Nyai Balau Dari Lewu Tewah

 Tokoh Dayak

Nyai Balau sangat sedih dan merasa bersalah, karena putranya belum ditemukan, namun ia tetap bertekad untuk terus mencari putra simata wayangnya.

Pada suatu hari, Nyai Balau secara diam-diam, tanpa sepengetahuan suaminya, ia berangkat dari rumah menuju sebuah hutan yang dianggap angker, karena jarang dilewati manusia. Di hutan itulah Nyai Balau ‘bertapa’ atau dalam bahasa Dayak Ngaju “Balampah” untuk meminta petunjuk dari Yang Mahakuasa, dimana keberadaan putranya. Selama tujuh hari, tujuh malam Nyai Balau bertapa, akhirnya pada hari yang ketujuh seorang nenek tua datang menjumpainya memberikan petunjuk mengenai putranya.

“Cucuku Nyai Balau, saya mengetahui tujuanmu datang ke sini, yaitu untuk mengetahui keberadaan putramu.” Sapa nenek tua ini. “Betul nek”, jawab Nyai Balau.

“Pulanglah cucuku, kamu tidak akan dapat menemukan putramu, ketahuilah ia sudah sudah tiada, ia sudah mati. Ia di “kayau” (dibunuh) oleh “Antang” dari Juking Sopang, kata nenek tua ini kepada Nyai Balau. Juking Sopan adalah sebuah nama desa di wilayah Permata Intan, Kabupaten Murung Raya Kalteng.

Mendengar penjelasan nenek tua itu, Nyai Balau tersentak kaget, dan ia pun menangis dan meratap sedih, putra satu-satunya telah dibunuh orang.

Dengan dukacita yang mendalam itu, Nyai Balau berucap, dengan geramnya “saya akan membalas kematian putra satu-satu yang saya sayangi. Saya akan membalas dendam! Saya akan membuat perhitungan dengan “Antang”!!

“Baiklah, kalau memang itu sudah tekatmu, ujar nenek kepada Nyai Balau. “Saya akan memberikan kesaktian kepadamu agar kamu dapat membalas dendam terhadap Antang. “Selendang ini kuberikan kepadamu, untuk menghadipi musuh-musuhmu.”

Nyai Balau pun mengucapkan terima kasih kepada nenek yang sudah memberikan dia kesaktian dan sebuah selendang sakti.

Setelah itu Nyai Balau segera pulang kembali ke rumah. Di rumah suaminya Temanggung Kanyapi dan seluruh keluarga telah menantinya dengan cemas, karena pergi tampa pamit dan hilang berhari-hari tanpa kabar berita.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

4 Responses

  1. yendra rusan06/05/2016 at 07:41Reply

    Sala kesah tuh pahari Je Nyai Balau ji kawin umba Antang Kanyapi awi iye generasi limbah Nyai balau belum.. dohop luruskan kesah tuh akan sumber bara keluarga langsung itu Tewah awi ewen tawan Jereh ah…tabe.mm

    • Author

      humabetang09/05/2016 at 10:13Reply

      iye kah, rima tuh tege due ara je Nyai Balau tuh lah, je kawin dengan Antang Kanyapi dengan je belum hung generasi je labih helu ndai, amun je jituh bujur ih kisah lah pahari? rima je helu te tege kisah ah kabuat ndai lah..

  2. Hengky Salindeho08/12/2016 at 18:57Reply

    Tabe bara ikei anak esun Nyai Balau. Kebetulan aku tuh generasi ke-7.
    Nyai Balau te kawin dengan Raden Laut…..Kanyapi kawin dengan Rumpat anak bara Nyai Balau. Rumpat te induan anak bara kakak kandung nyai balau

    • Author

      humabetang08/02/2017 at 21:43Reply

      tabe bung Hengky, nah tau itah kareh hasupa mun tege waktu, mangat admin tau manyalin uras kisah ah te..
      amun tege kisah/kabar tau inbok akan fb adminhumabetang lah bung Hengky..

Leave a Reply