Pondok Labu Perkampungan Dayak Benuaq

 Travelling Borneo

Lamin di Desa Pondok Labu - visitingkutaikartanegaracom
Pondok Labu merupakan sebuah perkampungan suku Dayak Benuaq yang terletak sekitar 25 km dari kota Tenggarong. Di desa ni dapat dijumpai lamin (rumah adat) suku Dayak Benuaq yang dinding-dindingnya terbuat dari kulit kayu. Hampir setiap tahun di desa ini dilaksanakan upacara adat suku Dayak Benuaq seperti Ngugu Tahun. Untuk mencapai perkampungan Pondok Labu ditempuh dengan melalui jalan Tenggarong-Kota Bangun kemudian berbelok ke kanan menggunakan jalan yang dibuat oleh perusahaan batubara. Angkutan umum menuju Pondok Labu beroperasi setiap hari di terminal angkutan desa Pasar Tangga Arung.


Dusun Pondok Labu di Kelurahan Loa Ipuh Darat Kecamatan Tenggarong, merupakan salah satu dusun yang masih kental dengan adat dan budaya para suku dayak, khususnya suku Dayak Benuaq. Berbagai ritual adat acap kali digelar oleh warga didusun tersebut, seperti misalnya upacara Ngugu Tahun, adat pernihakan, kematian, serta pemberlakukan hukuman denda kepada warga yang melanggar adat istiadat di dusun tersebut, denda dalam bentuk barang seperti guci, jika tidak ada menggunakan denda berupa uang.

“Tradisi dan adat yang berlaku di dusun ini sudah lama bahkan sejak nenek moyang kami yanga da disini, dan sampai sekarang ritual ritual ada dan aturan adat tetap kami berlakukan dan lestarikan,” kata Sehmair Kepala Adat Dusun Pondok Labu yang didampingi Ketua RT 09 Rusdianto, saat menerima rombongan dari tim Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kukar akhir pekan lalu.

Seperti diketahui bahwa Pondok Labu merupakan sebuah perkampungan suku Dayak Benuaq yang terletak sekitar 25 km dari kota Tenggarong. Di desa itu dapat dijumpai lamin (rumah adat) suku Dayak Benuaq yang dinding-dindingnya terbuat dari kulit kayu. Bahkan rombongan dari Balitbangda Kukar disambut di lamin adat suku dayak tersebut.

Jika keberadaan perkampungan pondok labu menjadi sentra kampung adat yang dicoba untuk terus dilestarikan dengan perhatian serius pemerintah, tentu saja akan menjadi keunikan dan daya tarik para wisatawan luar yang ingin berkunjung ke Kukar dan melihat langsung adat budaya di Pondok Labu Tenggarong.

Namun sayang, kondisi jalan untuk menuju ke dusun tersebut masih tanah liat bahkan masih menggunakan jalan perusahaan tambang, dan yang lebih menyedihkan fasilitas umum berupa listrik dan air bersih masih belum ada.

Warga masyarakat di dusun tersebut masih ditopang oleh listrik genzet bantuan dari pihak perusahaan, yang hanya menyala mulai jam .18.00 Wita sampai 06.00 pagi, siang sampai sore tak ada listrik yang menyala, begitu pula ketersediaan air bersih di kampung tersebut juga tak ada. Warga masih mengandalkan air sungai dan air hujan untuk kebutuhan hidup.

(sumber: poskotakaltim.com, pariwisatakaltim.com)


Author: 

Tabe, Salam Isen Mulang, Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Ka Jubata.

Related Posts

Leave a Reply