Uria Mapas Negara

 Tokoh Dayak

Setelah mendengar kedatangan Uria Mapas di kota Negara dan sekitarnya kemudian melebar menuju Bandar Maseh maka datanglah utusan Sultan untuk minta berdamai. Sultan Suriansyah berjanji akan mengganti nyawa Uria Rinyam dengan syarat tidak lagi melakukan aksi diberbagai daerah. Tawaran tersebut diterima dengan senang hati oleh Uria Mapas, asal janji itu tidak hanya kata-kata belaka.

 

Aksi yang dilakukan oleh Uria Mapas dapat dihentikan oleh Sultan dengan memberikan puterinya sendiri, yaitu Puteri Mayang Sari dari hasil perkawinan dengan isteri yang kedua yaitu Puteri Norhayati.

 

Kemudian kesepakatan damai dilakukan oleh Sultan terhadap Uria Mapas dengan cara pembayaran semua hukum adat orang-orang Ma’anyan yang dinamakan Bayar Adat Bali. Penyerahan Puteri Mayang Sari oleh Sultan dengan syarat bahwa antara Uria Mapas tidak boleh mengawini puterinya karena mereka berdua adalah bersaudara yang satu darah dan keturunan yang telah disyahkan secara adat Ma’anyan.

 

Uria Mapas kemudian hidup bersama dengan Putri Mayang Sari sebagai kakak beradik di Lubuk Kajang Sanggar Wasi Strep Jaar (Desa Jaar sekarang). Uria Mapas sangat menyayangi adik angkat perempuannya yang cantik itu dan selalu menjaganya dengan penuh kasih sayang.

 

Sesudah penyerahan Puteri Mayang Sari oleh Sultan Suriansyah, nama Uria Mapas berubah menjadi ‘Uria Mapas Negara’.

 

Putri Mayang dilahirkan di Banjar pada hari Arba (Rabu) tahun 1585 dan wafat pada hari Arba tahun 1615 di desa Jaar. Konon, Putri Mayang Sari memiliki paras yang cantik dengan rambut yang tebal dan indah yang panjangnya sampai 1 Km.

Sekitar 13 tahun kemudian atau sekitar tahun 1628, Uria Mapas yang dilahirkan pada tahun 1569, wafat. Uria Mapas dimakamkan disamping makam Putri Mayang Sari.

 

(sumber: metro7.co.id, bahasamaanyan.blogspot.com)

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

One Response

  1. Devia Nalini Sheera07/02/2014 at 15:33Reply

    Salam…

    Saya tidak sengaja membuka web ini karena saya melihat artikel saya yang saya tulis dua tahun lalu. Salut dan bangga ketika bisa menemukan web ini..!

    Sejak pertama saya menginjakan kaki di tanah Kalimantan 6 tahun lalu, saya langsung jatuh cinta dengan Dayak. Dan itu tanpa alasan karena saat itu, saya benar-benar buta tentang Dayak. Tapi sejak saya menuliskan artikel itu dan sampai hari ini, saya masih mencari jejak Dayak di Kalimantan.

    Jujur, saya hampir patah arang berusaha mencari Dayak yang sejatinya Dayak. Kearifan lokal yang begitu luhur seakan tenggelam dan perlahan menghilang termakan waktu. Tapi saya masih tidak meyakini itu. Karena saya sangat percaya masih ada Dayak yang tersisa di tanah ini, sungguh sejatinya Dayak yang telah membangun Keluarga Nusantara.

    Jabat Erat,

    Sheera
    devianalinisheera@gmail.com

Leave a Reply