Ilum Pejuang Wanita Dayak (Bulan Jihad)

 Tokoh Dayak

Portret van een groep Dajaks 1910

Pada 52 tahun yang lalu, tepatnya dalam bulan Januari 1949, dalam kapasitas sebagai wartawan dan kolomnis Harian “WARTA BERITA” Medan, Anggraeni Antemas pernah menulis, isi tulisan menuturkan tentang “seorang pejuang wanita suku Dayak di udik (sungai) Barito yang  sakti  mandraguna. Konon, dia mengagumkan bukan saja karena keberaniannya menghadapi serdadu Belanda pada awal abad ke-19 tetapi juga  wajah dan sosok puteri Dayak tersebut adalah cantik namun beringas”, kata Anggraeni.

Dalam Perang Barito,  Amuk Barito itu  terjadi  pada tahun  1900-1901, dimana suku-suku Dayak Dusun,  Ngaju, Kayan, Kinyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu Sungai, baik yang beragama Islam atau pun Kaharingan  bersatu  bahu  membahu  menghadapi serangan Belanda.  Nama-nama  pahlawan  Banjar seperti  Pangeran Antasari Gusti Muhammad Seman dan Gusti Ratu Zaleha selalu bersanding bahu membahu dengan  (para pahlawan Dayak  seperti) Temanggung Surapati,   Antung,  Kuing,  Temanggung  Mangkusari   dan  lain-lain yang merupakan kesatuan kekuatan dalam perjuangan.

Dalam rentang perjuangannya melawan kolonialisme Belanda, Bulan Jihad yang sangat cantik ini memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. Ada yang menyebutnya “Ilum” atau “Itak” namun nama populernya adalah “Bulan Jihad”.  Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya.

Dan kita ketahui bahwa Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan. Dan karena ceritera kepahlawanan ini tetap diragukan orang maka Anggraeni Antemas dalam kesempatan berjumpa dengan Bapak Tjilik  Riwut (Gubernur pertama Kalteng) di Istana Merdeka Jakarta tahun 1950 menanyakan kebenaran kisah ini. Tjilik Riwut membenarkan  keberadaan srikandi Dayak  itu tetapi menurut beliau Bulan Jihad (bukan  asli Dayak Kalteng tetapi) berasal dari Suku Dayak Kenyah (Kaltim). Yang pasti, “nama Bulan Jihad sangat terkenal diantero Barito Hulu dan Barito Selatan”, kata Tjilik Riwut. “Dia pendekar sakti mandraguna, punya ilmu kebal tahan senjata, bisa menghilang dan (mampu) melibas lawan hanya dengan selendang saja. Dia selalu berjuang berdampingan dengan Gusti Zaleha si pejuang puteri Banjar”. Dengan demikian maka ceritera yang disampaikan oleh WA Samat dan Adonis Samat (1948)  sejalan dengan ceritera Pak Tjilik  Riwut (1950).

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply