. Dari banyak segi misalnya wilayah , bahasa, populasi penduduk dan keragaman adat, Dayak Kanayatn tidak memiliki kaitan dengan Dayak Ot Danum. Dengan demikian pengelompokan suku Dayak di Kalimantan perlu dirumuskan ulang.

Nama Kendayan mulai dimusyawarahkan kembali supaya sesuai dengan istilah aslinya “Kanayatn” pertama kali dalam musyawarah adat Dayak Kanayatn sekecamatan Sengah Temila tanggal 23-25 Mei 1978, disusul dengan Musyawarah Adat I sekabupaten Pontianak (10 Kecamatan), tanggal 23-25 Mei 1985 di Anjungan, mulai saat itu publikasi dan penulisan istilah “Kendayan” dikembalikan ke istilah aslinnya “Kanayatn”, kemudian menjadi sebutan yang paling umum untuk menyebut suku Dayak yang berbahasa banana’ atau bahasa ahe.

Akan tetapi pengelompokan berdasarkan “bahasa banana’ ” ini pun belum sepenuhnya dapat diterima, sebab dalam kenyataannya, yang tergolong menggunakan kosa kata bahasa Kanayatn, bukan hanya dalam kelompok bahasa banana’, tetapi merupakan kelompok suku Dayak yang memiliki samaan kosa kata mencapai 95-98 % sama, juga termasuk kelompok ini, walaupun bahasanya bukan disebut bahasa banana’, misalnya banane’ hanya mengalami lapalisasi yang berbeda sedikit saja. Perbedaan hanya pada hurup ‘a’ (Kanayatn asli) berubah jadi ‘e’ (Kanayatn Banyuke), mungkin pengaruh bahasa Melayu. Di daerah lain, misalnya Samalantatn, ‘alapm’ (asli) jadi “a:apm” (Kanayatn Bakati’ dan Sidik-Senakin).

 

dayak-kanayatn

 

 

ASAL USUL DAN SEJARAH

Mengenai asal usul Dayak ada dua pendapat yang muncul, pertama, menyatakan bahwa suku Dayak berasal dari sekitar Cina Selatan. Pendapat ini dikemukakan beberapa antropolog, diantaranya Van Heine Gildern, yang menyelidiki penyebaran kebudayaan kapak persegi, di daerah Cina Selatan, sungai Yang Tse Kiang, Mekhong dan Manan.

 

Pendapat lain, merupakan bantahan terhadap pendapat pertama, pendapat ini dikemukakan oleh para peneliti Dayak seperti JU Lontaan, Tambun Anyang, Cholchester dan lain-lain yang menyatakan bahwa suku Dayak tidak berasal dari tempat lain, tetapi memang penghuni asli pulau Kalimantan. Hal itu dibuktikan dengan temuan tengkorak manusia purba Homosapiens tahun 1968, (tergolong tengkorak homosapiens tertua) berusia lebih dari 35.000, dan temuan fosil manusia purba di gua batu Niah dekat Bintulu (Sarawak), menurut Colchester (1988), hal itu membuktikan di Borneo (Kalimantan) sudah terdapat manusia sejak 50.000 tahun silam. Menurut mereka kedua temuan di atas membuktikan bahwa suku Dayak telah menjadi penghuni pulau Kalimantan sejak zaman permulaan, sejalan dengan cerita rakyat tentang asal usulnya.

 

Mengenai asal usul Dayak Kanayatn diungkapkan oleh lebih dari 80 pamaliatn (dukun perobatan) dan tokoh masyarakat, diantaranya Musin, menyatakan bahwa Dayak Kanayatn berasal dari satu tempat yakni “Gunung Bawang”. Hal itu dapat diketahui dari mitologi tentang asal usul Dayak Kanayatn dalam ritual perobatan baliatn ketika sang pamaliatn memanjat batang taman ia seolah-olah pergi ke gunung Bawakng dengan cara memanjat batang taman tersebut, karena diyakini sebagai tempat asal nenek moyang. Pendapat ini didukung dengan bukti pohon buah-buahan seperti nangka, langsat, durian dan mentawa’ dan lain-lain, sebagai tanda bekas tembawang (bekas tempat tinggal).
Bukti sejarah tentang asal usul Dayak Kanayatn adalah dapat ditelusuri dari sebuah altar berbentuk persegi empat, yang terdapat di puncak gunung bawakng, di tengah-tengahnya ada batu bulat telur. Simbol ini diidentifikasi sebagai lingga Yonni atau phallus sembol penyembahan kepada dewa Syiwa. Bagi Dayak Kanayatn sebagai tanda kadiaman (tempat penyembahan). Hal ini menjadi petunjuk bahwa pada mulanya orang Dayak tinggal di sekitar gunung Bawang. Hal tersebut diperkuat dengan adanya bekas tembawang atau kampung, yang berkembang menjadi binua Kanayatn.

 

Kelompok lainnya membuka ladang dan mendirikan kampung-kampung di sekitar Samalantan, Pemangkat dan sekitarnya, kemudian mendirikan pusat pemukiman di daerah Sidiniang (Sangkikng sekitar) dan menyebar ke arah timur menuju Sompak dan Pakumbang, sebagian melanjutkan menyebar ke daerah Banyuke, Sidik (Senakin), Pahauman, menyusuri anak-anak sungai Landak, sampai ke muara sungai Landak. Penyebaran terjadi terutama untuk membuka lahan pertanian baru, mencari daerah-daerah subur dan karena perkawinan.

 

Penyebaran terjadi juga untuk menghindari pengayauan antar sesama Dayak dan peperangan dengan suku Melayu dan Cina. Penyebaran secara besar-besaran di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Landak terjadi pada tahun 1967, dipimpin panglima laskar Dayak Kanayatn Rachmad Sahudin dalam upaya membantu pemerintah menumpas Pasukan Grilya Rakyat Sarawak (PGRS), Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) yang terkenal dangan peristiwa PGRS-Paraku. Etnis Cina di pedalaman Kalbar diusir karena dianggap kaki tangan PGRS-Paraku, disusul suku Dayak Kanayatn yang berpindah ke wilayah-wilayah dan kampung-kampung peninggalan Cina yang sebagian telah dibakar.

 

Suku Dayak Kanayatn di binua Ipuh pertama kali berjumlah lima orang, berasal dari daerah Mempawah Hulu kira-kira tahun 1730 M. Mereka berpindah ke daerah Ipuh untuk membuka lahan pertanian, menyebut diri dengan Dayak Samaya’. Gelombang kedua menyusul setelah peristiwa politik, pada saat pengusiran etnis Cina dari desa Ngarak dan Kayu Tanam tahun 1967, kedua desa Cina tersebut ditempati oleh suku Dayak Kanayatn dari hulu dan daerah-daerah sekitarnya.

 

 

RUMPUN SUKU DAYAK KANAYATN

Pembagian rumpun Dayak Kanayatn berbahasa Melayik Borneo Barat:

  • Suku Dayak Keninjal
  • Suku Dayak Kubitn/Kubing
  • Suku Dayak Kanayatn / Kendayan
  • Suku Dayak Damea
  • Suku Dayak Selako

 

 

KEPEMIMPINAN MASYARAKAT DAN LEMBAGA ADAT

Kepemimpinan adat dalam masyarakat perlu diketahui secara jelas, karena kehidupan agama suku sedikit banyak dipengaruhi oleh kebijakan pengurus adat. Pada Bagian ini yang akan dibahas adalah latar belakang kepemimpinan adat dan kepemimpinan adat tahun 1979 hingga sekarang.

a. Latar Belakang Kepemimpinan Adat

Sebelum masuknya pengaruh-pengaruh dari luar, masyarakat Dayak hidup di rumah panjang dan merdeka dalam wilayah adat kampungnya masing-masing. Setiap kampung dipimpin seorang kepala yang dianggap memiliki wibawa untuk memimpin masyarakat di bidang adat dan agama. Pola kepemimpinan tradisional ini barulah mulai dirubah zaman kesultanan Melayu yang dijajah oleh bangsa Belanda lambat laun menganggap wilayah Dayak menjadi wilayah kerajaannya.

 

Demikian pula di seluruh wilayah Dayak Kanayatn, pengaruh kekuasaan para sultan Melayu nampak dalam pembentukan-pembentukan daerah administratif, para temenggung diangkat para sultan untuk memimpin wilayah binua. Hanya Mangku dan Patih yang tidak diangkat oleh kesultanan Melayu, kedua jabatan ini didapat secara turun temurun, dengan sebutan “pangalima-pangalangok” Mangku adalah seorang kepala daerah (setingkat raja), dan patih adalah kepala keamanan, menjadi pemimpin perang menghadapi musuh. Di bawah mangku dan patih adalah temanggung, yang menjabat sebagai kepala binua bertanggung jawab kepada Sultan. Temanggung membawahi singa, singa membawahi sura, sura membawahi jaga, jaga membawahi kepala kampung, kepala kampung membawahi kabayan, dan kabayan langsung berurusan dangan masyarakat.
Kepemimpinan Masyarakat Zaman Kerajaan Melayu

  • Mangku-Patih-Raja/Sultan
  • Temenggung
  • Singa
  • Sura
  • Jaga
  • Kepala Kampung
  • Kabayan
  • MasyarakatAdat

 

Kerajaan Melayu runtuh zaman penjajahan Jepang, karena terbunuhnya para sultan, tokoh-tokoh kerajaan, dan tokoh-tokoh politik suku Melayu dan Cina yang seluruhnya mencapai 21.000 korban, dalam peristiwa Mandor. Setelah peristiwa itu daerah Dayak merdeka dari tekanan kerajaan Melayu, temenggung menjadi semacam raja-raja kecil di wilayah binuanya masing-masing sampai Indonesia merdeka.

 

b. Kepemimpinan Adat Tahun 1979 Hingga Sekarang.

Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979, tentang pokok-pokok pemerintahan daerah, di tingkat desa tugas kepala kampung dan temengung dipisahkan secara tegas, temenggung dijadikan aparat masyarakat belaka, sedangkan kepala kampung aparat pemerintah. Keadaan ini menimbulkan gerakan-gerakan untuk membangkitkan kembali kepemimpinan adat. Walaupun sebelum undang-undang tersebut diberlakukan, telah terasa adanya kemunduran wibawa para tokoh adat. Hal itu mendorong diadakan musawarah adat sekecamatan Sengah Temila, tanggal 23-25 Mei 1978, yang berhasil membentuk koordinator adat untuk kecamatan Sengah Temila, membawahi 12 Temenggung dan 1 Punggawa. Selanjutnya setelah UU Nomor 5 tahun 1979 diberlakukan, muncul reaksi yang lebih kuat dengan diadakannya musyawarah adat tingkat Kabupaten sekabupaten Pontianak (sebelum pemekaran kabupaten Landak), tanggal 23-25 Mei 1985 di Anjungan yang dihadiri oleh tokoh adat dari 10 Kecamatan. Setelah Musyawarah Adat I ini lembaga adat diberdayakan dan dimodernisasi dengan nama Dewan Adat Dayak (DAD) dan Majelis Adat Dayak (MAD). Dewan Adat dibentuk di tingkat Kecamatan, Kabupaten dan di tingkat Propinsi dibentuk Majelis Adat.

 

Secara garis besar tugas-tugas Dewan Adat adalah sebagai berikut :1) Menjadi koordinator pelaksanaan adat istiadat dan hukum adat. 2) Menyeragamkan dan menertibkan pelaksanaan sanksi adat di wilayah Dayak Kanayatn. 3) Mengembangkan adat, hukum adat, bahasa adat, peraga adat, kepercayaan adat dan seni budaya. 4) Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat adat dalam rangka menggali melestarikan budaya adat secara terencana, terarah dan terpadu. 5) Menjadi mediator antara pemerintah dan masyarakat adat dalam pembangunan. Moto Dewan Adat menjalankan fungsinya tersebut adalah “adil ka’ talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ Jubata” , artinya: adil kepada manusia, bercermin ke sorga dan bernafas kepada Tuhan.

 

Dewan Adat Dayak (DAD) dan Majelis Adat Dayak (MAD) merupakan badan musyawarah adat (bukan fungsionaris), tetapi Ketua Dewan dan Majelis Adat merangkap pula kepala adat (tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Propinsi) sehingga menjadi fungsional. Berdasarkan hasil Musyawarah Adat II tahun 1991:

 

Kepengurusan setiap tingkat Dewan Adat, terdiri atas seorang pelindung, penasehat dan pengurus yang dilengkapi biro-biro. Pengurus inti terdiri dari seorang ketua dan wakil-wakilnya kemudian dibentuk biro-biro antara lain : biro budaya, biro usaha, biro organisasi, biro dokumentasi, biro pemuda dan perencanaan, masa kepengurusan ditentukan tiap 5 tahun.
Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 3 tahun 1997, tentang pemberdayaan dan pelestarian serta pengembangan adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan lembaga adat daerah, sejauh tidak bertentangan dengan hukum nasional, semakin menguatkan peran lembaga adat. Pengurus adat pada masyarakat Dayak Kanayatn sekarang adalah : temenggung, pasirah dan pangaraga. Adapun tugas-tugasnya adalah sebagai berikut :

 

Pertama, Pangaraga, tugasnya yang paling utama adalah menagani perselisihan di desa , wewenangnya adalah untuk menerima setiap pengaduan dari warga masyarakatnya dan menyelesaikan secara adat mengenai perkara ringan. Kedua, Pasirah. Wewenangnya adalah menerima pelimpahan wewenang dari temenggung binua yang dibantu oleh pangaraga untuk menyelesaikan setiap jenis perkara ringan yang diajukan oleh masyarakatnya, apabila tidak selesai perkara tersebut diteruskan kepada timanggong. Ketiga, timanggong, adalah kepala adat tingkat binua, wewenangnya menyelesaikan perkara adat yang tidak dapat menerima putusan pangaraga dan pasirah. Di samping itu tugas pokoknya adalah menangani perkara-perkara berat, seperti pembunuhan, perkelahian massal dan penyerangan-penyerangan dari binua atau kampung-kampung lain.

 

Di atas temenggung binua, diangkat temenggung kecamatan yang merangkap ketua Dewan Adat Kecamatan dan Temenggung Kabupaten yang merangkap ketua Dewan Adat Kabupaten, dan di tingkat propinsi diangkat Temenggung Propinsi yang merangkap ketua Majelis Adat Propinsi.

 

ADAT DAN KEBUDAYAAN

Pakaian Tradisional suku Dayak Kanayatn terbuat dari kulit Tarab atau Kapuak/Kapoa’. Bajunya berbentuk Rompi yang disebut Baju Marote atau baju uncit. Cawatnya terbuat dari Kain tenun atau kulit Kayu yang disebut Kapoa’. Serta mahkota atau ikat kepala yang dalam bahasa ahe disebut Tangkulas. Tangkulas ini biasanya dihiasi dengan bulu Ruai/Kuau Raja, serta bulu Enggang. Terkadang, jika bulu burung Ruai tidak ada, bisa diganti dengan Anjuang Merah (Hanjuang). Selain itu senjata tradisional Tangkitn/Parang Pandat serta Perisai (Jabakng/Gunapm) merupakan kelengkapan pakaian adat pria.

Upacara adat yang biasa diadakan oleh suku ini antara lain Naik Dango, Muakng Rate, Notokng, Gawai Dayak, dan lain-lain.

 

Sumber:

  • Penulisan “Dayak” secara resmi dibakukan untuk menyebut penduduk asli Kalimantan tahun 1947, dalam kongres kesatuan Dayak I di Sanggau, sebelumnya ada yang ditulis “Daya”, ‘Daya’ dan “Dayak”. Lihat Irene Muslim dan Yakobus Frans Layang, “Makna Kekuatan Simbol Adat pada Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat Ditinjau dari Pengelompokan Budaya” dalam Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi, P. Florus dkk (ed), (Pontianak : Institute Of Dayakology Research and Development, 1994), hlm. 40.
  • Alipius Sadaniang – filsafat.kompasiana.com/2012/03/12/dayak-kanayatn-441929.html
  • Hasan Sadlly dan Enclos, Kamus Indonesia-Inggris, (Jakarta: Gramedia, 1994), hlm. 134.
  • JU Lontaan, Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat (Jakarta: Bumirestu dan Pemda Tingkat I Kalimantan Barat, 1975), hlm. 49-63.
  • Ibid, hlm. 63.
  • Rachmad Sahudin, “Hak dan Kewajiban Dewan Adat dalam Pembangunan” dalam Kebudayaan Dayak… ibid, hlm. 114.
  • Yusnono, “Peranan yang Seharusnya Diperankan Dewan Adat Dayak,” dalam Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi, (Pontianak: Institute Of Dayakology Research and Development, 1994), hlm. 103.
  • Lontaan, Sejarah Hukum Adat …..Ibid. hlm.43.
  • Tambun Anyang, Kebudayaan dan Perubahan Dayak Taman Kalimantan dalam Arus Modernisasi, (Jakarta: Grasindo 1998), hlm. 100-101.
  • Djueng dan Welas Krenak, Manusia Dayak…, hlm. 3.
  • Tambun Anyang , Ibid.
  • Wawancara penelitian sejak bulan April 1998 tahun sampai dengan Oktober 2004.
  • Hasil wawancara di Desa Salatiga, tanggal, 21 November 2000.
  • Mitologi tentang asal usul manusia, suku, alam semesta, dianggap cerita suci, karena diyakini kebenarannya.
  • Dalam ritual perobatan baliatn, pamaliatn (dukun perobatan) secara supranatural pergi ke gunung Bawang memanjat batang taman, seolah-olah sedang mendaki gunung bawang, ke kampung tempat asal nenek moyang Dayak Kanayatn pertama, dalam mitologi baliatn nenek moyang mereka mengenal Jubata pertama kali di gunung ini.
  • Batang taman adalah semacam tangga untuk memanjat, terbuat dari sebatang pinang atau bambu aur (Sidik-Banyuke), anak tengganya adalah insaut (pisau kecil yang tajam untuk meraut anyaman), dengan mata menghadap keatas, tempat sang dukun menginjak.
  • Bambang Bider, “Ngaben Di Tempat Jauh” dalam Kalimantan Rewiew, No.94/Th.XII/Juni 2003, (Pontianak : Yayasan Institut Dayakologi), hlm. 28-29.
  • Binua, terdiri atas binua besar dan binua kecil, yaitu; wilayah administratif yang dikepalai oleh seorang Temenggung, terdiri atas beberapa kampung.
  • Menurut Musin, dalam wawancara di Desa Ngarak Tanggal 21 Pebruari 2001, Dayak Kanayatn di daerah Banyuke telah berkembang kira-kira tahun 1400 M, (bandingkan dengan Lontaan :1975, hlm. 161-162). Mereka hasil perkawinan Ria Sinir (Banyuke:banyadu’) dan Dara Itapm (Kanayatn: banana’). Pertama kali mereka berada di kampung Jering (Setolo-Darit), 2 generasi kemudian (+ 1600-1700 M) keturunnya mendirikan kampung-kampung di daerah Sigonyekng, Sabakit, Ringo, Guna, Labak-Jongkak, Nangka, dan mendirikan pusat ketemanggongan di desa Ladangan-Darit, kira-kira tahu 1780 M.
  • Menurut Sukara, dalam Wawancara di Desa Senakin tanggal 19 Desember 2003, suku Dayak Kanayatn telah mendiami dataran tinggi dan pegunungan sidik 9-10 generasi kira-kira 300 tahun yang lalu atau + 1700 M, hal itu ditandai dengan tembawang (bekas pemukiman), pemakamaan dan kebun buah-buahan, seperti durian, tengkawang, langsat, nangka, bintawa’ dan lain-lain.
  • Bahari Sinju, Peranan Pantak Dalam Kesatuan Wilayah Binua Dayak Kanayatn, (Pontianak : Universitas Tanjungpura 1993), hlm.8. Pantak Ne’ Panyakng, +1700 di desa Sahapm-Pahauman berasal dari Mempawah Hulu, ne’ Panyakng atau ne’ Nabi, dibuatkan pantak untuk mengundang berkah “pama” yang dimilikinya.
  • Edi Petebang, “Sejarah Perang Suku Di Kalbar” dalam Kalimantan Review, No50/Th.IX/Oktober 1999, (Pontianak: Yayasan Institut Dayakologi), hlm.10.
  • Stefanus Djuweng, “Imigrasi Cina dan Emas di Kalbar,” dalam Manusia Dayak Orang Kecil yang terperangkap Arus Modernisasi, (Pontianak: Institute Of Dayakology Research and Development, 1996), hlm. 26-27.
  • Dituturkan oleh Suhardi, S.Pd, di dusun Singkut-Kayu Tanam, tanggal 19 September 2004, hasil perhitungan silsilah dari 9 generasi keluarga besar Ipuh-Pansi, dibuktikan dengan pantak tertua di Ipuh dan tembawang buah-buahan yang telah diwarisi 8 sampai 9 generasi yang lalu.
  • Thomas Tion, “Orang Dayak Di Kecamatan Mandor” dalam Kalimantan review, N0.92/Th.XII/April 2003, (Pontianak: Yayasan Institut Dayakologi), hlm. 20.
  • Th. van den End, Ragi Carita I, Sejarah Gereja Indonesia, 1500-1860, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 189.
  • Edy Petebang, dkk, “Menghilangkan Dayak Dalam Statistik“, Dalam Kalimantan Review…, hlm.43-44.
  • Dituturkan oleh Aswidie Rachmad, di Desa Ngarak, tanggal 08 Agustus 2000, mantan kepala desa, anggota Dewan Adat Kecamatan Mandor dan pasirah Binua Ipuh, tinggal di Ngarak, Dibandingkan dangan pendapat Salib, tokoh Binua Angkabakng-Ladangan, tinggal di Guna Kecamatan Banyuke-Darit, (dan tokoh-tokoh lain), sistim kepemimpinan yang diungkapkan keduanya sama seperti di atas.
  • Binua Angkabakng-Ladangan, Kecamatan Darit, didirikan sekitar tahun 1780, temenggung pertamanya bernama Temenggung Nawar. Menurut penuturan Musin, di Desa Ngarak tanggal 21 November 2001, temenggung binua Angkabakng pertama diangkat oleh pangeran Nata Kusuma dari kesultanan Landak, setelah berhasil dalam peperangan melawan Cina di desa Ladangan.
  • Pangalangok, artinya : pahlawan yang gagah perkasa atau seorang kuat yang dapat mengalahkan banyak musuh. Pangalima, artinya pemimpin perang, dari pemimpin regu terkecil (7 orang S/d 120 orang) sampai dengan pemimpin seluruh laskar dalam perang.
  • Mawardi Rivai, Peristiwa Mandor, (Jakarta: Pustaka Antara, 1978), hlm. 25.
  • Rachmad Sahudin, “Hak dan Kewajiban Dewan Adat Dayak dalam Pembangunan”, dalam Kebudayaan Dayak…, hlm.115.
  • Edi Petebang, “Inilah Lembaga Adat Yang Sebenarnya” dalam Kalimantan review, No.73/Th.X/10 Sept-10 Okt, 2000, (Pontianak : Yayasan Institut Dayakologi), 2000, hlm. 15.
  • Rachmad Sahudin, “Hak dan Kewajiban Dewan Adat Dayak dalam Pembangunan”, dalam Kebudayaan Dayak, hlm. 115.
  • Ibid, hlm, 116.
  • Ibid, hlm, 117.
  • Edi Petebang, “Hukum Adat Dayak di Persimpangan ? “ dalam Kalimantan Review, No 32/Th.VII/ April 1998, (Pontianak: Yayasan Institut Dayakologi, 1998 ), hlm. 5-7.
  • Irene Muslim, “Peradilaan Adat Pada masyarakat Daya Di Kalbar”, dalam Varia Bina Civika, Mmjalah Triwulan Civitas Akademika Fakultas Hukum Untan, No.23, (Pontianak: Alumni Fakultas Hukum Untan, 1991), hlm. 4.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply