Pangkalima Burung

 Cerita Dayak, Tokoh Dayak

3. Versi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah

Kyai Haji M. Juhran  Erpan Ali, Ketua Pondok Pesantren Ushuluddin, Martapura, berkata: “Panglima Burung seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Keberadaannya memang nyata, berwujud seorang wanita berparas  cantik  namun  berwatak  bengis.  Panglima  Burung  sudah ada  jauh sebelum Indonesia terbentuk”.  Namun begitu, yang mengejut­kan dari penuturan Kiyai Juhran ini adalah karena sosok  Panglima Perang Suku Dayak ini juga beragama Islam dan menyandang titel seorang hajjah.

 

Dalam rentang perjuangannya melawan kolonialisme Belanda, Bulan Jihad yang sangat cantik ini memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. Ada yang menyebutnya “Ilum” atau “Itak” namun nama populernya adalah “Bulan Jihad”.  Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya.

 

Dan kita ketahui bahwa Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan. Dan karena ceritera kepahlawanan ini tetap diragukan orang maka Anggraeni Antemas dalam kesempatan berjumpa dengan Bapak Tjilik  Riwut (Gubernur pertama Kalteng) di Istana Merdeka Jakarta tahun 1950 menanyakan kebenaran kisah ini. Tjilik Riwut membenarkan  keberadaan srikandi Dayak  itu tetapi menurut beliau Bulan Jihad (bukan asli Dayak Kalteng tetapi) berasal dari Suku Dayak Kenyah (Kaltim). Yang pasti, “nama Bulan Jihad sangat terkenal diantero Barito Hulu dan Barito Selatan”, kata Tjilik Riwut. “Dia pendekar sakti mandraguna, punya ilmu kebal tahan senjata, bisa menghilang dan (mampu) melibas lawan hanya dengan selendang saja. Dia selalu berjuang berdampingan dengan Gusti Zaleha si pejuang puteri Banjar”. Dengan demikian maka ceritera yang disampaikan oleh WA Samat dan Adonis Samat (1948)  sejalan dengan ceritera Pak Tjilik  Riwut (1950).

 

Tatkala tokoh perlawanan Gusti Muhammad Seman meninggal dunia pada tahun 1905, lalu awal tahun 1906 Gusti Zaleha berkeputusan turun gunung, lantas apa keputusan  Bulan  Jihad dan sisa prajurit lainnya?  Ternyata Bulan Jihad tetap bertekad meneruskan perjuangan dan terus mengembara. Maka terjadilah perpisahan yang sangat memilukan. Dengan berat hati keluarlah Gusti Zaleha dari hutan menuju Muara Teweh dan selanjutnya dia dibawa ke Banjarmasin bersama ibunya Nyai Salmah.

 

Sejak perpisahan itu, tidak  banyak orang  yang tahu dimana keberadaan Bulan Jihad dan kelanjutan perjuangannya. Barulah pada tanggal 11 Januari 1954, Bulan Jihad datang melaporkan diri ke Kantor Pemerintahan setempat di Muara Joloi sehingga saat itulah dia baru mengetahui kalau Indonesia sudah merdeka. Hatinya pun semakin luluh begitu mengetahui sahabat karibnya  Ratu Zaleha telah lama meninggal dunia (24 September 1953) di Banjarmasin. Hari itu orang kembali melihat pemunculannya dan hari itu pula dia kembali mengembara ke hutan  rimba untuk selama-lamanya. Inilah sekilas kisah muslimah Bulan Jihad yang setia berperang mendampingi  perjuangan Gusti Puteri Zaleha (1903-1906), bahkan dia terus berjuang melewati masa juang pahlawan anti kolonialis lainnya di tanah Dayak ini.

 

4. Penutup

Dari beberapa versi diatas, tinggal kita yang memilih untuk meyakini yang mana atau sama sekali tidak meyakini kisah-kisah itu. Setuju tidak setuju atau percaya tidak percaya, tetapi yang pasti kita tahu seseorang yang bisa disebut Panglima itu bagaimana? Bukan orang yang sembarangan, atau kebetulan saja memiliki banyak tattoo dan terlihat menakutkan. Saat ini banyak bermunculan orang yang mengaku panglima Dayak, demi untuk kepentingan pribadinya saja. Menjadi centeng perusahaan sawit & tambang, atau menjadi bodyguardnya pejabat. Padahal panglima itu akan berjuang dan berkorban bagi masyarakatnya.

 

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung sejatinya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.

 

(sumber: suarapakat.blogspot.com, folksofdayak.wordpress.com, aguspostel.blogspot.com, anehdidunia.com)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply