Pangkalima Burung

 Cerita Dayak, Tokoh Dayak

Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual yang di Kalimantan Barat dinamakan Mangkuk Merah dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari seantero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau/memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.

 

Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah agama manapun dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

 

2. Versi Kalimantan Barat

Berdasarkan literatur dan sejarah yang tertulis dari Kalimantan Barat nama asli dari Panglima Burung adalah Burung Mansau. Panglima Suku Dayak yang dilahirkan pada tanggal 14 Nopember 1914 silam tersebut, dikenal sebagai pejuang yang turut mengusir penjajah Jepang. Panglima Burung Berasal dari Dayak Majang (Dayak Iban di Kapuas Hulu – Kalimantan Barat) dan Istri nya berasal dari Dayak Desa Meliau (Kalimantan Barat).

 

Konon Panglima Burung pernah turut mengusir penjajah Jepang. Bahkan hingga akhir hayatnya, masih dipercaya turut membantu menangani masalah Kamtibmas berkaitan dengan peristiwa kerusuhan beberapa tahun terakhir ini. Termasuk ketika terjadi kerusuhan di Sampit. Menurut masyarakat Meliau Panglima Burung bukan hanya milik masyarakat Meliau, masyarakat Sanggau atau masyarakat Kalbar pada umumnya. Akan tetapi juga menjadi milik bangsa Indonesia karena jasa – jasanya terhadap bangsa ini.

 

Sabtu, 29 Oktober 2005 Panglima Burung wafat dan dimakamkan di Meliau. Rintik hujan di pagi hari tanggal 27 Oktober 2005, turut mengiringi pemakaman salah satu putra terbaik Kalbar yakni Panglima Burung di Taman Makam Pahlawan Meliau. Hadir dalam pemakaman itu Bupati Sanggau, Dandim 1204 Sanggau, DPRD Sanggau, DPRD Provinsi Kalimantan Barat, jajaran PTP Nusantara 13, Muspika Kecamatan Meliau dan masyarakat. Warga terlihat berjubel ikut mengantar kepergian Panglima Burung ke liang lahat. Prosesi pemakaman Panglima Burung yang memiliki nama asli Burung Mansau kelahiran Merakai Panjang Kabupaten Kapuas Hulu itu, berlangsung dengan khidmat dibawah rintik hujan menyirami bumi pertiwi.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply