Tamanggong Nikodemus Ambo Djaja Negara (Tamanggong Djaja Negara)

 Tokoh Dayak

tomonggong nicodemus djajanegara

Tamanggong Nikodemus Ambo Djaja Negara Menyusuri Sejarah Sunyi Seorang Temenggung Dayak, Penulis Marko Mahin, Penerbit Lembaga Studi Dayak-21, 2005.

Buku Tamanggong Djajanegara-pusatkajiankebudayaanbanjar-1

 

Sampai dibubarkannya VOC dan digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1800, kawasan Kapuas – Kahayan bersama penduduknya masih terisolasi sekian lama dari hubungan dengan dunia luar.

 

Bulan Pebruari 1860, dalam rangka mengawasi lalu lintas perairan di kawasan Kapuas, pihak Belanda membangun sebuah fort (benteng) di Ujung Murung dekat muara sungai Kapuas, sekitar rumah jabatan Bupati Kapuas sekarang. Bersamaan dengan adanya benteng di tempat tersebut, lahirlah nama “Kuala Kapuas” yang diambil dari sebutan penduduk setempat, yang sedianya menyebutnya dalam bahasa Dayak Ngaju “Tumbang Kapuas”, seiring dengan itu ditempatkanlah seorang Pejabat Belanda sebagai Gezaghebber (Pemangku Kuasa) yang dirangkap oleh komandan benteng yang bersangkutan. Sehingga kawasan Kapuas – Kahayan tidak lagi berada di bawah pengawasan Pemangku Kuasa yang berkedudukan di Marabahan, disamping itu ditunjuklah pejabat Tamanggong Nikodemus Ambo sebagai sebagai Kepala Distrik (Districtshoofd).

 

Sementara itu perkampungan di seberang, yakni di kampung Hampatung yang menjadi tempat kediaman kepala distrik, yang pada saat itu bertempat di sekitar Sungai Pasah, sejak terbukanya terusan Anjir (kanal) Serapat tahun 1861 berangsur-angsur berubah dari pemukiman rumah adat Betang menjadi perkampungan perumahan biasa. Selajutnya bertambah lagi Stasi Zending di Barimba pada tahun 1868, disusul munculnya perkampungan orang Cina di antara kampung Hampatung dan Barimba serta terbentuknya perkampungan dengan nama kampung Mambulau di sekitar kampung Hampatung.

 

Bermula dari Betang Sungai Pasah yang didirikan oleh Tamanggong Nikodemus Ambo Djajanegara pada tahun 1863 sebagai satu-satunya pemukiman adat yang tertua di lingkungan batas Kota Kuala Kapuas. Akhirnya dijadikan sebagai acuan untuk hari jadi Kota Kuala Kapuas pada tanggal 21 Maret 1806 berdasarkan atas berdirinya Betang Sungai Pasah pada tahun 1806.

 

Beliau diangkat oleh Belanda untuk memimpin benteng di Ujung Murung pada tahun 1860. Beliau adalah kepala distrik Kwala Kapuas, tokoh Dayak Ngaju. Beliau membangun rumah betang di Hampatung pada tahun 1863.

 

 

 

 

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply