Tamanggung Tuhun dari Sepang Simin

 Tokoh Dayak

collectie tropenmuseum

Tamanggung Dahiang amai (ayah) Bucang ada berputera beberapa orang, anak tunggal lelakinya bernama Tuhun. Setelah Tamanggung Dahiang menginjak masa tua, ia menyerahkan kepemimpinan desanya Sepang Simin kepada anaknya Tuhun. Tuhun kala itu sudah hidup berdampingan dengan isterinya Nyai Limut.

Karena Tuhun cukup bijaksana memimpin rakyatnya, maka rakyat pun sangat menyenanginya sehingga kemajuan kampung berjalan dengan lancar. Masa itu disebut juga zaman asang Pakang Paking, disebut sedemikian karena gerombolan penyamun yang sekaligus manasang (mencencang) korbannya itu dipimpin oleh dua bersaudara Pakang dan Paking.

 

Untuk mempertahankan desanya Tuhun memimpin masyarakat desanya menggali sebuah parit yang kira-kira panjangnya 150 m dan lebarnya 5 m. Parit ini untuk memutuskan jalan asang yang selalu menyerang kampung. Sebab desa Sepang Simin berkedudukkan di ujung liku kali Kahayan. Parit ini setelah dijatuhkan berbakul-bakul garam ke dasarnya menjadi semakin lebar dan dalam, hingga sepintas bagaikan alur sungai Kahayan. Sedangkan aliran sungai Kahayan yang terpotong pada kedua muaranya yang berbatasan dengan parit, ditutupi dengan tebangan pohon hingga akhirnya menjadi sebuah sungai mati (tidak berarus) atau danau tapal kuda. Parit ini bertujuan untuk mengelabui jalannya asang Pakang Paking, hingga desa Sepang Simin aman jadinya dari serangan.

 

Pada parit ini dahulu mereka pasang titian kayu bulat yang di bawahnya digergaji, supaya mudah patah kalau berjalan di atasnya. Di bawah titian ini mereka memasang bambu runcing di dalam air dan di seluruh parit itu mereka taburkan pecahan kaca atau berupa benda tajam yang lain. Dengan jalan demikian mereka dapat menghancurkan serangan musuhnya.

 

Asang Pakang Paking ini terdiri dari kumpulan asang yang jumlahnya kadang mencapai ratusan orang. Mereka bukan bertujuan membunuh saja, tetapi yang utama mereka merampas harta benda kepunyaan penduduk. Karena asang ini timbullah bahaya kelaparan. Jadi asang Pakang Paking dengan kata lain adalah perampok.

 

Untuk menghindarkan malapetaka ini, masyarakat yang berada menyembunyikan harta miliknya di dalam tanah dan penduduk sering sekali mengungsi ke daerah lain yang dianggap aman.

 

Oleh sebab inilah zaman sekarang kadang-kadang orang ada menemukan barang-barang antik berupa guci atau tajau (tempayan), malawen (piring kuno) atau emas. Barang-barang ini sebenarnya barang yang disembunyikan di zaman asang, karena orang yang menyembunyikannya itu kebetulan mati terbunuh, maka barang-barang itu jadi tidak ada yang tahu di mana tempat sebenarnya.

 

Demikianlah kebijaksanaan Tuhun menjaga rakyatnya sehingga akhirnya dia mendapat gelar kehormatan menjadi Tamanggung Tuhun. Desa Sepang Simin semakin hari semakin bertambah maju. Rakyatnya pun bertambah banyak.

 

Tamanggung Tuhun cuma dikurniai seorang puteri yang bernama Nyai Irit. Boleh dikata Nyai Irit kalau itu terbilang wanita yang tercantik di Sepang Simin. Tidak ada pemuda yang sebaya dengan dia yang tidak menaruh hati kepadanya. Tetapi masa itu lain dengan masa sekarang. Masa itu gadis-gadis tidak berani memilih jodoh sendiri. Gadis-gadis selalu menyerah pada apa saja arahan orang tuanya.

 

Karena kurangnya tenaga untuk mengurus rumah tangganya, Tamanggung Tuhun lalu mengambil seorang pemuda pengembara yang berasal dari Tanah Siang. Pemuda ini bernama Tahunjung, ia diambil sebagai anak angkat Tamanggung. Perjaka ini berkelakuan baik dan sangat rajin bekerja, sebab inilah Tamanggung semakin sayang kepadanya.

 

Sesudah lama diteliti dari dekat, Tamanggung Tuhun melihat bahwa Tahunjung ini anak yang dapat dipercaya. Timbullah minat di dalam hatinya mengambil Tahunjung menjadi menantunya. Setelah soal ini dikemukakan kepada Tahunjung dan Irit, keduanya tidak keberatan, sebab memang sebelumnya tanpa diketahui orang tuanya, keduanya telah saling jatuh cinta walau di dalam hati.

 

Pesta perkimpoian dilaksanakan dengan meriah, maklumlah Tamanggung orang yang ternama, juga di daerah kampung sekelilingnya, sehingga banyaklah orang yang berkunjung ke pesta itu.

 

Perkimpoian selesai dengan aman, kedua mempelai mulai membentuk rumah tangga baru yang berjalan rukun dan damai, sehingga Tahunjung selalu dapat pujian dari orang-orang sedesanya. Dia dapat menyesuaikan diri dengan siapa pun, sehingga tanpa ragu lagi di hari tuanhya Tamanggung Tuhun lalu menyerahkan kepemimpinan desa itu kepada menantunya itu.

 

Tahunjung bekerja bertepatan dengan zaman masuk-nya penjajahan Belanda. Di sana sini timbullah perlawanan rakyat untuk mengusir Belanda. Tetapi setiap perlawanan selalu dapat dipatahkan pihak penjajah.

 

Akhirnya meletuslah suatu perlawanan yang dilakukan serentak oleh para tokoh dari aliran sungai-sungai Kahayan, Barito, Kapuas, Katingan, dan Rungan. Pahlawan-pahlawan suku Dayak itu semua berkumpul di Kuala Kurun, waktu itu dipimpin oleh Damang Inin. Setelah mengadakan perundingan yang masak, meletuslah perang di Kapuas yang disebut perang Kasintu.

 

Perlawanan dilakukan secara bergerilya sebab kekuatan Belanda jauh lebih kuat. Bertahun-tahun perang berjalan, belum juga dapat mengusir penjajah. Maka akibat perang ini timbullah bahaya kelaparan di pihak suku Dayak, akibat kurangnya tenaga yang bekerja di ladang karena cuma mengharapkan tenaga ibu-ibu yang tidak berdaya.

 

Melihat gelagat yang tidak baik ini, tokoh-tokoh kita mengadakan perundingan. Dalam perundingan ini diperoleh kesimpulan lebih baik kita mengadakan perundingan dengan Belanda agar perang dihentikan.

 

Hasil perundingan ini langsung diajukan kepada Belanda, yang diantar langsung oleh Damang Batu dari Tumbang Anoi. Usul ini diterima oleh Belanda dengan perjanjian tokoh-tokoh kita semua bekerja-sama dengan Belanda dan mereka dapat gaji ala kadarnya sebagai uang lelah. Perdamaian ini ditandatangani oleh Damang Batu dengan pihak Belanda. Dari masa inilah nenek moyang kita banyak mendapat gelar seperti Tamanggung, Dambung, Patih, Jaga, Singa dan Macan.

 

Begitu juga Tahunjung mendapat gelar Dambung. Sebagai tanda kehormatan untuk Dambung Tahunjung, di depan rumahnya didirikan sebuah tiang bendera dari kayu ulin, dan ia boleh mengibarkan bendera Belanda. Tiang bendera itu juga kemudian mengibarkan bendera Jepang dan akhirnya Sang Merah Putih. Sampai hari ini tiang bendera itu dapat kita lihat di Sepang Simin, selalu dirayakan tiap-tiap akhir tahun oleh anak cucunya.

 

Sesudah hari tuanya Tahunjung menyerahkan kepemimpinannya kepada anaknya yang sulung yang bernama Dambung Serang. Ia juga bekerja aktif, sehingga Dambung Serang ada mendapat bintang perak dari pemerintah Belanda. Dambung Serang bekerja hingga zaman Jepang. Hatinya sangat besar untuk memajukan kampung halaman. Sehingga orang tua ini menjadi sponsor dalam mendirikan sebuah bangunan Sekolah Rendah 6 Tahun, biarpun zaman itu zaman yang paling kritis, di mana rakyat selalu kekurangan makanan.

 

Bangunan itu mula-mulanya beratap ilalang. Sayang bangunan itu cuma sempat dipakai enam bulan saja, karena tumbang dilanda angin topan. Masyarakat tidak patah semangat, dengan segera mendirikan lagi bangunan yang berdinding kulit kayu dan beratap sirap. Cuma sayangnya pemasangan sirapnya semua diikat dengan rotan, sebab zaman Jepang tidak ada dijual paku.

 

Untuk menghindari kelaparan penduduk giat bertanam ubi kayu sebagai pengganti beras, gula dibuat dari tebu, pohon tembakau ditanam, hapung (garam) dibuat sendiri, lampu dibuat dari getah karet yang disebut minyak lantung. Pakaian dibuat dari kulit nyamu (kulit kayu). Demikian susahnya kehidupan di zaman Jepang.

 

Dambung Serang beristerikan Nyai Marit, beliau meninggal dunia masih di zaman Jepang. Jabatan beliau diganti oleh anaknya Abil Serang. Ia memimpin desa di zaman NICA (Netherland Indie Civil Administration – Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) sampai negara kita merdeka. Pada tahun 1965 Abil Serang ditetapkan menjadi Damang/Kepala Adat. Setelah sampai hari tuanya, kepemimpinan diserahkan kepada wakilnya Ibie Darahaman. Beliau melanjutkan pemerintahan desanya sampai hari tuanya. Desa Sepang Simin termasuk dalam wilayah kecamatan Sepang kabupaten Gunung Mas.

(sumber: TuaGila kaskus Reg. Leader Kal Teng)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply