Nyai Balau Dari Lewu Tewah

 Tokoh Dayak

Nyai Balau menceritakan kepergiannya, untuk mencari petunjuk dari yang Kuasa, dan pertemuannya dengan nenek tua, serta kesaktian yang diberikan nenek itu. Walaupun Temanggung Kanyapi bersedih mendengar bahwa putranya telah dikayau Antang, namun ia merasa lega karena Nyai Balau telah kembali dengan selamat.

 

Kemudian Nyai Balau mengajak Tamanggung Kanyapi dan warga Lewu Tewah yang gagah berangkat ke Juking Sopang, untuk membalas dendam terhadap Antang. Setibanya di Juking Sopang, Nyai Balau memanggil pemuda yang bernama Antang, supaya keluar dan mengakui kesalahannya dan memohon ampun.

“Wahaii… Antang..! Apakah benar engkau membunuh anakku? Kalau memang benar, mengakulah dan memohon maaf terhadap saya dan suami saya Temanggung Kanyapi, sebelum saya habis kesabaran terhadap engkau.!” Kata Nyai Balau.

“Hei Nyai Balau beraninya kamu menuduh saya! Kata Antang. “Jangan macam-macam dengan saya, saya tidak membunuh anakmu. Bisa-bisa kamu yang saya bunuh nanti..!”

“Mengakulah kamu Antang! saya masih sabar. Kata Nyai Balau. Saya mengetahui perbuatanmu, kamu tidak bisa berbohong terhadap saya.!”

Memang sudah tabiat Antang, yang angkuh dan sombong, dia tidak mau mengakui kesalahannya dan perbuatan jahatnya yang membunuh putra Nyai Balau. Itu karena dia merasa sebagai seorang laki-laki yang gagah perkasa dan sakti. lalu kemudian Antang menyerang Nyai Balau dengan mandaunya. Perkelahian pun tidak dapat dihindari. Nyai Balau terpaksa membela diri, menghindar serangan dari Antang.

Antang tidak mengira bahwa yang ia hadapi bukanlah perempuan sembarangan. Dengan mudah Nyai Balau menangkis serangan Antang yang bertubi-tubi. Sampai akhirnya dia kelelahan, dan seketika Nyai Balau mengebaskan selendang saktinya ke arah Antang, dan Antang pun jatuh tersungkur lemah lunglai.

Nyai Balau perempuan yang berhati mulia dan murah hati, dia tidak membunuh Antang. Ia mengajak Antang dan keluarganya untuk berdamai secara adat Dayak Ngaju, yaitu dengan mengakui kesalahan dan membayar denda sesuai hukum adat Dayak Ngaju saat itu.

Antang adalah seorang yang keras kepala, dan tidak mau mengakui kekalahannya. Ia tetap bersikeras melawan Nyai Balau. Dengan menghimpun segenap kekuatan dan kesaktiannya Antang, kembali bangkit dan menyerang Nyai Balau. Kembali perkelahian tidak dapat dihindari. Sekarang bukan hanya Antang dan Nyai Balau yang adu kesaktian, demikian juga yang lain Temanggung Kanyapi dan warganya juga masuk dalam medan pertempuran yang sengit. Banyak jatuh korban dan pertumpahan darah. Dan akhirnya Nyai Balau mengibaskan selendang sakitnya, Antang pun terpental dan mati di tangan Nyai Balau.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

4 Responses

  1. yendra rusan06/05/2016 at 07:41Reply

    Sala kesah tuh pahari Je Nyai Balau ji kawin umba Antang Kanyapi awi iye generasi limbah Nyai balau belum.. dohop luruskan kesah tuh akan sumber bara keluarga langsung itu Tewah awi ewen tawan Jereh ah…tabe.mm

    • Author

      humabetang09/05/2016 at 10:13Reply

      iye kah, rima tuh tege due ara je Nyai Balau tuh lah, je kawin dengan Antang Kanyapi dengan je belum hung generasi je labih helu ndai, amun je jituh bujur ih kisah lah pahari? rima je helu te tege kisah ah kabuat ndai lah..

  2. Hengky Salindeho08/12/2016 at 18:57Reply

    Tabe bara ikei anak esun Nyai Balau. Kebetulan aku tuh generasi ke-7.
    Nyai Balau te kawin dengan Raden Laut…..Kanyapi kawin dengan Rumpat anak bara Nyai Balau. Rumpat te induan anak bara kakak kandung nyai balau

    • Author

      humabetang08/02/2017 at 21:43Reply

      tabe bung Hengky, nah tau itah kareh hasupa mun tege waktu, mangat admin tau manyalin uras kisah ah te..
      amun tege kisah/kabar tau inbok akan fb adminhumabetang lah bung Hengky..

Leave a Reply