SOETA ONO (Abu)

 Artikel Dayak, Tokoh Dayak

SOETA ONO

Berasal dari Lewu Hante, Telang Siong (Telang Uhang), Paju Epat, Barito Timur, tersebutlah seorang nama SOETA ONO,  seorang pemimpin/kepala suku Siong Paju Epat keturunan Raja Nanserunai terakhir. SOETA ONO lahir di Telang Siong sekitar tahun 1822 dan meninggal pada 27 April 1894, dengan nama pangggilan Abu. Kakek SOETA ONO adalah seorang kepala suku Paju Epat yang sangat berpengaruh yaitu SUTA WANA, yang melahirkan KALIMAH yang kemudian menikah dengan SUMA (seorang tokoh dari Kapuas-Dadahup). Namun SUMA tidak mendapat jabatan di wilayah Paju Epat/Lewu Hante, dari kakeknya SUTA WANA lah SOETA ONO mendapat tongkat jabatan menjadi kepala suku/pimpinan Dayak Maanyan di Paju Epat.

 

“Ik verbleef in het huis van Soeta Ono’s ouders en bragt een gedeelte van den nacht door met een gesprek met deze lieden. De moeder van Soeta Ono is eene dochter van het vroegere hoofd Soeta Wana, de vader is een man van het volk; op deze wijze is de vader van Soeta Ono geen hoofd kunnen worden, omdat hem den adel der geboorte ontbrak. Na Soeta Wana’s dood, is eerst een zijner zoons tot hoofd benoemd, en na diens overlijden werd hij door Soeta Ono opgevolgd. Na een langdurig gesprek met beide oude lieden was mij de ongewone ontwikkeling van den Soeta Ono niet bevreem dend meer. (Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap 1860, hal.186)”

 

Garis Keturunan :

Di lihat dari garis keturunan nya, SOETA ONO berasal dari garis keturunan URIA PITU bersaudara, yaitu :

URIA NAPULANGIT melahirkan, PATINGGI BARIS melahirkan, HALIMAH melahirkan, MANGKU JAYA melahirkan, SUTA WANA melahirkan, KALIMAH melahirkan, SOETA ONO.

 

silsilah_soeta-ono_800px

 

Jabatan :

Dari Kerajaan Belanda SOETA ONO mendapat jabatan sebagai  Kepala Adat/ Kepala Landschap Siong/Padju IV, Patai dan Barito, Kepala District Dusun Timur dengan pemerintahan sendiri (Zelfbestuur). Tetapi oleh karena sesuatu sebab yang tidak mengijinkan maka SOETA ONO hanya meminta District Dusun Timur saja atau dari sungai Paminggir sampai ke sungai Ajuh saja.

Disamping menjadi Kepala District, SOETA ONO juga menerima tugas berperang kesana kemari. Pada tahun 1875 SOETA ONO meminta berhenti dengan hormat sebagai Kepala District dari Kerajaan Belanda.

 

lewu hante 1

 

Riwayat :

Di kampung Kalanis pada 17 Mei 1859 missionaris Klammer, waktu melarikan diri ke Bandjermasin, ditahan 24 jam oleh musuh Belanda yang punya perintah untuk membunuhnya. Kabar itu juga sampai ke Tamiang Layang dan segera Soeta Ono dengan 200 orang Maanyan dengan persenjataan lengkap berangkat untuk membantunya. Setelah mereka tiba, pihak musuh Belanda mundur teratur oleh ketakutan dan Klammer berhasil diselamatkan.

Pada 13 Mei 1861, Soeta Ono membawa 229 prajurit Siong dan 176 prajurit Patai dibawah pimpinan Tamanggong Djaja Kartie bersama 142 serdadu Belanda dibawah pimpinan mayor C.A Schuack melakukan march dari Tamiang Layang menuju ke gunung Tongka.

Pada akhir Desember 1870 datang pasukan Belanda yang kuat, terdiri atas 150 orang serdadu dan 8 orang opsir. Pasukan Belanda ini sudah mendapat tambahan pasukan bantuan yang di datangkan dari Surabaya dan pasukan orang Dayak Maanyan di bawah pimpinan Soeta Ono, mereka melakukan march ke benteng Durrakhman.

 

Tanda Jasa :

  • Pada tahun 1860, mendapat HORLOGE PERAK, dengan besluit rest.Bandjermasin ddo. 27 September 1860 no.2601 a.
  • Pada tahun 1862, mendapat BEDIL PLAATS PERAK.
  • Pada tahun 1863, mendapat MEDALI PERAK, dengan besluit ddo. 27 Januari 1863, no.102.
  • Pada tahun 1870, mendapat BINTANG EMAS BESAR BERSAMA RANTAINYA, dengan besluit ddo. 1 Februari 1870, no.11.
  • Pada tahun 1872, mendapat BINTANG WADJA, dengan besluit ddo. 11 September 1872, no.21.
  • Pada tahun 1874, mendapat BINTANG KALIMANTAN, dengan besluit ddo. 19 Februari 1874, no.13.

 

Santer tersiar berita atau komentar bahwa SOETA ONO adalah seorang pengkhianat bangsa, ditegaskan kembali berdasarkan cerita dari saudara Donny Satria Badowo (keturunan Friedel/Theodoor M.Badowo/Soeta Ono) bahwa SOETA ONO bukanlah pengkhianat, karena pada saat itu belum ada pemerintahan resmi negara Indonesia.

Donny Satria Badowo

 

SOETA ONO adalah seorang pemimpin Suku Dayak Maanyan. Dia adalah pemimpin yang mampu mempersatukan Suku Dayak Maanyan, menghadapi berbagai kesulitan permasalahan akibat tekanan politik dan agresi dari Kesultanan Banjar. Dimana setiap wilayah yang berada dibawah kekuasaan Kesultanan diwajibkan membayar upeti, cukai atau pajak. Jelas, ini sangat memberatkan bagi rakyat kecil. SOETA ONO merupakan manusia yang merasa pihak Belanda jauh lebih baik sebagai tempat berlindung secara ekonomi dan tempat mengenyam pendidikan lewat sekolah-sekolah yang didirikan oleh missionaris untuk memperbaiki generasi Dayak Maanyan.

 

tamak mas 1  tamak mas 2

 

SOETA ONO meninggal pada 27 April 1894 dan dimakamkan secara kremasi menggunakan adat Maanyan Padju Epat. Masyarakat Telang Siong menyebut makamnya dengan sebutan Tamak Mas (tamak=kuburan). Makamnya berada di dalam sebuah rumah kecil yang berada dibelakang Lewu Hante (rumah besar) dan sekarang lokasi ini menjadi tempat objek wisata bersejarah yang ada di desa Telang Siong, kecamatan Padju Epat, Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Tabe.

 

  • Ditulis oleh Deka Gerzon.
  • Sumber dari tulisan-tulisan keluarga Donny Satria Badowo.
  • Tijdschrift voor indische taal-, land- en volkenkunde, uitgegeven door iiet bataviaasgh genoütsohap van kunsten en wetensghappen; J‚ Munnich en E. Netschen, 1860
  • Group Facebook Keluarga Besar Soeta Ono

Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Comments are closed.