Dayak Ngaju (Biaju)

 Rumpun Dayak

Pangkoh aan de Kahajan1925

Suku Dayak Ngaju (Biaju, Oloh Ngaju) adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Kebanyakan mendiami daerah sepanjang Sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan. Suku Dayak Ngaju adalah mereka yang berdiam di sebelah hilir, dan suku Dayak Ot Danum adalah mereka yang berdiam di sebelah hulu. Batas kediaman suku Dayak Ngaju di hulu Kahayan, hanya sampai desa Tumbang Miri saja. Letak kediaman suku Ot Danum di hulu Kahayan, yaitu di daerah utara Tumbang Miri, dan di hulu Sungai Katingan, yaitu Sungai Samba, hulu Sungai Kapuas, dan sebagian hulu Sungai Seruyan , di Sungai Kale, Desa Tumbang Sabetung.

 

 

ETIMOLOGIS
Ngaju berarti udik. Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.

 
Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur-literatur pada masa-masa awal disebut dengan Biaju. Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari bi dan aju, yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju disebut dengan Biaju, yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai.

 
Sebelum abad ke-14, daerah Biaju (Kalimantan Tengah) termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kalimantan Selatan. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku Dayak diangkat menjadi Menteri atau Patih Kerajaan. Tahun 1520, pada waktu pantai di Kalimantan Selatan dikuasai oleh Kesultanan Demak, agama Islam mulai masuk dan berkembang. Sementara daerah Biaju adalah wilayah bebas, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman. Di daerah Pulau Petak, dekat Kuala Kapuas, pernah ada suatu pemerintahan dari suku Biaju yang dikenal dengan nama Tanjung Pematang Sawang, ibukota pemerintahannya Kuta Bataguh. Konon Kuta Bataguh mempunyai pagar atau benteng tradisional dari kayu ulin bulat. Pernah terjadi perang besar di Kuta Bataguh, dan Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, diantaranya Rambang, Ringkai, Tambun, Bungai dari Tumbang Pajangei.

 
Pada abad ke-16, berkuasalah Raja Maruhum Panambahan atau Sultan Mustain Billah (1595-1642) yang beristrikan Nyai Siti Biang Lawai, seorang puteri Dayak anak Patih Rumbih dari Biaju. Sultan Mustain Billah merupakan Raja Banjar yang berdarah Biaju (suku Dayak Ngaju) dan pendiri Kota Martapura. Orang Biaju kerap kali dilibatkan dalam revolusi di istana Banjar. Saudara muda Nyai Biang Lawai bernama Panglima Sorang yang diberi gelar Nanang Sarang membantu Raja Maruhum menumpas pemberontakan anak-anak Kiai Di Podok.

 
Menurut Afdeeling Dajaklandeen (Afdeling Tanah-tanah Dayak 1898-1902) atau Tanah Biaju (sebelum 1826) adalah bekas sebuah afdeling dalam Karesidenan Selatan dan Timur  Borneo yang ditetapkan dalam Staatblad tahun 1898 no.178. Pada tahun 1855, daerah ini dinamakan De afdeeling groote en kleine Dayak. Sesuai Staatblad tahun 1898 no. 178 bahwa Afdeeling Dajaklandeen, dengan ibukota Kwala Kapoeas (Kuala Kapuas) terdiri distrik-distrik :
Groote Dajak (Dayak Besar) terbagi lagi dalam onderdistrik-onderdistrik :

  1. Beneden Kahajan (Kahayan Kuala), Mideen Kahajan (Kahayan Tengah), Boven Kahajan (Kahayan Hulu)
  2.  Roengan (Rungan)
  3.  Manoehing (Manuhing)

Districk Kleine Dajak (Dayak Kecil) terbagi atas onderdistrik :

  1.   Beneden Kapoeas (Kapuas Kuala)
  2.   Mideen Kapoeas (Kapuas Tengah)
  3.   Boven Kapoeas (Kapuas Hulu)

 

Secara de facto wilayah pedalaman Kalimantan Tengah tunduk kepada Hindia Belanda semenjak Perjanjian Tumbang Anoi pada tahun 1894. Selanjutnya kepala-kepala daerah di Kalimantan Tengah berada di bawah pemerintah Hindia Belanda.

 

 

Oloh Ngaju

Oloh Ngaju – dari buku Kalimantan Membangun, Tjilik Riwut

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply