Nyai Balau Dari Lewu Tewah

 Tokoh Dayak

Pertempuran itu berhenti dengan kekalahan di pihak Antang dan karena Antang yang dianggap sakti pun mati ditangan Nyai Balau, maka pihak Antang menyerah. Nyai Balau, Temanggung Kanyapi dan warganya pulang meninggalkan Juking Sopang, yang penuh dengan darah korban, termasuk Antang. Karena itu Juking Sopang sampai sekarang orang menyebutnya “Rangan Daha” (batu/koral yang berdarah).

Setelah pertempuran itu, nama Nyai Balau semakin tersohor di segala penjuru daerah. Dia ditakuti dan dihormati orang, lebih-lebih warga Lewu Tewah. Akhirnya warga Tewah mengangkat Nyai Balau menjadi pemimpin mereka dan diberi gelar “Pangkalima” (pahlawan yang sakti mandraguna). Dibawah kepemimpinan Nyai Balau lewu Tewah aman Sentosa, tidak ada orang yang berani mengganggu.

Namun di lain pihak, yaitu di lewu Juking Sopang keluarga Antang masih menyimpan dendam, karena kematian Antang. Diam-diam mereka menyusun strategi dan mengumpulkan orang-orang yang gagah perkasa dan sakti, untuk membalas dendam, menyerang balik lewu Tewah dan Nyai Balau beserta suaminya Temanggung Kanyapi…

Kemudian beberapa waktu setelah peristiwa itu, keluarga (alm) Antang, melai berkemas berangkat untuk menyerang lewu Tewah, dengan maksud membalas dendam atas kematian keluarga mereka Antang. Mereka tidak melewati transportasi air, akan tetapi melewat jalan lain secara diam-diam , yaitu melewati hutan belantara, turun lembah, naik bukit, jalan yang berliku-liku, agar penyerangan mereka tidak diketahui musuh.

Ketika hari sudah sore, tibalah pasukan dari Juking Sopang itu di sebuah bukit yang dinamakan “Bukit Ngalangkang”, bukit ini tepat di belakang lewu Tewah, dan tempat strategis untuk persiapan menyerang musuh. Dan mereka sengaja menunggu malam tiba, karena saat malam dan gelap, tentunya musuh yang akan di serang sedang tidur dan tidak siap.

Malam pun sudah tiba, maka mulailah pasukan Juking Sopang turun dari atas “Bukit Ngalangkang”, rencananya untuk memasuki lewu Tewah dan memulai penyerangang. Namun ketika sudah mendekat lewu Tewah, mereka kembali berputar-putar arah jalan dan akhirnya kembali lagi ke Bukit Ngalangkang. Beberapa kali mereka mencoba untuk memasuki lewu Tewah, dan tetap gagal, karena mereka tidak menemukan jalan yang benar dan tidak dapat melihat lewu Tewah. Mereka hanya berputar-putar di Bukit Ngalangkang. Keadaan itu membuat mereka kebingungan.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

4 Responses

  1. yendra rusan06/05/2016 at 07:41Reply

    Sala kesah tuh pahari Je Nyai Balau ji kawin umba Antang Kanyapi awi iye generasi limbah Nyai balau belum.. dohop luruskan kesah tuh akan sumber bara keluarga langsung itu Tewah awi ewen tawan Jereh ah…tabe.mm

    • Author

      humabetang09/05/2016 at 10:13Reply

      iye kah, rima tuh tege due ara je Nyai Balau tuh lah, je kawin dengan Antang Kanyapi dengan je belum hung generasi je labih helu ndai, amun je jituh bujur ih kisah lah pahari? rima je helu te tege kisah ah kabuat ndai lah..

  2. Hengky Salindeho08/12/2016 at 18:57Reply

    Tabe bara ikei anak esun Nyai Balau. Kebetulan aku tuh generasi ke-7.
    Nyai Balau te kawin dengan Raden Laut…..Kanyapi kawin dengan Rumpat anak bara Nyai Balau. Rumpat te induan anak bara kakak kandung nyai balau

    • Author

      humabetang08/02/2017 at 21:43Reply

      tabe bung Hengky, nah tau itah kareh hasupa mun tege waktu, mangat admin tau manyalin uras kisah ah te..
      amun tege kisah/kabar tau inbok akan fb adminhumabetang lah bung Hengky..

Leave a Reply