Uria Mapas Negara

 Tokoh Dayak

Singkat cerita Uria Rinyam dihukum mati oleh Raja Banjar, dan berita pun tersebar sampai ke telinga Uria Mapas. Tidak enak mendengar kabar tentang adik sepupunya dari teman- teman Uria Rinyam, Uria Mapas melakukan pertapaan dan berkomunikasi dengan sahabat-sahabat gaibnya. Uria Mapas diberi tahu bahwa Uria Rinyam telah dibunuh di Kerajaan Banjar dengan kepala dipancung.

 

Mendengar hal itu, Uria Mapas sangat marah. Ia melakukan ritual untuk membalaskan dendam dan merencanakan perang dengan Kerajaan Banjar.

 

Sebelum berangkat, Uria Mapas sempat mengirimkan Pucuk Bekaka kepada Raja Banjar berisi pesan bahwa dirinya, Uria Mapas kakak dari Uria Rinyam akan menuntut balas dengan mahamuk (perang besar) melawan kerajaan Banjar seorang diri.

 

Uria Mapas berangkat membawa sebilah Mandau yang bernama Langsar Tewomea (haus akan darah lapar akan daging) dan sebatang Halu (alu, batang kayu penumbuk padi). Ia mengikuti alur sungai Tabalong yang tembus ke Sungai Banjar (sekarang sungai Martapura) dengan hanya menggunakan Kumpai (Rumput ilalang) yang dirakit menjadi sebuah perahu.

 

Uria Mapas bertekad, di mana pun Kumpai yang dinaikinya itu tertambat, di daerah itulah dirinya memulai perang. Ternyata, kumpai itu tersangkut pada Rawai (tempat kurungan ikan) di daerah Negara.

 

Di situlah Uria Mapas memulai amukan-nya dengan menghabisi separuh dari warga Negara (salah satu daerah milik Kerajaan Banjar). Akhirnya, warga Negara mengirimkan pesan kepada kerajaan Banjar bahwa mereka tidak sanggup menghadapi amukan Uria Mapas.

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

One Response

  1. Devia Nalini Sheera07/02/2014 at 15:33Reply

    Salam…

    Saya tidak sengaja membuka web ini karena saya melihat artikel saya yang saya tulis dua tahun lalu. Salut dan bangga ketika bisa menemukan web ini..!

    Sejak pertama saya menginjakan kaki di tanah Kalimantan 6 tahun lalu, saya langsung jatuh cinta dengan Dayak. Dan itu tanpa alasan karena saat itu, saya benar-benar buta tentang Dayak. Tapi sejak saya menuliskan artikel itu dan sampai hari ini, saya masih mencari jejak Dayak di Kalimantan.

    Jujur, saya hampir patah arang berusaha mencari Dayak yang sejatinya Dayak. Kearifan lokal yang begitu luhur seakan tenggelam dan perlahan menghilang termakan waktu. Tapi saya masih tidak meyakini itu. Karena saya sangat percaya masih ada Dayak yang tersisa di tanah ini, sungguh sejatinya Dayak yang telah membangun Keluarga Nusantara.

    Jabat Erat,

    Sheera
    devianalinisheera@gmail.com

Leave a Reply