Nyai Balau Dari Lewu Tewah

 Tokoh Dayak

“Lhoo….!! seru seseorang, “mengapa kita hanya berputar-putar di Bukit Ngalangkang ini saja?” mengapa kita tidak dapat menemukan jalan dan melihat lewu Tewah?” Kalau seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa masuk lewu Tewah, apalagi untuk membalas dendam, melihatnya saja kita tidak mampu.?” Kata seseorang lagi.

“Oh…. ini pasti karena kesaktian Nyai Balau, dia sudah membentengi atau memagari dengan “salatutup” (aji penutup kota) lewu Tewah dengan kesaktiannya, sehingga kita tidak dapat melihatnya.!”

“Baik, kalau demikian, mari kita menghimpun segenap kekuatan dan kesaktian kita untuk membuka “salatutup Nyai Balau te.!”

Dan dengan segenap kemampuan mereka dari Juking Sopang itu, berusaha membuka “salatutup”, tetap saja mereka tidak dapat membukanya. Sungguh kesaktian Nyai Balau lebih tinggi dari kesaktian mereka.

Dalam keadaan putus asa, karena gagal memasuki lewu Tewah dan membuka salatutup itu, mereka berkata : “ Kalau seperti ini, tidak mungkin kita berhasil membalas dendam terhadap Nyai Balau, membuka salatutupnya saja kita tidak mampu, apalagi menghadapinya langsung, dan tidak mungkin kita menang” Lebih baik kita pulang saja ke Juking Sopang (Rangan Daha).

Pasukan dari Juking Sopang akhirnya pulang kembali ke Juking Sopang, dengan perasan kecewa dan kesedihan hati karena gagal membalas dendam. Memang Nyai Balau benar-benar “Sakti Mandraguna”, dan ia memang mengetahui kedatangan pasukan dari Juking Sopang, karena itu ia memasang “salatutup lewu” (pagar kota), karena ia ingin menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi.

Baru sesudah itu, Nyai balau menceritakan kepada kepada semua warga lewu Tewah perihal kedatangan dan rencana jahat pasukan Juking Sopang, karena itu ia memasang ‘salatutup lewu”.

Sesudah peristiwa itu, lewu Tewah, aman tenteram, tidak ada seorang pun yang berani mengganggu dn membuat onar. Semua orang menghormati dan mengagumi akan Kesaktian dan Kearifan Nyai Balau dan memajukan lewu Tewah dan menjaganya.

Hingga akhir hayatnya, Nyai Balau selalu dikenang, dan namanya terukir indah di hati warga Tewah bahkan seluruh masyarakat Dayak yang mengenalnya. Bahkan sampai sekarang nama Nyai Balau selalu disebut-sebut “Secantik orangnya, dan seindah rambutnya yang panjang. Demikian Nyai Balau menjadi simbol Kecantikkan Putri Dayak, berambut panjang yang Sakti Mandraguna.

Nama besar Nyai Balau yang tersohor kesegala penjuru negeri, turun-temurun bahkan sampai masa penjajahan Belanda ke Indonesia, membuat serdadu Belanda tidak berani mendekati Lewu Tewah.

(***diambil dari berbagai sumber)

***Juking Sopan adalah sebuah nama desa di wilayah Permata Intan, Kabupaten Murung Raya Kalteng.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

4 Responses

  1. yendra rusan06/05/2016 at 07:41Reply

    Sala kesah tuh pahari Je Nyai Balau ji kawin umba Antang Kanyapi awi iye generasi limbah Nyai balau belum.. dohop luruskan kesah tuh akan sumber bara keluarga langsung itu Tewah awi ewen tawan Jereh ah…tabe.mm

    • Author

      humabetang09/05/2016 at 10:13Reply

      iye kah, rima tuh tege due ara je Nyai Balau tuh lah, je kawin dengan Antang Kanyapi dengan je belum hung generasi je labih helu ndai, amun je jituh bujur ih kisah lah pahari? rima je helu te tege kisah ah kabuat ndai lah..

  2. Hengky Salindeho08/12/2016 at 18:57Reply

    Tabe bara ikei anak esun Nyai Balau. Kebetulan aku tuh generasi ke-7.
    Nyai Balau te kawin dengan Raden Laut…..Kanyapi kawin dengan Rumpat anak bara Nyai Balau. Rumpat te induan anak bara kakak kandung nyai balau

    • Author

      humabetang08/02/2017 at 21:43Reply

      tabe bung Hengky, nah tau itah kareh hasupa mun tege waktu, mangat admin tau manyalin uras kisah ah te..
      amun tege kisah/kabar tau inbok akan fb adminhumabetang lah bung Hengky..

Leave a Reply